Java

JavaScript

Kamis, 09 Agustus 2018

Cerpen "Cinta itu Gila, bukan Logika" CP#04

CP#04
#APA ITU SISI FENIMINNYA?

Walau tinggal satu atap, tidak berarti aku dan Fanny melakukan segalanya bersamaan. Jarang sekali kami berdua mengahabiskan waktu bersama. Mungkin karena aku kurang suka berpergiaan, dan sebaliknya dia dan teman-temannya selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Adapun jika ingin, Indra dan Biru terkadang mengunjungi rumahku, untuk mengahibskan waktu atau menghabiskan makanan tepatnya.
Sore hari itu setelah kejadian di kamarnya saat pagi hari, kami aku memutuskan untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan di kota. Entah apa yang ia ingin beli, tapi setahuku dia bukan type cewek yang suka menghabiskan waktu seperti itu. Namun, karena memang tidak ada rencana bersama yang lain, dan terlanjut berjanji meminjamkan uang dan mengantarnya maka kamipun pergi.

Bagiku pergi ke mall atau pusat perbelanjaan sendiri, merupakan kegiatan yang membosankan karena terlalu mainstream. Dimana kita hanya disuguhkan dengan etalase benda-benda serta keramaian orang yang tidak jelas. Tapi, sesekali mengunjungi tempat ini mungkin bisa mengurangi rasa bosanku.

Sesampainya di mall, aku hanya bisa mengikuti Fanny lebih tepatnya seperti ajudannya, karena aku tidak tahu mana toko ataupun barang yang dia ingin beli. Setelah beberapa waktu keluar masuk toko, namun tidak ada yang dia beli aku mulai kesal. Bagaimana bisa wanita berbelanja hingga hampir memutari setengah toko yang berada di mall.

“Lu nyari apa sih?,” tanyaku..

“Ih gak ada barangnya yang gue cari, sabar atuh,” jawabnya.
“Ya nyari benda apa?.”

“hmmm..inyari itu,”

“Itu apaa?,”

“Baju dress hitam, hehe,” ungkapnya sambil sedikit tersipu.

Setahuku, dia tidak pernah memakai pakaian yang terlihat seperti cewek. Bahkan saat ini saja dia memakai celana jeans, kaos, dan spatu kets. Entahlah, apa yang dia rencanakan mungkin ia memiliki acara khusus yang harus memakai baju khusus seperti itu.

“Hahaha, gue kira lu gak bisa pake pakaian kaya gitu,” ucapku.

“Ah, udah  ih bantuin cari aja sih,” katanya.

“Kita nyari udah hampir dua jam, udah kaya tawaf di mekah tau gak lu muter-muter. Masuk tokok ini keluar tokok itu,”

“ya habis gimana modelnya gak ada yang cocok,”

“Gak ada yang cocok, atau lu gak tau modelnya kaya gimana? Haha,”

“iihh ngeselin lu ah,” tandasnya sembari memukul pelan kearah ku.

Tidak beberapa lama, akhirnya kami masuk ke salah satu toko yang memang kelihatannya menjual baju-baju gaun seperti itu. Nampak kelihatan mewah dan mahal busana yang dijangkan, aku khwatir karena Fanny meminjam uangku untuk berbelanja, jumlahnya tidak akan cukup. Terlebih, aku baru akan mendapat kiriman uang bulanan dua minggu lagi.

Sesaat aku memalingkan perhatianku ke ponselku, Fanni memanggil sembari munjukan salah satu baju yang sepertinya dia inginkan. Nampaknya, sebuah baju terusan berwarna hitam, dengan model elegan  namun, dengan panjang diatas lututnya. Dia menyuruhku untuk menunggu, selagi dia mencoba bajunya di ruang pas. Aku membayangkan jika kelak aku memiliki isteri, lebih baik aku memberinya uang dan membiarkan berbelanja di mall sendiri, ketibang harus menemaninya seperti ini.

“Heh, sini deh..,” panggil Fanny sambil melambaikan tangannya dari ruang ganti.
“Udah?,” jawabku.

“sini dulu liat ih,”

“yakali fan gue masuk ke sana, lu yang keluar atuh,”

“hmm bentar..”

Dan ketika dia keluar dari tirai ruang ganti, aku melihat sosok Fanny yang aku kira tidak pernah melihatnya. Rambutnya yang diurai, sembali mengyunakan baju hitam tadi, mengalihkan pandanganku sesaat. Berbeda dengan selama ini yang terlihat acuh dan urakan, tapi saat itu dia terlihat seperti wanita yang memang benar-benar ingin tampil sempurna.

“Gimana menurut lu? Bagus gak?,” tanyanya.

“Eh, bagus kok lu pantes sih pake kaya gitu, haha,” jawabku.

“Maksud lu? Kurang ajar gini-gini juga gue cewek ya wajarlah, cantik ya yak, haha,”..

“Ya lumayan lah, buat ukuran urakan lu mah,”..

“Eh, yang bener atuh,”

“iya bagus kok, udah cepetan bungkus lah,”

“okeeh, tunggu ganti lagi yak,”

Setelah beberapa saat dia mengganti pakaiannya, kami langsung menuju kasir untuk membayar baju tersebut. Tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.

“Bayarin dulu yak, tar gue ganti pas dapat kiriman uang,” bisiknya.

“emang berapa?,” balasku.

“Rp.350 ribu,”.

“hmmm..(Menelan ludah)”

Dengan perasaan sedikit cemas, aku membayarkan bajunya yang seharusnya uang tersebut untuk jatah makan selama satu minggu kedepan. Namun, karena sudah berjanji kepadanya tidak mungkin aku membatalkannya, terlebih sepertinya dia memiliki sebuah rencana besar dengan baju itu.

Tidak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan, dan melihat beberapa toko . Karena sudah tidak ada yang bisa dibeli dan cukup lama berada di mall tersbeut, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah, aku lihat Fanni masih sibuk mencocokan baju yang dibelinya tadi, dengan beberapa aksesoris serta sepatu. Aku bertaruh dia akan menghadiri acara resmi, ataupun pesta semacam itu, karena tampilannya begitu elegan tapi formal. Rasa penasaran ingin membuatku bertanya kepadanya, tapi aku tidak ingin mengganggu privasinya. Jadi kuputuskan untuk munggunya saja hingga dia yang menceritakannya sendiri.

#Wah ternyata Fanny membeli baju seperti itu, kira-kira untuk apa ya. Apakah ada rencana besar, atau kejutan. Yuk kita tunggu kejutannya.. ^.^ (Mika).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar