Java

JavaScript

Selasa, 07 Agustus 2018

Cerpen "Cinta Itu Gila, bukan Logika" 01-02

Hari itu untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatku merasa ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan. Namun, jika keinginan hanya berupa angan, apa daya aku tak punya keberanian untuk memulainya, terlebih dia merupakan seorang.....

CP#1 : AKU YA, AKU !!

Namaku Rendi Permata, saat ini aku merupakan seorang murid kelas XII SMA di salah satu sekolah swasta di kota ku. Tak segemilang nama “permata”, kehidupan sosial, hingga pergaulankupun tidak seberkilau itu. Aku tinggal bersama saudari perempuanku, karena kedua orangtuaku telah bercerai dan saat ini mereka telah memiliki kehidupan baru masing-masing.

Hidup berdua dengan saudariku tidaklah cukup jelek, karena saudariku tersebut bisa dibilang termasuk wanita yang cantik. Memiliki rambut sebahu, putih, dan tanpa makeup. Kebetulan dia merupakan salah satu siswi berprestasi dan “bersinar” di sekolahnya. Namun, sayangnya sekolah yang dimaksud sekolah ku juga. Jabatannya sebagai ketua OSIS, sungguh membuatku gila karena ia begitu tegas, tanpa pandang bulu termasuk kepada diriku. Ya walau begitu, aku tetap memanggilnya Fanny..

Seperti yang aku bilang, aku murid dengan kemampuan otak biasa-biasa saja, dan bergaul normal-normal saja. Pada dasarnya sebenarnya aku bisa menguasai semua mata pelajar, walau terkadang harus meminjam buku catatan teman sekelasku, karena aku sering bolos saat jam belajar terutama pelajaran matematika.

Membayangkan deretan angka yang membingungkan, serta simbol-simbol aneh hingga tata cara penghitungannya sungguh membuatku muak. Semenjak kelas I sampai dengan sekarang, aku tidak pernah berhasil meraih nilai standar, dimana aku harus selalu mengikuti sesi perbaikan nilai. Akan tetapi, hasilnya tetap sama saja. Hal itulah yang membuatku  sering membolos ketika mata pelajaran matematika.

Setiap Senin, selepas upacara bendera aku tidak lantas kembali ke kelas seperti murid pada umumnya. Namun, aku menuju ke tempat yang ku sebut ‘nirwana’. Yups, itu merupakan balkon gedung sekolahku yang berada di lantai tiga. Menghirup udara pagi sembari mengunyah permen karet, merupakan surga bagiku dibandingkan masuk ke kelas disiksa dengan angka-angka, hingga guru yang tak berpri-kemuridan itu seperti di neraka.

Berbicara soal bantuan, aku memiliki dua sahabat  mereka itu Biru dan Indra. Walau terkadang mereka menyebalkan, namun mereka merupakan team suport dan penyerang saat aku mendapatkan masalah. Bahkan bisa menjadi malaikat penolong ketika waktu ulangan matematika, namun mereka seolah menjadi malaikat pencabut nyawa ketika jam istirahat datang.
                                                                               
-001-



CP#2 : MALAIKAT ATAU IBLIS

Ketidak sukaanku akan mata pelajar matematika, sering membawaku kepada masalah-masalah dengan guru. Bukannya tidak pernah bebruat onar, aku pernah ketahuan merokok di kamar mandi wanita, tidur di kelas, menjahili mobil guru, hingga kabur dari sekolah saat jam belajar berlangsung. Namun, dari itu semua tidak ada hukuman yang separah diberikan guru matematika ku yakni, Pak Ramly.

Dirinya sudah menjadi guru matematikaku selama tiga tahun, mungkin ini yang dinamakan hukum karma murid brandal.Penampilan seperti kakek setengah abad, memakai cincin-cincin besar di setiap jari lengannya, belum lagi nafasnya yang bau rokok, membuatku tambah tidak ingin menyentuh pelajaran matematika. Jika dipikirkan apa fungsinya mempelajari ilmu, yang tidak akan kau pakai di masa depan. Ya, karena memang dari hasil observasiku ke beberapa tetanggaku yang sudah kerja, tidak ada bos mereka yang menanyakan rumus segitiga sama kaki, hingga pembagian aljabar.

Hari itu, aku mendapat panggilan dari pengeras suara di kelas, untuk segera menghadap ke ruangan Pak Ramly tersebut. Aku sudah bisa membayangkan bagimana ekspersi marahnya, serta batu cincinnya yang siap membombardir kepala ku, karena dia tahu bahwa semenjak dua minggu kemarin aku hanya masuk dua kali di kelasnya tanpa mengumpulkan tugas.

Sebelum keadaannya emosinya bertambah parah, aku berpikir untuk segera menemuinya. Lorong ruang guru yang sempit, seperti menjadi jembatan sirotulmustaqim, dan ruangannya merupakan tempat penyiksaan yang disiapkan khusus bagi para murid pendosa sepertiku.

“Selamat siang, permisi Pak Ramly,” ucapku sambil membuka pintu ruangannya.

“Harus bagaimana saya mendidik kamu, Rendi?,” sahutnya.

“Anu pak..,”

“Kenapa anu mu?,”

“eh bukan, maksudnya ada apa bapak memanggil saya?,”

“Jangan pasang wajah tanpa dosa seperti itu. Kamu pikir saya sudah pikun ya, bisa lupa berapa kali kamu absen di kelas saya,?”

“Hehehe...,”

Saat itu aku sudah berpikir, “ya tuhan secepat inikah perjalanan hidupku, bahkan aku belum mencicipi rasanya kelulusan SMA,”. Namun, tiba-tiba Pak Ramly berdiri dan berjalan kerah lemari berkasnya, sembari mencari berkas-berkas.

“Itu, kamu buka berkasnya,”

“ini apa pak?,”

“Ya buka bahlul,”

Bukan main, ternyata isi dari berkas itu semua merupakan hasil ulangan pelajaran matematika ku semenjak kelas I hingga kelas III. Dalam pikiranku apa ini cara Pak Ramly mempermalukanku, agar aku berubah lebih giat. Akan tetapi, rasa benciku kepada pelajaran tersebut sekiranya sudah tidak bisa dikalahkan dengan tumpukan selembaran nilai tersebut.

“Rendi, bagaimana bapak harus mengajarkamu?,” tanya Pak Ramly.
Aku terdiam, bukan karena aku takut melainkan kaget. Ku kira kepalaku akan bocor kali ini, karena dibombardir oleh batu cincinya, namun beliau hanya bertanya demikian.

“Ya sewajarnya seperti guru saja pak,” jawab ku.

“Apa bapak sudah seperti guru bagimu?,”

“Ya kan Pak Ramly memang seorang guru, lantas kenapa bapak tanyakan hal itu lagi kepada saya,?”

“Rendi, tugas sebagai guru bukanlah hanya mengajar, namun juga mendidik. Bagimana bisa bapak dengan umur yang sudah uzur ini, membiarkan anak bodoh yang bapak ajar selama tiga tahun tidak pernah lulus satu kalipun dalam ulangan matematika. Untuk seorang guru itu adalah dosa besar, jika membiarkan ada murid bernasib sama nantinya sepertimu,”

“jadi maksud bapak saya anak bodoh?,”

“Kamu tidak bodoh, hanya saja pengecut,”

Kesal akan perkataan Pak Ramly tersebut, emosiku terpancing aku menggebrak meja sembari berkata.

“Saya tidak bodoh, hanya saja saya tidak ingin membuang waktu untuk pelajaran yang tidak terpakai ilmunya,”

Sedetik kemudian aku sadar, bahwa aku telah kehilangan kendali hingga berani berucap seperti itu. Aku melihat tangan pak Ramly mengambil map berwana merah, ku kira dia ingin menampar wajahku menggunakan itu. Betapa terkejutnya aku bahwa ia menyodorkan semua hasil rapor nilai mata pelajaranku yang lain.

“Lihat kamu bisa menguasai mata pelajaran lainnya, bahkan beberapa diantaranya mencapai nilai hampir sempurna,” cetus Pak Ramly.

Mendengar ucapannya diriku hanya bisa terdiam, dan menundukan wajahku seperti siswa pada umumnya yang dimarahi para gurunya ketika melakukan kesalahan.

“Rendi, bapak tau kamu tidak bodoh. Kamu anak yang cerdas ya walau tidak pintar-pintar banget. Tapi, masalahmu dengan matematika ini adalah, rasa malas,” ungkap Pak Ramly.

“Entahlah pak,”

“Maka dari itu, bapak sudah berkomunikasi dengan wakil kepala sekolah bidang akademik. Untuk mendatangkan guru baru guna menggantikan bapak mengajar matematika di kelasmu nanti,”

“Maksud bapak?.”

“Ya saya pensiun bodoh, puluhan tahun mengabdi sebagai guru lepas. Rupanya sudah saatnya saya menikmati hidup, tanpa dikejar-kejar rasa penasaran kapan diangkat menjadi pegawai negeri. Terlebih dengan usia ku sekarang ini tenagaku berkurang jauh, apalagi jika harus bertemu dengan murid sepertimu,”

“hmmm.. ”

“Bapak berharap semoga guru baru ini, mampu memberikan motivasi kepada mu agar lebih baik dalam belajar matematika,”

“Baik pak, terimakasih. Tapi, sebelumnya saya ingin mengucapkan sesuatu,”

“Apa?,”

“Maafkan saya tadi memukul meja bapak, kerana saya tidak terima dibilang sebagai orang bodoh,”

“Pada dasarnya kau memang sudah bodoh, jika tidak bodoh kau tidak ku panggil kesini. Cepat kembali ke kelasmu,” tukas Pak Ramly.

Lelah mendengarkan obrolan serius seperti tadi, aku memutuskan untuk tidak kembali ke kelas.Namun, bersantai di ‘nirwana’ sembari menunggu jam pulang datang. Akan tetapi, pikiranku terganjal dengan cuapan Pak Ramly tadi, bahwa akan ada guru baru pengganti dirinya.
Aku kira kedepannya sama saja, siapapun yang mengajar. Aku akan tetap seperti ini.


                                                                          -002-

(belum udahan ya ^.^ (Mika))

8 komentar:

  1. Update lagi dong lanjutannya. Lumayan penasaran juga..

    BalasHapus
  2. Wah terimakasih kak, terus ikuti yaa lanjutan ceritanya. (>.<)7

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Haii, kak ayu. Terimakasih telah membaca hihi. Setiap dua hari sekali diupdatenya.. Jadi ikuti (follow) blog, n google akun ini. Buat notifnya hhi. Terimakasih (>.<)7

      Hapus
  4. daebst kak, entah siapa lu yg nulis tapi tolong updatenya yg lancar. Lumayan bikin penasaran juga ceritanya. keep try.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah terimakasih kak, yaa penasaran kan sama Rendi atau sama Fanny-nya ni? hihi. terimakasih apresiasinya. jangan lupa follow dan standby in this blog ya..

      Hapus