CP#04
#APA ITU SISI FENIMINNYA?
Walau tinggal satu atap, tidak berarti aku dan Fanny
melakukan segalanya bersamaan. Jarang sekali kami berdua mengahabiskan waktu
bersama. Mungkin karena aku kurang suka berpergiaan, dan sebaliknya dia dan
teman-temannya selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Adapun jika ingin, Indra
dan Biru terkadang mengunjungi rumahku, untuk mengahibskan waktu atau
menghabiskan makanan tepatnya.
Sore hari itu setelah kejadian di kamarnya saat pagi hari,
kami aku memutuskan untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan di kota.
Entah apa yang ia ingin beli, tapi setahuku dia bukan type cewek yang suka
menghabiskan waktu seperti itu. Namun, karena memang tidak ada rencana bersama
yang lain, dan terlanjut berjanji meminjamkan uang dan mengantarnya maka
kamipun pergi.
Bagiku pergi ke mall atau pusat perbelanjaan sendiri,
merupakan kegiatan yang membosankan karena terlalu mainstream. Dimana kita
hanya disuguhkan dengan etalase benda-benda serta keramaian orang yang tidak
jelas. Tapi, sesekali mengunjungi tempat ini mungkin bisa mengurangi rasa
bosanku.
Sesampainya di mall, aku hanya bisa mengikuti Fanny lebih
tepatnya seperti ajudannya, karena aku tidak tahu mana toko ataupun barang yang
dia ingin beli. Setelah beberapa waktu keluar masuk toko, namun tidak ada yang
dia beli aku mulai kesal. Bagaimana bisa wanita berbelanja hingga hampir
memutari setengah toko yang berada di mall.
“Lu nyari apa sih?,” tanyaku..
“Ih gak ada barangnya yang gue cari, sabar atuh,” jawabnya.
“Ya nyari benda apa?.”
“hmmm..inyari itu,”
“Itu apaa?,”
“Baju dress hitam, hehe,” ungkapnya sambil sedikit tersipu.
Setahuku, dia tidak pernah memakai pakaian yang terlihat
seperti cewek. Bahkan saat ini saja dia memakai celana jeans, kaos, dan spatu
kets. Entahlah, apa yang dia rencanakan mungkin ia memiliki acara khusus yang
harus memakai baju khusus seperti itu.
“Hahaha, gue kira lu gak bisa pake pakaian kaya gitu,”
ucapku.
“Ah, udah ih bantuin
cari aja sih,” katanya.
“Kita nyari udah hampir dua jam, udah kaya tawaf di mekah
tau gak lu muter-muter. Masuk tokok ini keluar tokok itu,”
“ya habis gimana modelnya gak ada yang cocok,”
“Gak ada yang cocok, atau lu gak tau modelnya kaya gimana? Haha,”
“iihh ngeselin lu ah,” tandasnya sembari memukul pelan
kearah ku.
Tidak beberapa lama, akhirnya kami masuk ke salah satu toko
yang memang kelihatannya menjual baju-baju gaun seperti itu. Nampak kelihatan
mewah dan mahal busana yang dijangkan, aku khwatir karena Fanny meminjam uangku
untuk berbelanja, jumlahnya tidak akan cukup. Terlebih, aku baru akan mendapat kiriman
uang bulanan dua minggu lagi.
Sesaat aku memalingkan perhatianku ke ponselku, Fanni
memanggil sembari munjukan salah satu baju yang sepertinya dia inginkan.
Nampaknya, sebuah baju terusan berwarna hitam, dengan model elegan namun, dengan panjang diatas lututnya. Dia menyuruhku
untuk menunggu, selagi dia mencoba bajunya di ruang pas. Aku membayangkan jika
kelak aku memiliki isteri, lebih baik aku memberinya uang dan membiarkan
berbelanja di mall sendiri, ketibang harus menemaninya seperti ini.
“Heh, sini deh..,” panggil Fanny sambil melambaikan
tangannya dari ruang ganti.
“Udah?,” jawabku.
“sini dulu liat ih,”
“yakali fan gue masuk ke sana, lu yang keluar atuh,”
“hmm bentar..”
Dan ketika dia keluar dari tirai ruang ganti, aku melihat sosok
Fanny yang aku kira tidak pernah melihatnya. Rambutnya yang diurai, sembali
mengyunakan baju hitam tadi, mengalihkan pandanganku sesaat. Berbeda dengan
selama ini yang terlihat acuh dan urakan, tapi saat itu dia terlihat seperti
wanita yang memang benar-benar ingin tampil sempurna.
“Gimana menurut lu? Bagus gak?,” tanyanya.
“Eh, bagus kok lu pantes sih pake kaya gitu, haha,” jawabku.
“Maksud lu? Kurang ajar gini-gini juga gue cewek ya
wajarlah, cantik ya yak, haha,”..
“Ya lumayan lah, buat ukuran urakan lu mah,”..
“Eh, yang bener atuh,”
“iya bagus kok, udah cepetan bungkus lah,”
“okeeh, tunggu ganti lagi yak,”
Setelah beberapa saat dia mengganti pakaiannya, kami
langsung menuju kasir untuk membayar baju tersebut. Tiba-tiba dia mendekatkan
bibirnya ke telingaku dan berbisik.
“Bayarin dulu yak, tar gue ganti pas dapat kiriman uang,”
bisiknya.
“emang berapa?,” balasku.
“Rp.350 ribu,”.
“hmmm..(Menelan ludah)”
Dengan perasaan sedikit cemas, aku membayarkan bajunya yang
seharusnya uang tersebut untuk jatah makan selama satu minggu kedepan. Namun,
karena sudah berjanji kepadanya tidak mungkin aku membatalkannya, terlebih
sepertinya dia memiliki sebuah rencana besar dengan baju itu.
Tidak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan, dan
melihat beberapa toko . Karena sudah tidak ada yang bisa dibeli dan cukup lama
berada di mall tersbeut, kami memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di
rumah, aku lihat Fanni masih sibuk mencocokan baju yang dibelinya tadi, dengan
beberapa aksesoris serta sepatu. Aku bertaruh dia akan menghadiri acara resmi,
ataupun pesta semacam itu, karena tampilannya begitu elegan tapi formal. Rasa
penasaran ingin membuatku bertanya kepadanya, tapi aku tidak ingin mengganggu
privasinya. Jadi kuputuskan untuk munggunya saja hingga dia yang
menceritakannya sendiri.
#Wah ternyata Fanny membeli baju seperti itu, kira-kira
untuk apa ya. Apakah ada rencana besar, atau kejutan. Yuk kita tunggu
kejutannya.. ^.^ (Mika).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar