Java

JavaScript

Kamis, 09 Agustus 2018

Cerpen "Cinta itu Gila, bukan Logika," CP#5

#GURU BARU, KONTRAK BARU #CP5

Akhir pekan telah berlalu, saatnya kembali ke lima hari menjenuhkan. Berhadapan dengan orang-orang yang sama, masalah yang sama, kegiatan yang sama dan matematika. Seperti biasa, di hari Senin setelah upacara, aku selalu menuju atap sekolah itu adalah tempat bersantai sejenak, menghidari gilanya angka-angka tersebut selama dua jam kedepan. Akan tetapi, sempat terpikir olehku, karena Pak Ramly telah penisun mengajar, siapa yang akan menggantikannya. Ah, sudahlah siapapun yang mengajar, itu tidak akan merubah persepsiku.

Tigapuluh menit berlalu semenjak bel masuk kelas berbunyi, rupanya rasa jenuh mulai datang. Berniat mengusir rasa sepi, aku merogoh kantung celana. Namun, ah sial aku lupa ponselku berada di tas di kelas. Melihat jam belajar yang sudah berjalan 30 menit, kecil kemungkinan guru tersebut belum masuk kelas. Tapi, kebosanan ini juga membuatku kesal, mungkin aku harus mencoba mengambilnya, ku putuskan untuk masuk ke kelas dan langsung keluar lagi dengan alasan buang air kecil.

Tanpa membuang waktu lagi, aku mulai menyusiri lorong. Kelasku berada di ujung lorong, namun sebelum itu aku harus melewati kelas fanny, ya tentu saja dia pasti curiga bilaku berkeliaran di luar kelas ketika jam mengajar berlangsung, terlebih dia ketua Osis pasti akan melapor ke guru di kelasku. Akan tetapi, jika tidak mengambil resiko tersebut, aku akan lebih bosan di sini.

Aku mulai menyusuri lorong, dari jendela kelas aku melihat Fanny sedang membaca buku. Tapi, sepertinya gelagatnya aneh, karena dia menunduk ke arah loker meja padahal guru sedang menerangkan pelajaran. Ketika ku perhatikan lebih jelas, ternyata dia sedang mengetik pesan di ponselnya, entah ditujukan kepada siapa aku tak perduli. Setidaknya dengan itu, perhatiannya akan teralihkan. Tanpa membuang kesempatan, aku langsung berjalan cepat menuju kelas ku. Namun, tiba-tiba suara seseorang yang belum pernah ku dengan memanggil namaku.

"Rendi," panggilnya.

"(Menoleh mencari sumber suara),".

"Ya, pasti kamu rendi, dari kelas III B. Kok tidak ada di kelas?," ucapnya.

"Kakak, pasti petugas guru piket baru ya. Tadi saya izin ke toilet, ini baru Mau masuk lagi," jawabku.

"Izin ke siapa kamu?," tandasnya.

"Ya ke guru di kelas saya kak," sahutku.

"Oh begitu, saya harap tadi kamu betul ke toilet ya," katanya.

"Loh memang kenapa bu, izin ke toilet gak harus bilang ke guru piket," tuturku.

"Ya karena saya tidak mau menghukum murid, membersihkan seluruh toilet di hari pertama saya mengajar di sini. Karena dia bolos dan membuat alasan jelek seperi itu," tegasnya.

"Oh, maaf saya kira ibu guru piket, ternyata guru kelas. Memang mengajar di kelas mana bu?," tanyaku.

"Kelas kamu !," sentaknya.

Aku hanya bisa terdiam, karena tidak percaya bahwa kakak-kakak yang sepertinya baru lulus kuliah tersebut, merupakan guru matematikaku yang baru. Setelah kejadian itu akhu harus kembali melapor ke ruangannya, untuk membuat pernyataan. Sebelumnya, aku sudah pernah membuat pernyataan seperti ini dengan Pak Ramly, dari peringatan satu, dua. Tapi, anehnya selalu balik lagi menjadi surat pernyataan ke I. ya mungkin itu faktor umur Pak Ramly sepertinya dia lupa.

"Oi, ren udah kenalan lu sama guru baru ? Haha," ejek Indra kepadaku.

"Savage yak teman kita yang satu ini, di first blood. Haha," timbal Biru.

"Sumpah gue gak tau itu guru matematila yang baru. Tau-tau dari ruang koridor dia manggil nama gue," sahutku.

"Tanda-tanda tertindas lagi lu kayanya ren," ucap Biru.

"Eh, tapi dibanding Pak Ramly, seengganya yang ini jauh mendingan. Lebih enak diomelin cewek cantik, dari pada sama aki-aki. Ibaratnnya tuh, enakan nangis di BMW dari pada nangis di bajaj hahaha," cetus Indra.

"Dabest dah lu berdua. Emang siapa itu guru namanya?," balik tanyaku.

"Namanya Bu Susan, doi baru lulus SI. Pantes masih seger gitu," jawab Indra.

"Uuuhh, Ren lu nyesel gak masuk matematika sekarang. Hawa tanah seolah jadi wangi semerbak parfum impor. Hahah," tandas Biru.

"Rambut panjang diurai, matanya yg cokelat masih keliatan biar kata kehalangan kacamatanya, badannya yang kaya gitar Gibson Jhon Lennon. Damn !, gue rela matematika jadi 10 jam kalo gini, hahaha," ungkap Biru.

"Lu semua abis nonton b*kep Theacer in law?," sahutku sekenanya.

Akhirnya aku tahu bahwa guru tadi bernama Susan, mungkin ia guru yang dimaksud Pak Ramly beberapa waktu lalu. Lelah pagi-pagi sudah mendapatkan masalah, aku lebih baik memenuhi panggilan guru baru tersebut.
Karena aku tidak tahu ruangannya yang mana, aku memutuskan untuk mengecek satu-satu bilik kerja di ruang guru. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bokong Bu Susan sedang menungging, sepertinya dia sedang mencari sesuatu di kolong meja kerjanya.

"Anu, permisi Bu Susan," sapaku.

"(Dug !!). Aw, rendi ya. Duh maaf flasdisk ibu jatuh. Sepertinya ke kolong meja," jawabnya sambil perlahan-lahan bangun.

"Oh iya bu..hmm kira kira ada apa ya saya dipanggil?," tanyaku.

"Soal itu, bukannya sudah jelas kalau kamu bolos masuk kelas matematika,"..

"Anu, kan tadi saya sudah jelaskan, kalau saya izin dari toilet,"

"Orang macam apa kamu yang mengbiskan waktnya hingga 30 menit di toilet,"

"Itu..yaa karna itu bu,"

"Iya karna itu kamu saya panggil. Saya sudah periksa berkas nilai kamu, ternyata sepertinya kamu punya phobia matematika ya. Haha,"

"Anu itu karna,"

"Kamu anu anu mulu, kenapa anu kamu,"

"Bukan !!, ya karna saya memang gak suka aja pelajaran itu,"

"Hmmm, saya paham soalnya dulu juga ibu gak suka matematika. Tapi, sebagai guru ibu punya cara bagaimana supaya kamu bisa suka matematika,"

"Ya?,"

"Ini, kamu baca coba," menyodorkan selembar kertas.

Akhirnya, ucapan susumbar dan ketakutanku menjadi kenyataan. Akhirnya surat peringatan ke III karena ulah ku membolos dalam jam belajar muncul. Dimana isinya, sebuah pernyataan bahwa aku akan dikenakan sanksi skorsing selama waktu yang ditentukan, jika kedapatan membolos pelajaran matematika lagi.

"Yuppss, silahkan ditanda tangan, ini bolpaintnya. Tanda tangan dan cantumkan namamu ya," ucap Bu Susan.

"Bu ini harus?," tanyaku.

"Kamu mau diskors sekarang?," jawabnya sambil memberikan senyum.

"Baik bu, ini sudah," dengan terpaksa aku menandatangani surat perjanjian tersebut.

"Nah, jika begini kamu dan saya sudah punya kontrak. Dengan ini juga saya bisa mengenal murid-murid saya, kan gak kenal tak sayang. Biar sayang, makannya kenalan. Karena kamu bolos di jam pertama dan melewatkan sesi perkenalan tadi, saya pikir ini cocok untuk kamu, hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Ya bu, terimakasih. Nama saya Rendi Permata dari kelas III B, mohon bantuannya," sahutku.

"Loh, .. Haha. Baik saya Susan, kamu bisa panggil saya Bu susan, atau Miss Susan. Ya, walau saya bukan guri bahasa inggris. Tapi panggilan bu sepertinya terlalu tua," ungkapnya.

"Ya bu,"

"Baiklah, silahkan kembali ke kelas kamu. Terimakasih atas pengenalannya, lusa jangan ke wc lagi ya," tandasnya.
Bel pulang sekolahpun berbunyi, akhirnya jam-jam menyiksa telah berakhir. Tapi, apa yang lebih menyebalkan selain hari ini. Ya, karena besok kejadian ini akan terulang lagi selamanya hingga aku lulus nanti. Namun, aku bersyukur setidaknya guru matematika yang baru, tidak memakai cincin ditangannya. Tapi, sepertinya dia lebih berbahaya, mungkin aku harus waspada.

#uuhhh, guru baru yang katanya cantik telah muncul. Bagimana ya nasib Rendi, mungkin gak ya dia rajin masuk pelajaran matematika, atau malah di skors. Tunggu lanjutannya yaaaa. Stay on TolatetooBlog ^.^ (Mika).

Cerpen "Cinta itu Gila, bukan Logika" CP#04

CP#04
#APA ITU SISI FENIMINNYA?

Walau tinggal satu atap, tidak berarti aku dan Fanny melakukan segalanya bersamaan. Jarang sekali kami berdua mengahabiskan waktu bersama. Mungkin karena aku kurang suka berpergiaan, dan sebaliknya dia dan teman-temannya selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Adapun jika ingin, Indra dan Biru terkadang mengunjungi rumahku, untuk mengahibskan waktu atau menghabiskan makanan tepatnya.
Sore hari itu setelah kejadian di kamarnya saat pagi hari, kami aku memutuskan untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan di kota. Entah apa yang ia ingin beli, tapi setahuku dia bukan type cewek yang suka menghabiskan waktu seperti itu. Namun, karena memang tidak ada rencana bersama yang lain, dan terlanjut berjanji meminjamkan uang dan mengantarnya maka kamipun pergi.

Bagiku pergi ke mall atau pusat perbelanjaan sendiri, merupakan kegiatan yang membosankan karena terlalu mainstream. Dimana kita hanya disuguhkan dengan etalase benda-benda serta keramaian orang yang tidak jelas. Tapi, sesekali mengunjungi tempat ini mungkin bisa mengurangi rasa bosanku.

Sesampainya di mall, aku hanya bisa mengikuti Fanny lebih tepatnya seperti ajudannya, karena aku tidak tahu mana toko ataupun barang yang dia ingin beli. Setelah beberapa waktu keluar masuk toko, namun tidak ada yang dia beli aku mulai kesal. Bagaimana bisa wanita berbelanja hingga hampir memutari setengah toko yang berada di mall.

“Lu nyari apa sih?,” tanyaku..

“Ih gak ada barangnya yang gue cari, sabar atuh,” jawabnya.
“Ya nyari benda apa?.”

“hmmm..inyari itu,”

“Itu apaa?,”

“Baju dress hitam, hehe,” ungkapnya sambil sedikit tersipu.

Setahuku, dia tidak pernah memakai pakaian yang terlihat seperti cewek. Bahkan saat ini saja dia memakai celana jeans, kaos, dan spatu kets. Entahlah, apa yang dia rencanakan mungkin ia memiliki acara khusus yang harus memakai baju khusus seperti itu.

“Hahaha, gue kira lu gak bisa pake pakaian kaya gitu,” ucapku.

“Ah, udah  ih bantuin cari aja sih,” katanya.

“Kita nyari udah hampir dua jam, udah kaya tawaf di mekah tau gak lu muter-muter. Masuk tokok ini keluar tokok itu,”

“ya habis gimana modelnya gak ada yang cocok,”

“Gak ada yang cocok, atau lu gak tau modelnya kaya gimana? Haha,”

“iihh ngeselin lu ah,” tandasnya sembari memukul pelan kearah ku.

Tidak beberapa lama, akhirnya kami masuk ke salah satu toko yang memang kelihatannya menjual baju-baju gaun seperti itu. Nampak kelihatan mewah dan mahal busana yang dijangkan, aku khwatir karena Fanny meminjam uangku untuk berbelanja, jumlahnya tidak akan cukup. Terlebih, aku baru akan mendapat kiriman uang bulanan dua minggu lagi.

Sesaat aku memalingkan perhatianku ke ponselku, Fanni memanggil sembari munjukan salah satu baju yang sepertinya dia inginkan. Nampaknya, sebuah baju terusan berwarna hitam, dengan model elegan  namun, dengan panjang diatas lututnya. Dia menyuruhku untuk menunggu, selagi dia mencoba bajunya di ruang pas. Aku membayangkan jika kelak aku memiliki isteri, lebih baik aku memberinya uang dan membiarkan berbelanja di mall sendiri, ketibang harus menemaninya seperti ini.

“Heh, sini deh..,” panggil Fanny sambil melambaikan tangannya dari ruang ganti.
“Udah?,” jawabku.

“sini dulu liat ih,”

“yakali fan gue masuk ke sana, lu yang keluar atuh,”

“hmm bentar..”

Dan ketika dia keluar dari tirai ruang ganti, aku melihat sosok Fanny yang aku kira tidak pernah melihatnya. Rambutnya yang diurai, sembali mengyunakan baju hitam tadi, mengalihkan pandanganku sesaat. Berbeda dengan selama ini yang terlihat acuh dan urakan, tapi saat itu dia terlihat seperti wanita yang memang benar-benar ingin tampil sempurna.

“Gimana menurut lu? Bagus gak?,” tanyanya.

“Eh, bagus kok lu pantes sih pake kaya gitu, haha,” jawabku.

“Maksud lu? Kurang ajar gini-gini juga gue cewek ya wajarlah, cantik ya yak, haha,”..

“Ya lumayan lah, buat ukuran urakan lu mah,”..

“Eh, yang bener atuh,”

“iya bagus kok, udah cepetan bungkus lah,”

“okeeh, tunggu ganti lagi yak,”

Setelah beberapa saat dia mengganti pakaiannya, kami langsung menuju kasir untuk membayar baju tersebut. Tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.

“Bayarin dulu yak, tar gue ganti pas dapat kiriman uang,” bisiknya.

“emang berapa?,” balasku.

“Rp.350 ribu,”.

“hmmm..(Menelan ludah)”

Dengan perasaan sedikit cemas, aku membayarkan bajunya yang seharusnya uang tersebut untuk jatah makan selama satu minggu kedepan. Namun, karena sudah berjanji kepadanya tidak mungkin aku membatalkannya, terlebih sepertinya dia memiliki sebuah rencana besar dengan baju itu.

Tidak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan, dan melihat beberapa toko . Karena sudah tidak ada yang bisa dibeli dan cukup lama berada di mall tersbeut, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah, aku lihat Fanni masih sibuk mencocokan baju yang dibelinya tadi, dengan beberapa aksesoris serta sepatu. Aku bertaruh dia akan menghadiri acara resmi, ataupun pesta semacam itu, karena tampilannya begitu elegan tapi formal. Rasa penasaran ingin membuatku bertanya kepadanya, tapi aku tidak ingin mengganggu privasinya. Jadi kuputuskan untuk munggunya saja hingga dia yang menceritakannya sendiri.

#Wah ternyata Fanny membeli baju seperti itu, kira-kira untuk apa ya. Apakah ada rencana besar, atau kejutan. Yuk kita tunggu kejutannya.. ^.^ (Mika).
 

Rabu, 08 Agustus 2018

"Cinta itu Gila, bukan Logika" CP-03


#ISTIRAHAT DI RUMAH, TIDAK APA.

Tinggal hanya berdua dengan saudarimu yang tergila-gila akan kedisiplinan, tidaklah terlalu buruk. Tapi, bersekolah selama lima hari, bukankah cukup menyita tenagaku. Menjadi remaja tanggung seperti ini, membuat akhir pekanku seharusnya menjadi surga bermalas-malasan. Namun, adanya Fanny seolah dia menjadi 'motherland', dan aku hanya menjadi pribumi.

Tidak seperti akhir pekan remaja laki-laki seusiaku yang bisa bangun siang hari. Fanny selalu membangunkanku tepat pukul 07.00, bukannya karena rasa perhatian saudari kepada saudaranya. Akan tetapi dia melakukan itu, untuk menyuruhku melakukan perkerjaan kewanita-wanitaan di rumah.
Sejujurnya apa yang dilakukan Fanny tidaklah salah, lantaran wajar karena kami hanya tinggal berdua saja. Orangtuanya hampir sama dengan diriku, karena penugasan negara menjadi tentara, ibu dan ayahnya kembali setiap enam bulan sekali. Aku berani bertaruh, jika sifatnya yang seperti itu, hasil tempaan kedua orangtuanya tersebut.

Tapi, Sabtu pagi itu ada yang berbeda dengan Fanny. Aku bisa terbangun siang hari, pada awalnnya memang aku merasa sangat senang karena bisa bangun tanpa paksaannya. Berniat untuk menyegarkan diri, aku tidak melihat adanya kegiatan yang dilakukan dia, lantaran keadaan rumah masih sama seperti sore hari kemarin. Cemas terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan masuk ke kamarnya. Walau kami telah tiga tahun tinggal bersama, tetap saja ada peraturan antara laki-laki dan perempuan yang diterapkan. Jika tidak seperti itu, mungkin nyawaku bisa terancam, karena saudariku itu merupaan atlet karate sabuk hitam di sekolah.

Karena rasa penasaran, aku memutuskan memeriksa ke kamarnya. Ya tentu aku mengetuk pintunya terlebih dahulu. Walau begitu, tetap saja aku gugup untuk masuk ke kamar seorang perempuan. Ya, tapi tidak salah juga saudara laki-laki mencemaskan saudarinya.

"Hei, Fan sudah bangun?," tanyaku sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Fan?,"..

Beberapakali aku mengetuk namun tidak ada jawaban, rasa penasaranku menjadi semakin tinggi. Ku putuskan untuk membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci. Gelapnya ruangan kamarnya, pengelihatanku menjadi samar. Mataku terpana, ketika menyalahkan lampu dan melihat Fanny yang tertidur di kasurnya menghadap ke arah jendela, hanya menggunakan pakaian dalam. Dadaku terasa berdebar, sedetik aku terpaku melihatnya. Sedetik kemudian aku langsung mematikan kembali lampu kamarnya, dan segera keluar kamarnya sebelum dia terbangun dan sadar aku melihatnya dengan seperti itu.

Beberapa jam setelah kejadian itu, aku mendengar suara pintu kamar fanny terbuka. Saat itu aku sedang menonton tv, dan tepat berada di depan kamarnya. Mataku langsung teralihkan ke arah pintu tersebut, dan melihatnya sudah lebih tertutup dibandingkan tadi pagi. Jarang sekali aku melihatnya tidak karuan seperti itu, rambut yang berantakan, wajahnya seperti lelah, dan matanya seperti tidak bersemangat.

"Hoaam, jam berapa sih?," tanyanya.

"Dih baru bangun, jam 11," sahutku..

"Lu dah makan?,"..

"Gw td beli ketoprak di depan, itu di meja yang punya lu,"

"Weh weh weh, udah dikirim duit lu yak, sama bokap nyokap lu?,"

"Halah, sisa receh ini juga, lu udah dikirimin?,"

"Belum juga, padahal hari ini ada yang mau gue beli,"

"Beli apaan? Mau pake yang gue dulu?,"

"Nanti deh, sore sekalian anter ya. Minjem duitnya, orangnya juga haha,"

"Siapa?,"

"Gue lah,"

"Yang nanyaaaa,"

"B*bi !!,"

Rasanya dia baik-baik saja, mungkin karena kelelahan tugas disekolah. Ya wajar dia seorang ketua Osis, pastinga punya beban tanggung jawab yang banyak. Setelah obrolan tadi, dia langsung mengambil makanan untuk sarapan, dan duduk di sofa bersamaku. Namun, entah kenapa aku sedikit terasa canggung, mungkin karena kejadian tadi pagi aku masih malu. Aku bertanya bagaimana jika dia sampai tahu, kalau aku melihatnya setengah bugil di kamarnya.

"Kenapa lu melamun?," tanya Fanny.

"Eh,..apan?," jawabku.

"Mikir jorok lu yak !!,"..

"Naon siiihh..,"

"Hahaha, santai lah. Eh, gue denger Pak Ramly berhenti ya,"

"Eh masa sih? Gue baru tau, kenapa emang?,"

"Gue juga belum tau alasannya, tapi ya lebih bagus gitu lah. Kasihan dia guru baik, tapi sampai tua gitu belum diangkat jadi pegawai negeri,"

"Baik dari mananya, lu belum pernahkan ngerasain cincinnya mendarat di kepala lu,"

"Ya itu sih salah lu, dah tau guru begitu. Pake acara bolos,"

"Ya..ya..ya,"

"Eh, lu beneran ada uang? Gue pake dulu yak, tapi anterin gue beli sesuatu nanti sore. Lu gak kemana mana kan?,"

"Iya gak kemana mana,"

"Iyalah, jombol mah bebas yak haha,"

"Bodoamat,"

Walau hanya tinggal berdua, rasanya kami saling terkait satu sama lain. Terlepas dari nasib keluarga, ataupun ikatan saudara, ya tetap saja wanita itu menyebalkan.

#kira kira Fanny mau beli apa ya, apa bisa dibilang malam mingguan? Tetap tunggu yaa lanjutannya. ^.^ (Mika)

Selasa, 07 Agustus 2018

Cerpen "Cinta Itu Gila, bukan Logika" 01-02

Hari itu untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatku merasa ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan. Namun, jika keinginan hanya berupa angan, apa daya aku tak punya keberanian untuk memulainya, terlebih dia merupakan seorang.....

CP#1 : AKU YA, AKU !!

Namaku Rendi Permata, saat ini aku merupakan seorang murid kelas XII SMA di salah satu sekolah swasta di kota ku. Tak segemilang nama “permata”, kehidupan sosial, hingga pergaulankupun tidak seberkilau itu. Aku tinggal bersama saudari perempuanku, karena kedua orangtuaku telah bercerai dan saat ini mereka telah memiliki kehidupan baru masing-masing.

Hidup berdua dengan saudariku tidaklah cukup jelek, karena saudariku tersebut bisa dibilang termasuk wanita yang cantik. Memiliki rambut sebahu, putih, dan tanpa makeup. Kebetulan dia merupakan salah satu siswi berprestasi dan “bersinar” di sekolahnya. Namun, sayangnya sekolah yang dimaksud sekolah ku juga. Jabatannya sebagai ketua OSIS, sungguh membuatku gila karena ia begitu tegas, tanpa pandang bulu termasuk kepada diriku. Ya walau begitu, aku tetap memanggilnya Fanny..

Seperti yang aku bilang, aku murid dengan kemampuan otak biasa-biasa saja, dan bergaul normal-normal saja. Pada dasarnya sebenarnya aku bisa menguasai semua mata pelajar, walau terkadang harus meminjam buku catatan teman sekelasku, karena aku sering bolos saat jam belajar terutama pelajaran matematika.

Membayangkan deretan angka yang membingungkan, serta simbol-simbol aneh hingga tata cara penghitungannya sungguh membuatku muak. Semenjak kelas I sampai dengan sekarang, aku tidak pernah berhasil meraih nilai standar, dimana aku harus selalu mengikuti sesi perbaikan nilai. Akan tetapi, hasilnya tetap sama saja. Hal itulah yang membuatku  sering membolos ketika mata pelajaran matematika.

Setiap Senin, selepas upacara bendera aku tidak lantas kembali ke kelas seperti murid pada umumnya. Namun, aku menuju ke tempat yang ku sebut ‘nirwana’. Yups, itu merupakan balkon gedung sekolahku yang berada di lantai tiga. Menghirup udara pagi sembari mengunyah permen karet, merupakan surga bagiku dibandingkan masuk ke kelas disiksa dengan angka-angka, hingga guru yang tak berpri-kemuridan itu seperti di neraka.

Berbicara soal bantuan, aku memiliki dua sahabat  mereka itu Biru dan Indra. Walau terkadang mereka menyebalkan, namun mereka merupakan team suport dan penyerang saat aku mendapatkan masalah. Bahkan bisa menjadi malaikat penolong ketika waktu ulangan matematika, namun mereka seolah menjadi malaikat pencabut nyawa ketika jam istirahat datang.
                                                                               
-001-



CP#2 : MALAIKAT ATAU IBLIS

Ketidak sukaanku akan mata pelajar matematika, sering membawaku kepada masalah-masalah dengan guru. Bukannya tidak pernah bebruat onar, aku pernah ketahuan merokok di kamar mandi wanita, tidur di kelas, menjahili mobil guru, hingga kabur dari sekolah saat jam belajar berlangsung. Namun, dari itu semua tidak ada hukuman yang separah diberikan guru matematika ku yakni, Pak Ramly.

Dirinya sudah menjadi guru matematikaku selama tiga tahun, mungkin ini yang dinamakan hukum karma murid brandal.Penampilan seperti kakek setengah abad, memakai cincin-cincin besar di setiap jari lengannya, belum lagi nafasnya yang bau rokok, membuatku tambah tidak ingin menyentuh pelajaran matematika. Jika dipikirkan apa fungsinya mempelajari ilmu, yang tidak akan kau pakai di masa depan. Ya, karena memang dari hasil observasiku ke beberapa tetanggaku yang sudah kerja, tidak ada bos mereka yang menanyakan rumus segitiga sama kaki, hingga pembagian aljabar.

Hari itu, aku mendapat panggilan dari pengeras suara di kelas, untuk segera menghadap ke ruangan Pak Ramly tersebut. Aku sudah bisa membayangkan bagimana ekspersi marahnya, serta batu cincinnya yang siap membombardir kepala ku, karena dia tahu bahwa semenjak dua minggu kemarin aku hanya masuk dua kali di kelasnya tanpa mengumpulkan tugas.

Sebelum keadaannya emosinya bertambah parah, aku berpikir untuk segera menemuinya. Lorong ruang guru yang sempit, seperti menjadi jembatan sirotulmustaqim, dan ruangannya merupakan tempat penyiksaan yang disiapkan khusus bagi para murid pendosa sepertiku.

“Selamat siang, permisi Pak Ramly,” ucapku sambil membuka pintu ruangannya.

“Harus bagaimana saya mendidik kamu, Rendi?,” sahutnya.

“Anu pak..,”

“Kenapa anu mu?,”

“eh bukan, maksudnya ada apa bapak memanggil saya?,”

“Jangan pasang wajah tanpa dosa seperti itu. Kamu pikir saya sudah pikun ya, bisa lupa berapa kali kamu absen di kelas saya,?”

“Hehehe...,”

Saat itu aku sudah berpikir, “ya tuhan secepat inikah perjalanan hidupku, bahkan aku belum mencicipi rasanya kelulusan SMA,”. Namun, tiba-tiba Pak Ramly berdiri dan berjalan kerah lemari berkasnya, sembari mencari berkas-berkas.

“Itu, kamu buka berkasnya,”

“ini apa pak?,”

“Ya buka bahlul,”

Bukan main, ternyata isi dari berkas itu semua merupakan hasil ulangan pelajaran matematika ku semenjak kelas I hingga kelas III. Dalam pikiranku apa ini cara Pak Ramly mempermalukanku, agar aku berubah lebih giat. Akan tetapi, rasa benciku kepada pelajaran tersebut sekiranya sudah tidak bisa dikalahkan dengan tumpukan selembaran nilai tersebut.

“Rendi, bagaimana bapak harus mengajarkamu?,” tanya Pak Ramly.
Aku terdiam, bukan karena aku takut melainkan kaget. Ku kira kepalaku akan bocor kali ini, karena dibombardir oleh batu cincinya, namun beliau hanya bertanya demikian.

“Ya sewajarnya seperti guru saja pak,” jawab ku.

“Apa bapak sudah seperti guru bagimu?,”

“Ya kan Pak Ramly memang seorang guru, lantas kenapa bapak tanyakan hal itu lagi kepada saya,?”

“Rendi, tugas sebagai guru bukanlah hanya mengajar, namun juga mendidik. Bagimana bisa bapak dengan umur yang sudah uzur ini, membiarkan anak bodoh yang bapak ajar selama tiga tahun tidak pernah lulus satu kalipun dalam ulangan matematika. Untuk seorang guru itu adalah dosa besar, jika membiarkan ada murid bernasib sama nantinya sepertimu,”

“jadi maksud bapak saya anak bodoh?,”

“Kamu tidak bodoh, hanya saja pengecut,”

Kesal akan perkataan Pak Ramly tersebut, emosiku terpancing aku menggebrak meja sembari berkata.

“Saya tidak bodoh, hanya saja saya tidak ingin membuang waktu untuk pelajaran yang tidak terpakai ilmunya,”

Sedetik kemudian aku sadar, bahwa aku telah kehilangan kendali hingga berani berucap seperti itu. Aku melihat tangan pak Ramly mengambil map berwana merah, ku kira dia ingin menampar wajahku menggunakan itu. Betapa terkejutnya aku bahwa ia menyodorkan semua hasil rapor nilai mata pelajaranku yang lain.

“Lihat kamu bisa menguasai mata pelajaran lainnya, bahkan beberapa diantaranya mencapai nilai hampir sempurna,” cetus Pak Ramly.

Mendengar ucapannya diriku hanya bisa terdiam, dan menundukan wajahku seperti siswa pada umumnya yang dimarahi para gurunya ketika melakukan kesalahan.

“Rendi, bapak tau kamu tidak bodoh. Kamu anak yang cerdas ya walau tidak pintar-pintar banget. Tapi, masalahmu dengan matematika ini adalah, rasa malas,” ungkap Pak Ramly.

“Entahlah pak,”

“Maka dari itu, bapak sudah berkomunikasi dengan wakil kepala sekolah bidang akademik. Untuk mendatangkan guru baru guna menggantikan bapak mengajar matematika di kelasmu nanti,”

“Maksud bapak?.”

“Ya saya pensiun bodoh, puluhan tahun mengabdi sebagai guru lepas. Rupanya sudah saatnya saya menikmati hidup, tanpa dikejar-kejar rasa penasaran kapan diangkat menjadi pegawai negeri. Terlebih dengan usia ku sekarang ini tenagaku berkurang jauh, apalagi jika harus bertemu dengan murid sepertimu,”

“hmmm.. ”

“Bapak berharap semoga guru baru ini, mampu memberikan motivasi kepada mu agar lebih baik dalam belajar matematika,”

“Baik pak, terimakasih. Tapi, sebelumnya saya ingin mengucapkan sesuatu,”

“Apa?,”

“Maafkan saya tadi memukul meja bapak, kerana saya tidak terima dibilang sebagai orang bodoh,”

“Pada dasarnya kau memang sudah bodoh, jika tidak bodoh kau tidak ku panggil kesini. Cepat kembali ke kelasmu,” tukas Pak Ramly.

Lelah mendengarkan obrolan serius seperti tadi, aku memutuskan untuk tidak kembali ke kelas.Namun, bersantai di ‘nirwana’ sembari menunggu jam pulang datang. Akan tetapi, pikiranku terganjal dengan cuapan Pak Ramly tadi, bahwa akan ada guru baru pengganti dirinya.
Aku kira kedepannya sama saja, siapapun yang mengajar. Aku akan tetap seperti ini.


                                                                          -002-

(belum udahan ya ^.^ (Mika))