Hari itu untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatku
merasa ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan. Namun, jika keinginan
hanya berupa angan, apa daya aku tak punya keberanian untuk memulainya,
terlebih dia merupakan seorang.....
CP#1 : AKU YA, AKU !!
Namaku Rendi Permata, saat ini aku merupakan seorang murid kelas
XII SMA di salah satu sekolah swasta di kota ku. Tak segemilang nama “permata”,
kehidupan sosial, hingga pergaulankupun tidak seberkilau itu. Aku tinggal
bersama saudari perempuanku, karena kedua orangtuaku telah bercerai dan saat
ini mereka telah memiliki kehidupan baru masing-masing.
Hidup berdua dengan saudariku tidaklah cukup jelek, karena
saudariku tersebut bisa dibilang termasuk wanita yang cantik. Memiliki rambut sebahu,
putih, dan tanpa makeup. Kebetulan dia merupakan salah satu siswi berprestasi
dan “bersinar” di sekolahnya. Namun, sayangnya sekolah yang dimaksud sekolah ku
juga. Jabatannya sebagai ketua OSIS, sungguh membuatku gila karena ia begitu
tegas, tanpa pandang bulu termasuk kepada diriku. Ya walau begitu, aku tetap
memanggilnya Fanny..
Seperti yang aku bilang, aku murid dengan kemampuan otak
biasa-biasa saja, dan bergaul normal-normal saja. Pada dasarnya sebenarnya aku
bisa menguasai semua mata pelajar, walau terkadang harus meminjam buku catatan
teman sekelasku, karena aku sering bolos saat jam belajar terutama pelajaran matematika.
Membayangkan deretan angka yang membingungkan, serta
simbol-simbol aneh hingga tata cara penghitungannya sungguh membuatku muak.
Semenjak kelas I sampai dengan sekarang, aku tidak pernah berhasil meraih nilai
standar, dimana aku harus selalu mengikuti sesi perbaikan nilai. Akan tetapi,
hasilnya tetap sama saja. Hal itulah yang membuatku sering membolos ketika mata pelajaran
matematika.
Setiap Senin, selepas upacara bendera aku tidak lantas
kembali ke kelas seperti murid pada umumnya. Namun, aku menuju ke tempat yang
ku sebut ‘nirwana’. Yups, itu merupakan balkon gedung sekolahku yang berada di
lantai tiga. Menghirup udara pagi sembari mengunyah permen karet, merupakan
surga bagiku dibandingkan masuk ke kelas disiksa dengan angka-angka, hingga
guru yang tak berpri-kemuridan itu seperti di neraka.
Berbicara soal bantuan, aku memiliki dua sahabat mereka itu Biru dan Indra. Walau terkadang
mereka menyebalkan, namun mereka merupakan team suport dan penyerang saat aku mendapatkan
masalah. Bahkan bisa menjadi malaikat penolong ketika waktu ulangan matematika,
namun mereka seolah menjadi malaikat pencabut nyawa ketika jam istirahat
datang.
-001-
CP#2 : MALAIKAT ATAU IBLIS
Ketidak sukaanku akan mata pelajar matematika, sering
membawaku kepada masalah-masalah dengan guru. Bukannya tidak pernah bebruat
onar, aku pernah ketahuan merokok di kamar mandi wanita, tidur di kelas,
menjahili mobil guru, hingga kabur dari sekolah saat jam belajar berlangsung.
Namun, dari itu semua tidak ada hukuman yang separah diberikan guru matematika
ku yakni, Pak Ramly.
Dirinya sudah menjadi guru matematikaku selama tiga tahun,
mungkin ini yang dinamakan hukum karma murid brandal.Penampilan seperti kakek
setengah abad, memakai cincin-cincin besar di setiap jari lengannya, belum lagi
nafasnya yang bau rokok, membuatku tambah tidak ingin menyentuh pelajaran
matematika. Jika dipikirkan apa fungsinya mempelajari ilmu, yang tidak akan kau
pakai di masa depan. Ya, karena memang dari hasil observasiku ke beberapa
tetanggaku yang sudah kerja, tidak ada bos mereka yang menanyakan rumus
segitiga sama kaki, hingga pembagian aljabar.
Hari itu, aku mendapat panggilan dari pengeras suara di
kelas, untuk segera menghadap ke ruangan Pak Ramly tersebut. Aku sudah bisa
membayangkan bagimana ekspersi marahnya, serta batu cincinnya yang siap
membombardir kepala ku, karena dia tahu bahwa semenjak dua minggu kemarin aku
hanya masuk dua kali di kelasnya tanpa mengumpulkan tugas.
Sebelum keadaannya emosinya bertambah parah, aku berpikir
untuk segera menemuinya. Lorong ruang guru yang sempit, seperti menjadi
jembatan sirotulmustaqim, dan ruangannya merupakan tempat penyiksaan yang
disiapkan khusus bagi para murid pendosa sepertiku.
“Selamat siang, permisi Pak Ramly,” ucapku sambil membuka
pintu ruangannya.
“Harus bagaimana saya mendidik kamu, Rendi?,” sahutnya.
“Anu pak..,”
“Kenapa anu mu?,”
“eh bukan, maksudnya ada apa bapak memanggil saya?,”
“Jangan pasang wajah tanpa dosa seperti itu. Kamu pikir saya
sudah pikun ya, bisa lupa berapa kali kamu absen di kelas saya,?”
“Hehehe...,”
Saat itu aku sudah berpikir, “ya tuhan secepat inikah
perjalanan hidupku, bahkan aku belum mencicipi rasanya kelulusan SMA,”. Namun,
tiba-tiba Pak Ramly berdiri dan berjalan kerah lemari berkasnya, sembari
mencari berkas-berkas.
“Itu, kamu buka berkasnya,”
“ini apa pak?,”
“Ya buka bahlul,”
Bukan main, ternyata isi dari berkas itu semua merupakan
hasil ulangan pelajaran matematika ku semenjak kelas I hingga kelas III. Dalam
pikiranku apa ini cara Pak Ramly mempermalukanku, agar aku berubah lebih giat. Akan
tetapi, rasa benciku kepada pelajaran tersebut sekiranya sudah tidak bisa
dikalahkan dengan tumpukan selembaran nilai tersebut.
“Rendi, bagaimana bapak harus mengajarkamu?,” tanya Pak
Ramly.
Aku terdiam, bukan karena aku takut melainkan kaget. Ku kira
kepalaku akan bocor kali ini, karena dibombardir oleh batu cincinya, namun
beliau hanya bertanya demikian.
“Ya sewajarnya seperti guru saja pak,” jawab ku.
“Apa bapak sudah seperti guru bagimu?,”
“Ya kan Pak Ramly memang seorang guru, lantas kenapa bapak tanyakan
hal itu lagi kepada saya,?”
“Rendi, tugas sebagai guru bukanlah hanya mengajar, namun
juga mendidik. Bagimana bisa bapak dengan umur yang sudah uzur ini, membiarkan
anak bodoh yang bapak ajar selama tiga tahun tidak pernah lulus satu kalipun
dalam ulangan matematika. Untuk seorang guru itu adalah dosa besar, jika
membiarkan ada murid bernasib sama nantinya sepertimu,”
“jadi maksud bapak saya anak bodoh?,”
“Kamu tidak bodoh, hanya saja pengecut,”
Kesal akan perkataan Pak Ramly tersebut, emosiku terpancing
aku menggebrak meja sembari berkata.
“Saya tidak bodoh, hanya saja saya tidak ingin membuang
waktu untuk pelajaran yang tidak terpakai ilmunya,”
Sedetik kemudian aku sadar, bahwa aku telah kehilangan
kendali hingga berani berucap seperti itu. Aku melihat tangan pak Ramly
mengambil map berwana merah, ku kira dia ingin menampar wajahku menggunakan
itu. Betapa terkejutnya aku bahwa ia menyodorkan semua hasil rapor nilai mata
pelajaranku yang lain.
“Lihat kamu bisa menguasai mata pelajaran lainnya, bahkan
beberapa diantaranya mencapai nilai hampir sempurna,” cetus Pak Ramly.
Mendengar ucapannya diriku hanya bisa terdiam, dan
menundukan wajahku seperti siswa pada umumnya yang dimarahi para gurunya ketika
melakukan kesalahan.
“Rendi, bapak tau kamu tidak bodoh. Kamu anak yang cerdas ya
walau tidak pintar-pintar banget. Tapi, masalahmu dengan matematika ini adalah,
rasa malas,” ungkap Pak Ramly.
“Entahlah pak,”
“Maka dari itu, bapak sudah berkomunikasi dengan wakil
kepala sekolah bidang akademik. Untuk mendatangkan guru baru guna menggantikan
bapak mengajar matematika di kelasmu nanti,”
“Maksud bapak?.”
“Ya saya pensiun bodoh, puluhan tahun mengabdi sebagai guru
lepas. Rupanya sudah saatnya saya menikmati hidup, tanpa dikejar-kejar rasa
penasaran kapan diangkat menjadi pegawai negeri. Terlebih dengan usia ku
sekarang ini tenagaku berkurang jauh, apalagi jika harus bertemu dengan murid
sepertimu,”
“hmmm.. ”
“Bapak berharap semoga guru baru ini, mampu memberikan
motivasi kepada mu agar lebih baik dalam belajar matematika,”
“Baik pak, terimakasih. Tapi, sebelumnya saya ingin
mengucapkan sesuatu,”
“Apa?,”
“Maafkan saya tadi memukul meja bapak, kerana saya tidak terima
dibilang sebagai orang bodoh,”
“Pada dasarnya kau memang sudah bodoh, jika tidak bodoh kau
tidak ku panggil kesini. Cepat kembali ke kelasmu,” tukas Pak Ramly.
Lelah mendengarkan obrolan serius seperti tadi, aku
memutuskan untuk tidak kembali ke kelas.Namun, bersantai di ‘nirwana’ sembari
menunggu jam pulang datang. Akan tetapi, pikiranku terganjal dengan cuapan Pak
Ramly tadi, bahwa akan ada guru baru pengganti dirinya.
Aku kira kedepannya sama saja, siapapun yang mengajar. Aku
akan tetap seperti ini.
-002-
(belum udahan ya ^.^ (Mika))
PERTAMAX
BalasHapusThanks kak..
HapusUpdate lagi dong lanjutannya. Lumayan penasaran juga..
BalasHapusWah terimakasih kak, terus ikuti yaa lanjutan ceritanya. (>.<)7
BalasHapusLanjutannya mana?
BalasHapusHaii, kak ayu. Terimakasih telah membaca hihi. Setiap dua hari sekali diupdatenya.. Jadi ikuti (follow) blog, n google akun ini. Buat notifnya hhi. Terimakasih (>.<)7
Hapusdaebst kak, entah siapa lu yg nulis tapi tolong updatenya yg lancar. Lumayan bikin penasaran juga ceritanya. keep try.
BalasHapuswaah terimakasih kak, yaa penasaran kan sama Rendi atau sama Fanny-nya ni? hihi. terimakasih apresiasinya. jangan lupa follow dan standby in this blog ya..
Hapus