Java

JavaScript

Rabu, 08 Agustus 2018

"Cinta itu Gila, bukan Logika" CP-03


#ISTIRAHAT DI RUMAH, TIDAK APA.

Tinggal hanya berdua dengan saudarimu yang tergila-gila akan kedisiplinan, tidaklah terlalu buruk. Tapi, bersekolah selama lima hari, bukankah cukup menyita tenagaku. Menjadi remaja tanggung seperti ini, membuat akhir pekanku seharusnya menjadi surga bermalas-malasan. Namun, adanya Fanny seolah dia menjadi 'motherland', dan aku hanya menjadi pribumi.

Tidak seperti akhir pekan remaja laki-laki seusiaku yang bisa bangun siang hari. Fanny selalu membangunkanku tepat pukul 07.00, bukannya karena rasa perhatian saudari kepada saudaranya. Akan tetapi dia melakukan itu, untuk menyuruhku melakukan perkerjaan kewanita-wanitaan di rumah.
Sejujurnya apa yang dilakukan Fanny tidaklah salah, lantaran wajar karena kami hanya tinggal berdua saja. Orangtuanya hampir sama dengan diriku, karena penugasan negara menjadi tentara, ibu dan ayahnya kembali setiap enam bulan sekali. Aku berani bertaruh, jika sifatnya yang seperti itu, hasil tempaan kedua orangtuanya tersebut.

Tapi, Sabtu pagi itu ada yang berbeda dengan Fanny. Aku bisa terbangun siang hari, pada awalnnya memang aku merasa sangat senang karena bisa bangun tanpa paksaannya. Berniat untuk menyegarkan diri, aku tidak melihat adanya kegiatan yang dilakukan dia, lantaran keadaan rumah masih sama seperti sore hari kemarin. Cemas terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan masuk ke kamarnya. Walau kami telah tiga tahun tinggal bersama, tetap saja ada peraturan antara laki-laki dan perempuan yang diterapkan. Jika tidak seperti itu, mungkin nyawaku bisa terancam, karena saudariku itu merupaan atlet karate sabuk hitam di sekolah.

Karena rasa penasaran, aku memutuskan memeriksa ke kamarnya. Ya tentu aku mengetuk pintunya terlebih dahulu. Walau begitu, tetap saja aku gugup untuk masuk ke kamar seorang perempuan. Ya, tapi tidak salah juga saudara laki-laki mencemaskan saudarinya.

"Hei, Fan sudah bangun?," tanyaku sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Fan?,"..

Beberapakali aku mengetuk namun tidak ada jawaban, rasa penasaranku menjadi semakin tinggi. Ku putuskan untuk membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci. Gelapnya ruangan kamarnya, pengelihatanku menjadi samar. Mataku terpana, ketika menyalahkan lampu dan melihat Fanny yang tertidur di kasurnya menghadap ke arah jendela, hanya menggunakan pakaian dalam. Dadaku terasa berdebar, sedetik aku terpaku melihatnya. Sedetik kemudian aku langsung mematikan kembali lampu kamarnya, dan segera keluar kamarnya sebelum dia terbangun dan sadar aku melihatnya dengan seperti itu.

Beberapa jam setelah kejadian itu, aku mendengar suara pintu kamar fanny terbuka. Saat itu aku sedang menonton tv, dan tepat berada di depan kamarnya. Mataku langsung teralihkan ke arah pintu tersebut, dan melihatnya sudah lebih tertutup dibandingkan tadi pagi. Jarang sekali aku melihatnya tidak karuan seperti itu, rambut yang berantakan, wajahnya seperti lelah, dan matanya seperti tidak bersemangat.

"Hoaam, jam berapa sih?," tanyanya.

"Dih baru bangun, jam 11," sahutku..

"Lu dah makan?,"..

"Gw td beli ketoprak di depan, itu di meja yang punya lu,"

"Weh weh weh, udah dikirim duit lu yak, sama bokap nyokap lu?,"

"Halah, sisa receh ini juga, lu udah dikirimin?,"

"Belum juga, padahal hari ini ada yang mau gue beli,"

"Beli apaan? Mau pake yang gue dulu?,"

"Nanti deh, sore sekalian anter ya. Minjem duitnya, orangnya juga haha,"

"Siapa?,"

"Gue lah,"

"Yang nanyaaaa,"

"B*bi !!,"

Rasanya dia baik-baik saja, mungkin karena kelelahan tugas disekolah. Ya wajar dia seorang ketua Osis, pastinga punya beban tanggung jawab yang banyak. Setelah obrolan tadi, dia langsung mengambil makanan untuk sarapan, dan duduk di sofa bersamaku. Namun, entah kenapa aku sedikit terasa canggung, mungkin karena kejadian tadi pagi aku masih malu. Aku bertanya bagaimana jika dia sampai tahu, kalau aku melihatnya setengah bugil di kamarnya.

"Kenapa lu melamun?," tanya Fanny.

"Eh,..apan?," jawabku.

"Mikir jorok lu yak !!,"..

"Naon siiihh..,"

"Hahaha, santai lah. Eh, gue denger Pak Ramly berhenti ya,"

"Eh masa sih? Gue baru tau, kenapa emang?,"

"Gue juga belum tau alasannya, tapi ya lebih bagus gitu lah. Kasihan dia guru baik, tapi sampai tua gitu belum diangkat jadi pegawai negeri,"

"Baik dari mananya, lu belum pernahkan ngerasain cincinnya mendarat di kepala lu,"

"Ya itu sih salah lu, dah tau guru begitu. Pake acara bolos,"

"Ya..ya..ya,"

"Eh, lu beneran ada uang? Gue pake dulu yak, tapi anterin gue beli sesuatu nanti sore. Lu gak kemana mana kan?,"

"Iya gak kemana mana,"

"Iyalah, jombol mah bebas yak haha,"

"Bodoamat,"

Walau hanya tinggal berdua, rasanya kami saling terkait satu sama lain. Terlepas dari nasib keluarga, ataupun ikatan saudara, ya tetap saja wanita itu menyebalkan.

#kira kira Fanny mau beli apa ya, apa bisa dibilang malam mingguan? Tetap tunggu yaa lanjutannya. ^.^ (Mika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar