Java

JavaScript

Kamis, 13 September 2018

#PELAJARAN TAMBAHAN ITU TEROR #07


#PELAJARAN TAMBAHAN ITU TEROR 

Waktu seakan cepat berlalu walau setiap harinya terasa sama. Dua bulan kedepan aku harus menghadapi ujian tengah semester. Ya memang tidak ada yang ku khwatirkan, tapi melihat buku nilai raport di kolom matematika ku, rasanya seperti melihat seseorang memakan nasi goreng pakai nasi putih. Dari enam semester tidak satupun dari  nilai matematikaku melebihi rerata standar nilai sekolah. Jika dalam ujian kali ini aku gagal, aku terpaksa tidak bisa mengiuti ujian kelulusan nantinya. Tidak ada ujian kelulusan, maka tidak ada universitas, tidak ada universitas tidak ada masa depan, tidak ada masa depan. Rupanya hidup itu tidak seperti di sinetron ABG, namun harus berkerja bagai kuda, tidur bagai batang kayu.

Pikiran itu terus menggangguku, bahkan sampai aku tidak nafsu makan. Bagimana aku bisa mendapatkan nilai di pelajaran yang sangat ku benci, terlebih tidak ada yang mengajariku. Jika belajar di kelas, aku duduk di baris paling belakang. Ketika guru matematika mengajar mungkin ilmunya tak sampai ke kepalaku, habis mungkin diserap empat baris anak di bangku depan. Ketika guru bilang rumus ini begitu, aku mendengar rumusnya begini dan begitulah sebaliknya.

Namun, hari itu di sekolah aku terpikir untuk meminta bantuan dua sahabatku Biru dan Indra. Ya walau mereka tidak terlalu meyakinkan, tapi apa salahnya mencoba. Toh, tuhan tidak memberikan ujian yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, kiranya aku tidak dianggap hambanya sehingga diberikan ujian matematika diluar kemampuan ku.

“Heh biji, lu berdua balik sekolah ada acara ga?,” tanya ku.

“Kalo gue sih engga, gak tau si Biru,” jawab Indra.

“Lu ada acara gak Biru?,” sahutku.

“Hmmm.. cewek gue ngajak main sih, tapi gue gak punya duit, kalo lu pinjemin gue duit baru gue ada acara deh, hahaha,” ucap Biru.

“Makannya macarin cewe yang sekelas, lu macarin cewe yang mau nangisnya di BMW. Padahal lu sekolah aja nebeng ma gue,” timbal Indra.

“Ah yang penting cinta, uuhhh love youuu Manda,” balas Biru.

“Najis, eh emang ada apan Rend, tumben banget lu nanya agenda kita?,” tanya Indra.

“Gue mau minta tolong ajarin matematika yang semester ini. Kalo gue dapat nilai amblas lagi pas ujian besok, kelar nafas gue,” jawabku.

“Lu makan apaan tadi pagi?,” jawab Indra.

“Emang kenapa?,” jawabku.

“Kita udah temenan dari kelas I sampai sekarang, gue tau track record lu soal matematika. Tapi baru kali ini gue denger lu minta ajarin begituan, gue kira lu lagi sakit,” kata Indra.

“Gigi lu gendut !, gue beneran ini. Gue minta kalian berdu ajarin gue materi yang semester ini aja bisa gak?,” kataku..

“Ya gue sih mau aja, tapi gak masksimal kan lu tau sendiri gue juga ngepas otaknya soal matematika mah. Coba aja si Biru tuh, dia sekolah main mobile legend aja masuk rangking 10 besar, berarti pinter,” sahut Indra.

“Main moba itu penghilang stres bro, jadi pas masuk kelas otak kosong,” tandas Biru.

“Iya jadi kaya orang kena hipnotis ya, hahah,” sahut Indra.

“Ranking raport hasil nyata kali, savage sama gue mah,” ucap Biru.

“Yaudah intinya mau bantuin gue gak? Kalo mau mulai pulang sekolah sekarng. Ajarin gue yak,” ucapku.

“Biasanya sih kalo pulang sekolah, kita berdua makan bakso Rend,” ucap Biru.

“Gue ngerti, iya gue beliin,” kataku.

“Pengertian banget siiiihh..uunch dabest,” tandas Biru.

Beberapa jam berlalu di ruang kelas, hilir mudik murid-murid lain mulai riuh menunggu bel pulang berbunyi. Tak sampai lima menit akhirnya bel pulangpun berbunyi, satu persatu murid lain meninggalkan kelas. Tapi tidak dengan kami bertiga yang langsung menuju perpustakaan, untuk memulai belajar tambahan yang kami bahas tadi.

Sesampainya di perpustakaan yang berada di lantai tiga sekolah, memang nampak gelap karena kurang penerangan. Ya memang jarang sekali ada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan, karena mereka lebih sibuk membaca melewati ponselnya. Jam menunjukan pukul 16.00 sore, ku lihat dari jendelapun awan gelap tanda akan turun hujan mulai berkumpul, deru angin mulai kencang, ku pikir sore ini akan hujan. Namun, tekad ku sudah bulat demi terhindar dari celaka ujian nanti.

Ternyata belajar seperti ini, tidaklah terlalu buruk. Dibandingkan mendengarkan pembelajaran satu arah di dalam kelas. Dijelaskan oleh teman rupanya sangat membantuku kala mengerti materi-materi pelajar. Ya, walau harus dibayar mahal dengan dua mangkuk bakso dan beberapa botol minuman serta cemilan untuk dua guru dadakan ku ini.

Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 18.00 petang, mungkin karena terlalu fokus belajar tadi. Kami tak sadar bahwa di luar sudah turun hujan lebat. Kami bertiga hanya bisa menunggu di ruang perpustakaan sambil mendengarkan ocehan Biru soal pacarnya. Namun, tiba-tiba perhatian kami teralihkan ketika mendengar suara derap langkah dari arah lorong. Langkah tersebut semakin mendekat, kamipun saling menatap satu sama lain, aku tahu mereka berdua juga merasakan hal yang sama denganku yaitu takut.

Namun, didalam keheningan sesat itu derap langkat tersebut menghilang, seolah hanya berjalan melewati dinding lorong ruang perpustakaan. Bukannya memecahkan suasana agar lebih tenang, Indra malah bercerita hal yang tidak ingin aku dan Biru tahu mengenai mitos hantu siswi di kamar mandi lantai tiga ini.

“Dari kaka kelas dulu, gue pernah denger katanya di sini ada siswi yang mati karna bunuh diri. Mayatnya ditemukan tepat di kamar mandi di ujung lorong ruang perpustakan ini,” ungkap Indra.

“Lu gak ada topik lain buat dibahas, mending bahas cewek si Biru lagi aja,” ucapku.

“Apa bedanya bahas setan sama bahas cewek si Biru,” sahut Indra.

“Bener juga sih,” tandasku.

Tiba-tiba kami mendengar seseorang membuka pintu salah satu kamar mandi yang berada di ujung lorong perpustakaan. Karena rasa penasaran dan takut yang bercampur aduk, kami memutuskan untuk mengemasi barang-barang, dan segera meninggalkan perpustakan. Namun, alangkah terkejutnya kami ketika tiba-tiba mendengar suara tertawa seorang wanita dari dalam toilet tersebut.

Tanpa pikir panjang kami berlarian dari ruang perpustakaan, tanpa mengiraukan satu sama lain. Berlairan melewati anak tangga, berlari melewati ruang kelas-kelas yang kosong, akhirnya kami sampai di lantai dua. Ketika berlari melewati ruang kelas ku, tanpa sengaja aku melihat teman sekelas ku Rene. Dia merupakan ketua kelas kami, ya rupanya memang cantik, berambut panjang terurai, mirip model sampho berkilau. Parasnya juga bisa dibilang diatas rerata, karena setahuku ibunya merupakan keturunan Turki.  Dari 15 siswi di kelas dia bisa dibilang rate to the top, karena kepintarannya juga tidak dipertanyakan lagi.

“Rene !,”panggilku sembari mengambil nafas.

“Eh, kalian bertiga kok masih di sini? Loh kenapa terengah-engah begitu kalian?,” tanya Rene.

“Rene ayok keluar !, di atas ada hantu !,” teriak Indra.

“Ah ngarang aja kalian, aku dari tadi sendiri di sini gak ada apa-apa tuh,” jawab Rene.

“Lu lagian ngapain samapi jam segini di sekolah?,” sahut Indra.

“Karena hari ini petugas piketnya kabur semua, jadi aku yang piket sendirian. Huah, dari pada pagi nanti, kita dimarahi guru kelas karena ruangan kotor,” ungkap Rene.

Rasa takut kami akhirnya sedikit menghilang karena bertemu Rene di kelas, akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di kelas. Sebenarnya kasihan juga melihat Rene harus menanggung tanggung jawab sendiri, akhirnya karena masih banyak tugas kebersihan yang dilakukan, kami bertiga memutuskan untuk membantu rene.

Ketika sedang membersihakan kelas, tiba-tiba terdengar suara dering ponselku. Suranya samar sehingga aku tak tahu pasti menaruhnya, aku sadar bahwa ponselku tertinggal di ruang perpustakaan. 
Aku berfikir itu Fanny yang menelepon karena aku lupa mengabarinya, bahwa hari ini aku terlambat pulang.

“Jangan bilang itu handpone lu Rend ada di atas?,” tanya Indra.

“Sayangnya itu handphone gue Dra,” jawabku.

“Mending beli lagi aja deh Ren, gue gak mau balik ke atas,” sahut Biru.

“Ngaco aja lu, itu banyak berkas pentingnya,” ungkapku.

“Eh..eh udah kita ambil aja bareng ke sana, kalian bertiga penakut ih,” tandas Rene.

“Bukan begitu bu ketua, tapi di atas tadi beneran deh ada yang begituan,” ucap Indra.

“Begituan gimana?,” kata Rene.

“Eh, maksudnya hantu cewek bu ketua,” jawab Indra.

“Halah, makannya  nyari pacar Indra jangan jomblo, jadi imajinasi lu udah terlalu itu,” ungkap Rene.

Akhirnya kami berempat memutuskan untuk kembali ke ke lantai tiga, walau rasa takut itu datang lagi. Namun, aku lebih takut ketika pulang ke rumah melihat muka Fanny yang kesal, karena tidak mengabarinya. 

Setelah tidak lama berselang, akhirnya kami tiba di lantai tiga. Menyambut mata kami lorong dengan lampu redup serta toilet di ujungnya, membuat bulukuduk kami berdiri tak terkecuali Rene yang terus berjalan ke arah ruang perpus.

“Rene, tunggulah bareng-bareng,” ucap Indra.

“Ih kalian tuh kenapa sih,” sahut Rene.

“Yaudah bu ketua di depan sana, kalau hantunya muncul jadi ke bu ketua dulu kita bisa lari,” ucap Biru.

“Tuh, mana ada hantu itu cuma rasa takut kalian aja. Lagian anak macam kalian tumben sekali, ada di perpus, pasti habis download film porno ya pake wifi lantai III,” tutur Rene.

“Enak aja, kita lagi bantu si Rendi belajar matematika,” sahut Indra.

“Huahahah. Beneran itu Ren, pasti buat ujian semeter besok yak. Lain kali aku ikut bantu deh, tapi lain kali jangan lupa ya, tanggung jawab tugas piketnya. Biar aku gak kerjain sendiri terus bisa bantu kamu belajarnya,” ungkapnya.

Sedetik kemudian kami bertiga ingat, bahwa hari ini merupakan jadwal tugas piket kami. Serasa akupun tak enak hati ke Rene, karena ulah kami dia harus membersihkan kelas sendiri hingga sore. Akhirnya kami berada di depan pintu ruang perpustakaan. Rene membuka pintu itu tanpa khwatir ada apa di dalamnya dan berjalan masuk sembari melihat keliling.

“Tuhkan gak ada apa-apa, itu imajinasi kalian aja. Wah ada buku novel bagus, aku belum pernah membaca yang ini,” ucap Rene.

“Memang kamu sering ke sini?,” tanyaku.

“Dulu sih sering hampir setiap hari, hehe,” jawab Rene.

“Mana handphone lu Ren, ayolah cepet,” kata Indra.
Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata memang benar yang barusan menelephone itu Fanny. Betapa terkejutnya ketika aku mengangkat telepone darinya yang  ternyata sudah lebih dari sepuluh kali menghubungiku.

“Halo Fan,” ucapku.

“Heh, lu di mana?,” jawab Fanny.

“Gue masih di sekolah ini, abis belajar bareng,” ucapku.

“Iya gue tau lu di sekolah, ini gue di parkiran depan,” balas Fanny.

“Loh kok lu tau gue masih di sekolah?,” tanyaku.

“Gue liat update postingan si Amanda ceweknya temen sekelas lu, di situ ada lu sama temen lu yang satunya di perpus. Tapi kok lama banget ditambah hujan, makannya gue jemput, pasti lu gak gawa payung,” papar Fanni.

“Yaudah benat gue turun ini ambil handphone  ketinggalan di perpus,” ucapku.

“Slow aja gue berdua kok,” jawab Fanny.

“Sama siapa?,” sahutku.

“Sama si Rene ketua kelas lu,” ucapnya Fanni yang segaligus membuatku lemas.

“Yaudah Fan, gue turun tunggu ya. Cepet ko, cepet banget malah,” jawabku.

Sebenarnya ku tak berani melirik kearah Rene yang sedang membaca buku di dekat rak tersebut. Bodohnya Indra dan Biru terus menerus mencoba menggangu entah siapa itu. Aku mencoba bersikap biasa seolah tidak tahu apa yang terjadi, dan memanggil ketiganya.

“Biru, Indra, Rene ayok turun udah ketemu ni handphone gue,” ucapku.

“Oh udah, yuk turun,” ucap Rene.

Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya, namun aku melihat Biru sedang membuka aplikasi chat. Aku berfikir memberi tahunya soal “Rene” melalui pesan.  Sambil berjalan ke arah pintu, aku mengirimkan pesan kepada Biru.

“Sini cepetan, itu bukan Rene. Rene di lobby sama Fanni, kasih tau Indra jangan nggodain dia terus, gue duluan !!,” tulisku.

Merasa berdosa sekali aku melihat ekspresi Biru yang terkejut bercampur takut, ketika membaca pesan yang ku kirim. Tak lama berselang kakiku keluar pintu ruang perpustakaan, Biru menyusul ku dengan langkah jalan cepat. Indra yang ditinggal rupanya tidak menyadari apa yang terjadi, dan terus mengajak ngobrol Rene.

“Lu udah kasih tau si Indra?,” tanyaku.

“Chat ke dia pending,” jawab Biru.

“Ah si tolol itu anak,  terus gimana dia masih di dalam. Telepon sama lu Ren,” ucap Biru.

Akhirnya setelah berjalan sedikit menjauh dari ruang perpustakaan. Aku mencoba menelephone Indra yang rupanya masih asyik bercengkrama dengan entah siapa itu sebenarnya. Terdengar handponenya berdering ketika ku menghubunginya, dan dia mengangkatnya.

“Indra ! yang di depan lu bukan Rene, si Rene ada di bawah sama si Fanni. Itu setannya !!,” teriakku di ponsel.

Tak lama berselang, terdengar jeritan Indra diirini derap larinya kearah kami. Kita lari begitu cepat sehingga tak sadar sudah berada di lobby sekolah. Benar ku melihat Fanni, Rene dan penjaga sekolah sedang berada di luar pintu.

“Kenapa lu bertiga?,” tanya Fanni.

“Itu..itu.. ada Rene,” jawab Biru.

“Eh, iya ini ada aku. Kok kalian aneh begitu ada apa?,” tanya Rene.

“Bukan..bukan Rene yang ini,” balas Biru.

“Kalian aneh, memang sih tadi aku dengar ada teriak-teriak di lantai tiga pas aku selesai membersihkan ruangan kelas. Tapi, aku keburu keluar karena melihat Fanni di luar,” tutur Rene.

“Sudah..sudah jangan dibahas, anggap saja kalian kena hukuman,” kata penjaga sekolah.

‘Sumpah gue liat Rene, tadi kita jalan bareng ke perpustakaan,” ungkapku.

“Enggak mungkin, Rene di sini dari tadi sama Fanni bahas program OSIS-nya,” ucap Rene.

Akhirnya dengan hati yang masih terguncang, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan aku menceritakan semua kepada Fanni. Hanya saja dia menanggapinya seperti lawakan yang lucu tanpa ada raut serius sedikitpun.

“Ya lagian lu, kenapa harus susah payah gitu. Bilang aja ke gue kalo mau belajar matematika, nanti di rumah gue ajarin,” ucap Fanni.

“Gue kira lu sibuk,” kataku.

“Lu gak pernah nanya, dari mana lu tau gue sibuk?,” balas Fanni.

“Yaudah mulai besok ya Fan, makasih loh ini sebelumnya tapi gue masih shock aja,” ungkapku.

“Slow.. tapi serem juga ya kalo kejadian kaya tadi. Tapi, kira-kira kalo gue jadi lu, hantunya bakal muncul nyerupai siapa ya, hahah,” goda Fanni.

“Berisk,” tandasku.


Keesokan harinya setelah kejadian itu, Indra tidak masuk sekolah karena izin kurang enak badan. Kupikir sepulang sekolah aku dan Biru akan menjenguknya. Semoga saja dia tidak apa-apa, tapi walau dalam bentu hantu, Rene tetap cantik ya.


(Waaah, kali ini lumayan panjang juga ya ceritanya Rendi dan kawan-kawannya. Dia lagi usaha buat kejar nilai sampai-sampai hantu juga dilawan. Tuh, buat kalian yang nilainya masih jelek, ayo semangat kembangin lagi potensinya. Tapi, hari ini kita kenalan sama Rene si ketua kelas yang baik, haloooo Rene. ya maaf ya pengenalannya jadi sesi seram gitu, janji nanti lebih baik hhi, (Mika) ^.^)

Kamis, 06 September 2018

#HUJAN !! AYO KITA LARI !! #06


#HUJAN !! AYO KITA LARI !! #06

Setelah melewati lima hari yang melelahkan, ditambah bertemu guru  matematika baru yang aneh kemarin. Rasanya butuh waktu untukku mencari udara segar, mungkin sedikit berjalan-jalan di tengah kota akan menyenangkan pikiranku.

Sabtu pagi itu, aku sudah memutuskan untuk menghabiskan waktuku, paling tidak melihat suasana baru ya walau hingga bangun tidur aku belum tahu akan kemana, dengan siapa, ataupun mau apa. Namun, teringat sesuatu ketika hendak ke kamar mandi, aku melihat tumpukan sepatu ku yang kondisinya sudah tidak karuan. Dari enam pasang sepatu  yang ku punya, mungkin hanya setengahnya yang bisa dikatakan layak pakai, sisanya mungkin lebih tepat dikatakan dipaksa dipakai. Terpikir seperti itu, aku memutuskan hari ini akan mencari sepatu, dan sepertinya orangtuaku juga sudah mengirimkan uang untuk bulan ini.

Selesai mandi dan melamunkan masa depanku di wc tadi. Aku teringat akan Fanny yang dari pagi belum keluar kamarnya, padahal ku mengira iya memiliki rencana akhir pekan ini. Terlebih, Minggu lalu dia membeli pakaian baru. Betapa terkejutnya ketika membuka pintu kamar mandi, aku melihat dirinya sedang berdiri tepat di depanku.

“Lama banget mandi kaya gadis,” ucap Fanny.

“Laki-laki butuh waktu lebih di WC,” sahutku.

“Hari Sabtu mandi pagi, pake baju bagus, padahal ujungnya main HP di kamar doang aja ya,” ledeknya.

“Kata siapa, hari ini gue mau mau pergi kayanya,” timbalku.

“Wih, sudah normal kah saudaraku ini,” katanya.

“Mending mandi sana deh. Mau nitip sarapan gak, gue mau beli makan di depan?,” tanyaku,

“Hmmm.. jalan, terus nawarin beliin sarapan, pasti baru dikirimin uang lu yaa. Haha,” tuturnya.

“Jadi mau apaan,?” sahutku.

“Samain aja sama lu, kan biasanya kalo lagi banyak duit lu makannya enak. Jadi gue otomatis makan enak juga hahah,” ungkapnya.

“Seni bertahan hidup ya?. Yaudah iya, pintu gue gak kunci, jadi habis mandi kalau gue belum balik, pintu kunci aja,” kataku.

“Ngapain dikunci, emang mau apa yang dicuri di rumah,” timbalnya.

“Gue heran anak kaya lu bisa jadi Ketua OSIS,” kataku.

“Karna ku berkarakter, yaudah sana nanti gue kunci pintunya. Eh, uang lu yang beliin gue baju, nanti ya digantinya, belum ada kiriman uang,” katanya.

“Santai lah, tapi bunganya 10 persen setiap hari haha,” candaku.

“Najis, pantes aja lu jomblo, rentenir dasar karma lu karma. Udah ah mau mandi gue,” tandasnya.

Entah kenapa, aku meliihat Fanny begitu ceria pagi ini. Mungkin benar dia memiliki rencana dengan seseorang, tapi setahuku dia tidak punya pacar di sekolah, tapi tidak mungkin juga kalau dia tidak punya teman dekat, ah sudahlah itu bukan urusanku.

Akhirnya aku membelikan sarapan bubur untuk sarapan kami berdua. Langkahku terhenti di depan pintu rumah, karena sudah hampir lima menit mengetuk pintu, Fanny tak kunjung membukanya. Padahal akupun buru-buru, sebelum pusat perbelanjaan di kota ramai.

“Fan, buka !,” teriaku.

“Oi, Fan !,”, teriaku lagi.

Ketika aku ingin berteriak untuk ketiga kalinya, pintu terbuka dan aku melihat fanny sudah berpakaian rapih, lengkap dengan baju yang baru dibelinya waktu itu. Dan saat itu aku sempat terpaku, karena dia terlihat berbeda.

“Sorry, tadi di kamar lagi rapih-rapih gak kedengeran,” ucap Fanny.

“Wiih, mau kemana bu cantik amat. Punya pacar lu?,”sahutku.

“Belum sih, hahah. Mana makanannya? Lu beli apaan jadinya,” tandasnya.

“Ni bubur, sama kaya yang gue beli haha,” kataku.

“Yaelaaah, udah cantik begini, awal bulan, dikasih makan bubur ayam. Sayang ini lipblam gue kena kuah bubur hahah,” candanya.

“Najis haha,” timbalku.

Setelah itu kami beranjak ke ruang tengah, untuk menyantap sarapan. Tapi, sekilas aku penasaran dengan siapa Fanny akan pergi.  Soalnya baru kali ini aku melihatnya berpenampilan seperti itu.

“Lu mau kemana Fan? Rapih banget,” tanyaku.

“Eh, hmmm.. mau main aja, kenapa? Tapi gak bisa ngajak lu hari ini gue, maaf yaa,” ungkapnya.

“PD tingkat thanos amat lu, lagian siapa yang mau ikut. Gue nanya doang,” sahutku.

“Hmm, temen gue ada yang ulang tahun, gue mau buat kejutan hehe,” ungkapnya.

“Weh, dimana?,” tanyaku.

“Dia kerja di toko kue mahal ala-ala gitu, gue mau kasih kejutan ke dia di tempat kerjanya hehe,” jawabnya.

“Cowok?,” sahutku.

“Hehe..iya, tapi tolong jangan bilang ke siapa-siapa gue malu,” katanya.

“Suka yang tua lu yak, hahah,” candaku.

“Ih bukan gitu juga, ya adalah alasan lain. Pokoknya jangan bilang siapapun. Kalo sampai ada yang tau, gue pastiin di sekolah lu bakal ikut kelas pembinaan pas liburan akhir semester nanti,” ancamnya.

“Ampun bos, janji..iya,iya santai aja atuh,” tandasku.

Akhirnya setelah sarapan, kami berduapun pergi ke tempat tujuan masing-masing. Walau aku tahu bahwa dia akan pergi dengan laki-laki, namun rasa penasaranku tetap ada. Akau bertanya dimana, bagaimana, dan siapa laki-laki itu. Tapi, aku percaya Fanny tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, apalagi dia mengancamku seperti itu.

Waktu berlalu cepat ketika kita merasa senang, walau berpergian sendiri aku tetap merasa senang. Setelah sedikit lama mencari di beberapa outlate sepatu di kota, akhirnya aku menemukan sepatu yang ku suka. Walau harganya lumayan mahal, namun sepadan dengan rasa puas karna memilikinya. Lelah beputar-putar, aku memutuskan untuk mencari makan siang, dan kebetulan ku dengan di sekitar sini ada restoran seafood baru yang tengah naik daun, walau sebenarnya aku memiliki alergi makan hewan laut. Tapi ku pikir tak apalah sesekali memaksakan, demi kepuasan sendiri.

Ku lihat jam menunjukan pukul empat sore, rupanya langit mulai mendung dan tiupan angin memang kencang, aku berani taruhan sedikit lagi akan turun hujan. Tak lama setelah ku selesai makan, benar saja hujan deraspun datang, dan membuatku terjebak di restoran seafood ini. Sembari bermain ponselku, terlintas terpikir soal keadaan Fanny yang entah sedang apa, dan dimana saat ini. Karena hujan deras, aku khawatir tidak bisa pulang sebelum malam. Maka dari itu aku putuskan untuk mengabari Fanny, untuk memastikan kapan ia akan pulang.

Aku mengirim message chat kepadanya, menanyakan dimana dia sekarang. Namun, lama tak ada balasan apapun darinya. Setelah ku menunggu cukup lama, ku putuskan untuk meneleponnya secara langsung, dan ternyata dia mengangkatnya.

“Halo Fann,” kataku.

“Ya Ren,” sahutnya di ujung telepon.

“Lu dimana, tadi gue chat lama banget balesnya. Gue lagi di tempat makan, hujan deras banget, kayanya gue balik agak malam deh,” paparku.

“Oh, iya gapapa ko, di sini juga hujan,” balasnya.

“Emang lu di mana ini? Gimana kejutannya lancar gak? Asik deh punya pacar haha,” candaku.

“Ya lancar kok, makasih ya udah repotin lu gara-gara ini,” ungkapnya.

Sekilas aku merasa ada yang aneh dengan Fanny, dari jawabannya dan nada biacaranya dia seperti tidak bersemangat dan bergetar.

“Slow, tapi ini lu di mana? Mau pulang jam berapa?,” kataku.

“Ini gue udah di jalan pulang, tapi lagi neduh di depan toko deket rumah,” jawabnya.

“Eh kok udah balik, gue kira lu masih sama acara lu,” kataku.

“Udah beres kok dari tadi, yaudah nanti kalo gue dah di rumah dikabari ya,” tutupnya yang sekaligus mengakhiri pembicaraan kami di telepon.

Aku yakin sesuatu yang salah sedang dirasakan Fanny, berani bertaruh ada sebabnya dari acaranya hari ini. Karena khawatir terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan untuk pulang kerumah dengan menggunakan taxi online.

Sepanjang jalan aku memperhatikan sekeliling jalan, mencari Fanny dan benar saja tepat tak jauh dari gerbang perumahan kami. Aku melihatnya tengah berdiri sendiri di depan toko dengan raut muka yang tak karuan. Seketika aku langsung menyuruh supir taxi untuk berhenti, dan lari menghampiri Fanny di sebarang jalan.

“Loh, Ren kok udah pulang katanya balik malem?,” tanya Fanny.

“Iya hujannya kayanya lama, makannya pake taxi online tadi. Lu dari tadi di sini?,” jawabku.

“Iya, hehe,” sahutnya.

“Lu kenapa, ada yang salah ? kok aneh gitu,” tanyaku.

Seketika Fanny menundukan kepalanya, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pada saat itu aku tahu, telah terjadi sesuatu padanya hingga dia seperti ini.

“Lu kenapa Fan, lu diapain sama siapa?,” tanyaku tapi Fanny hanya terus diam, dan menutupi wajahnya.

“Fan, yaudah yuk pulang gue pesenin taxi online lagi ya kita pulang, lagian celana lu basah nanti demam,” ajaku.

Ajakanku rupanya tidak menggerakan Fanny, ia terus menutupi wajahnya. Walau aku tahu pasti ada sangkut pautnya dengan laki-laki yang diceritakannya, aku coba untuk tidak membahasnya. Namun tiba tiba ia membuka lengannya, dan menunjukan raut wajahnya yang sedang menangis.

“Maaf ngerepotin lu lagi,” ucapnya.

“Enggak ko, ayo pulang gue udah pesen taxinya,” jawabku.

“Masih hujan, lu duluan aja gue di sini dulu,” katanya.

“Hei, Fan gue gak tau apa masalah lu. Tapi, lu yang sekarang bukan kaya Fanny yang gue tau,” ucapku.

“Maaf mengerepotin, tapi beneran gue gapapa Cuma mau sendiri dulu,” balasnya.

Karena tak tega dengan keadaannya saat ini, aku menarik tangannya dan keluar dari area toko ke guyuran hujan.

“Rendi, ngapain sih hujan !,” sentaknya.

“Ayo pulang, hujan cuma air gak lebih,” jawabku, namun Fanny menarik lenganku untuk menghdariku dari kucuran hujan.

“Heh, Fan kapan terakhir kali lu ujan-ujanan?,” tanyaku.

“Mau ngapain lu?,” jawabnya.

“Kita lomba lari sampai rumah, yang kalah buatin makanan malam ini,” tantangku.

Fanny hanya terdiam, dan aku melihat dia memakai sepatu yang memiliki hak. Tentu aku tahu dia tidak biasa memakai model seperti itu, karena biasa memakan sepatu kets.  Untuk menghiburnya, aku mengeluarkan sepatu yang aku baru beli tadi, dan menyuruhnya untuk memakainya.

“Ni pake buru, gue tau cewek bar-bar kaya lu gak bisa pake sepatu cewek normal kaya gitu,” ucapku.

“(Menggelengkan kepala),” gerak Fanni.

Kesal lantaran ia tidak berubah sikap, aku menarik kakinya dan melepaskan sepatu hitam berhak itu secara paksa, sambil memasangkan sepatu baruku ke kakinya.

“Rendi, apa-apan sih gue gak mau !,” bentaknya.

“Diem aja lu, kita mau lomba lari ke rumah,” sahutku.

Setelah berhasil memasangkan sepatu di kakinya, aku menariknya ke guyuran hujan dan berkata.

“Apapun yang terjadi ke lu, lu harus jadi Fanny yang biasanya di depan gue,” tegasku.

Akhirnya aku menariknya sambil berlari, dan sekitar 20 meter berlari Fanny narik tanganku dan melihatku dengan wajah yang tak nampak karuan, sangat berbeda dengan tadi pagi yang seoal ceria dan bersemangat. Namun, betapa terkejutnya ketika dia tiba-tiba berteriak.

“Fucking Liar !!,” teriaknya dan langsung berlari meningkalkanku.

Tak sampai beberapa langkah di depanku dia menoleh kepadaku, sambil berteriak.

“Gue mau makan nasigoreng seafood malam ini, lu kalah balapan lari. Lu bikini gue gak mau tau !,” teriaknya sambil terus berlari.

Aku terasa aneh, namun senang karena aku tahu Fanny mulai merasa baik, karena yang barusan itu memang dirinya. Sesampainya di rumah, Fanny langsung masuk kamar dan tidak keluar, aku tidak berani masuk atau mengganggunya, jadi aku biarkan dia sendiri di kamarnya, dan menunggu dia keluar sambil membuatkan nasi goreng karena kalah balap lari tadi. Namun, aku terkejut ketika ponselku berbunyi karena seseorang menelponku dengan nomer yang tak di kenal.

“Halo mas, saya sudah di lokasi dari 5 menit yang lalu. Mas di mana ya?,”

Astaga, aku lupa membatalkan pesanan taxi online yang ku pesan ketika di toko berteduh tadi. Rasa malu tak terhindarkan lagi, karena hal itu namun aku segera meminta maaf kepada pengemudi tersebut, dan memberinya tip dari saldo akunku. Namun, itu tidak sepadan dengan apa yang telah aku dan Fanny lewati tadi. Akan tetapi, aku harus menerima bahwa sepatu baruku tidak bisa dipakai besok, karena basah dan kotor sehabis dipakai Fanny berlarian tadi.




(Huaaaahh, maafkan baru ada update kembali, karena sibuk dengan pekerjaan serta skripshit. Tapi, boleh juga yaa ide Rendi. Kira-kira kalau kalian diajak lari hujan hujan mau gak yaaaa? Tapi jangan lupa bintang lima ya kaka,hihi (mika) ^.^)



Kamis, 09 Agustus 2018

Cerpen "Cinta itu Gila, bukan Logika," CP#5

#GURU BARU, KONTRAK BARU #CP5

Akhir pekan telah berlalu, saatnya kembali ke lima hari menjenuhkan. Berhadapan dengan orang-orang yang sama, masalah yang sama, kegiatan yang sama dan matematika. Seperti biasa, di hari Senin setelah upacara, aku selalu menuju atap sekolah itu adalah tempat bersantai sejenak, menghidari gilanya angka-angka tersebut selama dua jam kedepan. Akan tetapi, sempat terpikir olehku, karena Pak Ramly telah penisun mengajar, siapa yang akan menggantikannya. Ah, sudahlah siapapun yang mengajar, itu tidak akan merubah persepsiku.

Tigapuluh menit berlalu semenjak bel masuk kelas berbunyi, rupanya rasa jenuh mulai datang. Berniat mengusir rasa sepi, aku merogoh kantung celana. Namun, ah sial aku lupa ponselku berada di tas di kelas. Melihat jam belajar yang sudah berjalan 30 menit, kecil kemungkinan guru tersebut belum masuk kelas. Tapi, kebosanan ini juga membuatku kesal, mungkin aku harus mencoba mengambilnya, ku putuskan untuk masuk ke kelas dan langsung keluar lagi dengan alasan buang air kecil.

Tanpa membuang waktu lagi, aku mulai menyusiri lorong. Kelasku berada di ujung lorong, namun sebelum itu aku harus melewati kelas fanny, ya tentu saja dia pasti curiga bilaku berkeliaran di luar kelas ketika jam mengajar berlangsung, terlebih dia ketua Osis pasti akan melapor ke guru di kelasku. Akan tetapi, jika tidak mengambil resiko tersebut, aku akan lebih bosan di sini.

Aku mulai menyusuri lorong, dari jendela kelas aku melihat Fanny sedang membaca buku. Tapi, sepertinya gelagatnya aneh, karena dia menunduk ke arah loker meja padahal guru sedang menerangkan pelajaran. Ketika ku perhatikan lebih jelas, ternyata dia sedang mengetik pesan di ponselnya, entah ditujukan kepada siapa aku tak perduli. Setidaknya dengan itu, perhatiannya akan teralihkan. Tanpa membuang kesempatan, aku langsung berjalan cepat menuju kelas ku. Namun, tiba-tiba suara seseorang yang belum pernah ku dengan memanggil namaku.

"Rendi," panggilnya.

"(Menoleh mencari sumber suara),".

"Ya, pasti kamu rendi, dari kelas III B. Kok tidak ada di kelas?," ucapnya.

"Kakak, pasti petugas guru piket baru ya. Tadi saya izin ke toilet, ini baru Mau masuk lagi," jawabku.

"Izin ke siapa kamu?," tandasnya.

"Ya ke guru di kelas saya kak," sahutku.

"Oh begitu, saya harap tadi kamu betul ke toilet ya," katanya.

"Loh memang kenapa bu, izin ke toilet gak harus bilang ke guru piket," tuturku.

"Ya karena saya tidak mau menghukum murid, membersihkan seluruh toilet di hari pertama saya mengajar di sini. Karena dia bolos dan membuat alasan jelek seperi itu," tegasnya.

"Oh, maaf saya kira ibu guru piket, ternyata guru kelas. Memang mengajar di kelas mana bu?," tanyaku.

"Kelas kamu !," sentaknya.

Aku hanya bisa terdiam, karena tidak percaya bahwa kakak-kakak yang sepertinya baru lulus kuliah tersebut, merupakan guru matematikaku yang baru. Setelah kejadian itu akhu harus kembali melapor ke ruangannya, untuk membuat pernyataan. Sebelumnya, aku sudah pernah membuat pernyataan seperti ini dengan Pak Ramly, dari peringatan satu, dua. Tapi, anehnya selalu balik lagi menjadi surat pernyataan ke I. ya mungkin itu faktor umur Pak Ramly sepertinya dia lupa.

"Oi, ren udah kenalan lu sama guru baru ? Haha," ejek Indra kepadaku.

"Savage yak teman kita yang satu ini, di first blood. Haha," timbal Biru.

"Sumpah gue gak tau itu guru matematila yang baru. Tau-tau dari ruang koridor dia manggil nama gue," sahutku.

"Tanda-tanda tertindas lagi lu kayanya ren," ucap Biru.

"Eh, tapi dibanding Pak Ramly, seengganya yang ini jauh mendingan. Lebih enak diomelin cewek cantik, dari pada sama aki-aki. Ibaratnnya tuh, enakan nangis di BMW dari pada nangis di bajaj hahaha," cetus Indra.

"Dabest dah lu berdua. Emang siapa itu guru namanya?," balik tanyaku.

"Namanya Bu Susan, doi baru lulus SI. Pantes masih seger gitu," jawab Indra.

"Uuuhh, Ren lu nyesel gak masuk matematika sekarang. Hawa tanah seolah jadi wangi semerbak parfum impor. Hahah," tandas Biru.

"Rambut panjang diurai, matanya yg cokelat masih keliatan biar kata kehalangan kacamatanya, badannya yang kaya gitar Gibson Jhon Lennon. Damn !, gue rela matematika jadi 10 jam kalo gini, hahaha," ungkap Biru.

"Lu semua abis nonton b*kep Theacer in law?," sahutku sekenanya.

Akhirnya aku tahu bahwa guru tadi bernama Susan, mungkin ia guru yang dimaksud Pak Ramly beberapa waktu lalu. Lelah pagi-pagi sudah mendapatkan masalah, aku lebih baik memenuhi panggilan guru baru tersebut.
Karena aku tidak tahu ruangannya yang mana, aku memutuskan untuk mengecek satu-satu bilik kerja di ruang guru. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bokong Bu Susan sedang menungging, sepertinya dia sedang mencari sesuatu di kolong meja kerjanya.

"Anu, permisi Bu Susan," sapaku.

"(Dug !!). Aw, rendi ya. Duh maaf flasdisk ibu jatuh. Sepertinya ke kolong meja," jawabnya sambil perlahan-lahan bangun.

"Oh iya bu..hmm kira kira ada apa ya saya dipanggil?," tanyaku.

"Soal itu, bukannya sudah jelas kalau kamu bolos masuk kelas matematika,"..

"Anu, kan tadi saya sudah jelaskan, kalau saya izin dari toilet,"

"Orang macam apa kamu yang mengbiskan waktnya hingga 30 menit di toilet,"

"Itu..yaa karna itu bu,"

"Iya karna itu kamu saya panggil. Saya sudah periksa berkas nilai kamu, ternyata sepertinya kamu punya phobia matematika ya. Haha,"

"Anu itu karna,"

"Kamu anu anu mulu, kenapa anu kamu,"

"Bukan !!, ya karna saya memang gak suka aja pelajaran itu,"

"Hmmm, saya paham soalnya dulu juga ibu gak suka matematika. Tapi, sebagai guru ibu punya cara bagaimana supaya kamu bisa suka matematika,"

"Ya?,"

"Ini, kamu baca coba," menyodorkan selembar kertas.

Akhirnya, ucapan susumbar dan ketakutanku menjadi kenyataan. Akhirnya surat peringatan ke III karena ulah ku membolos dalam jam belajar muncul. Dimana isinya, sebuah pernyataan bahwa aku akan dikenakan sanksi skorsing selama waktu yang ditentukan, jika kedapatan membolos pelajaran matematika lagi.

"Yuppss, silahkan ditanda tangan, ini bolpaintnya. Tanda tangan dan cantumkan namamu ya," ucap Bu Susan.

"Bu ini harus?," tanyaku.

"Kamu mau diskors sekarang?," jawabnya sambil memberikan senyum.

"Baik bu, ini sudah," dengan terpaksa aku menandatangani surat perjanjian tersebut.

"Nah, jika begini kamu dan saya sudah punya kontrak. Dengan ini juga saya bisa mengenal murid-murid saya, kan gak kenal tak sayang. Biar sayang, makannya kenalan. Karena kamu bolos di jam pertama dan melewatkan sesi perkenalan tadi, saya pikir ini cocok untuk kamu, hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Ya bu, terimakasih. Nama saya Rendi Permata dari kelas III B, mohon bantuannya," sahutku.

"Loh, .. Haha. Baik saya Susan, kamu bisa panggil saya Bu susan, atau Miss Susan. Ya, walau saya bukan guri bahasa inggris. Tapi panggilan bu sepertinya terlalu tua," ungkapnya.

"Ya bu,"

"Baiklah, silahkan kembali ke kelas kamu. Terimakasih atas pengenalannya, lusa jangan ke wc lagi ya," tandasnya.
Bel pulang sekolahpun berbunyi, akhirnya jam-jam menyiksa telah berakhir. Tapi, apa yang lebih menyebalkan selain hari ini. Ya, karena besok kejadian ini akan terulang lagi selamanya hingga aku lulus nanti. Namun, aku bersyukur setidaknya guru matematika yang baru, tidak memakai cincin ditangannya. Tapi, sepertinya dia lebih berbahaya, mungkin aku harus waspada.

#uuhhh, guru baru yang katanya cantik telah muncul. Bagimana ya nasib Rendi, mungkin gak ya dia rajin masuk pelajaran matematika, atau malah di skors. Tunggu lanjutannya yaaaa. Stay on TolatetooBlog ^.^ (Mika).

Cerpen "Cinta itu Gila, bukan Logika" CP#04

CP#04
#APA ITU SISI FENIMINNYA?

Walau tinggal satu atap, tidak berarti aku dan Fanny melakukan segalanya bersamaan. Jarang sekali kami berdua mengahabiskan waktu bersama. Mungkin karena aku kurang suka berpergiaan, dan sebaliknya dia dan teman-temannya selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Adapun jika ingin, Indra dan Biru terkadang mengunjungi rumahku, untuk mengahibskan waktu atau menghabiskan makanan tepatnya.
Sore hari itu setelah kejadian di kamarnya saat pagi hari, kami aku memutuskan untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan di kota. Entah apa yang ia ingin beli, tapi setahuku dia bukan type cewek yang suka menghabiskan waktu seperti itu. Namun, karena memang tidak ada rencana bersama yang lain, dan terlanjut berjanji meminjamkan uang dan mengantarnya maka kamipun pergi.

Bagiku pergi ke mall atau pusat perbelanjaan sendiri, merupakan kegiatan yang membosankan karena terlalu mainstream. Dimana kita hanya disuguhkan dengan etalase benda-benda serta keramaian orang yang tidak jelas. Tapi, sesekali mengunjungi tempat ini mungkin bisa mengurangi rasa bosanku.

Sesampainya di mall, aku hanya bisa mengikuti Fanny lebih tepatnya seperti ajudannya, karena aku tidak tahu mana toko ataupun barang yang dia ingin beli. Setelah beberapa waktu keluar masuk toko, namun tidak ada yang dia beli aku mulai kesal. Bagaimana bisa wanita berbelanja hingga hampir memutari setengah toko yang berada di mall.

“Lu nyari apa sih?,” tanyaku..

“Ih gak ada barangnya yang gue cari, sabar atuh,” jawabnya.
“Ya nyari benda apa?.”

“hmmm..inyari itu,”

“Itu apaa?,”

“Baju dress hitam, hehe,” ungkapnya sambil sedikit tersipu.

Setahuku, dia tidak pernah memakai pakaian yang terlihat seperti cewek. Bahkan saat ini saja dia memakai celana jeans, kaos, dan spatu kets. Entahlah, apa yang dia rencanakan mungkin ia memiliki acara khusus yang harus memakai baju khusus seperti itu.

“Hahaha, gue kira lu gak bisa pake pakaian kaya gitu,” ucapku.

“Ah, udah  ih bantuin cari aja sih,” katanya.

“Kita nyari udah hampir dua jam, udah kaya tawaf di mekah tau gak lu muter-muter. Masuk tokok ini keluar tokok itu,”

“ya habis gimana modelnya gak ada yang cocok,”

“Gak ada yang cocok, atau lu gak tau modelnya kaya gimana? Haha,”

“iihh ngeselin lu ah,” tandasnya sembari memukul pelan kearah ku.

Tidak beberapa lama, akhirnya kami masuk ke salah satu toko yang memang kelihatannya menjual baju-baju gaun seperti itu. Nampak kelihatan mewah dan mahal busana yang dijangkan, aku khwatir karena Fanny meminjam uangku untuk berbelanja, jumlahnya tidak akan cukup. Terlebih, aku baru akan mendapat kiriman uang bulanan dua minggu lagi.

Sesaat aku memalingkan perhatianku ke ponselku, Fanni memanggil sembari munjukan salah satu baju yang sepertinya dia inginkan. Nampaknya, sebuah baju terusan berwarna hitam, dengan model elegan  namun, dengan panjang diatas lututnya. Dia menyuruhku untuk menunggu, selagi dia mencoba bajunya di ruang pas. Aku membayangkan jika kelak aku memiliki isteri, lebih baik aku memberinya uang dan membiarkan berbelanja di mall sendiri, ketibang harus menemaninya seperti ini.

“Heh, sini deh..,” panggil Fanny sambil melambaikan tangannya dari ruang ganti.
“Udah?,” jawabku.

“sini dulu liat ih,”

“yakali fan gue masuk ke sana, lu yang keluar atuh,”

“hmm bentar..”

Dan ketika dia keluar dari tirai ruang ganti, aku melihat sosok Fanny yang aku kira tidak pernah melihatnya. Rambutnya yang diurai, sembali mengyunakan baju hitam tadi, mengalihkan pandanganku sesaat. Berbeda dengan selama ini yang terlihat acuh dan urakan, tapi saat itu dia terlihat seperti wanita yang memang benar-benar ingin tampil sempurna.

“Gimana menurut lu? Bagus gak?,” tanyanya.

“Eh, bagus kok lu pantes sih pake kaya gitu, haha,” jawabku.

“Maksud lu? Kurang ajar gini-gini juga gue cewek ya wajarlah, cantik ya yak, haha,”..

“Ya lumayan lah, buat ukuran urakan lu mah,”..

“Eh, yang bener atuh,”

“iya bagus kok, udah cepetan bungkus lah,”

“okeeh, tunggu ganti lagi yak,”

Setelah beberapa saat dia mengganti pakaiannya, kami langsung menuju kasir untuk membayar baju tersebut. Tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.

“Bayarin dulu yak, tar gue ganti pas dapat kiriman uang,” bisiknya.

“emang berapa?,” balasku.

“Rp.350 ribu,”.

“hmmm..(Menelan ludah)”

Dengan perasaan sedikit cemas, aku membayarkan bajunya yang seharusnya uang tersebut untuk jatah makan selama satu minggu kedepan. Namun, karena sudah berjanji kepadanya tidak mungkin aku membatalkannya, terlebih sepertinya dia memiliki sebuah rencana besar dengan baju itu.

Tidak lama setelah itu, kami memutuskan untuk makan, dan melihat beberapa toko . Karena sudah tidak ada yang bisa dibeli dan cukup lama berada di mall tersbeut, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah, aku lihat Fanni masih sibuk mencocokan baju yang dibelinya tadi, dengan beberapa aksesoris serta sepatu. Aku bertaruh dia akan menghadiri acara resmi, ataupun pesta semacam itu, karena tampilannya begitu elegan tapi formal. Rasa penasaran ingin membuatku bertanya kepadanya, tapi aku tidak ingin mengganggu privasinya. Jadi kuputuskan untuk munggunya saja hingga dia yang menceritakannya sendiri.

#Wah ternyata Fanny membeli baju seperti itu, kira-kira untuk apa ya. Apakah ada rencana besar, atau kejutan. Yuk kita tunggu kejutannya.. ^.^ (Mika).
 

Rabu, 08 Agustus 2018

"Cinta itu Gila, bukan Logika" CP-03


#ISTIRAHAT DI RUMAH, TIDAK APA.

Tinggal hanya berdua dengan saudarimu yang tergila-gila akan kedisiplinan, tidaklah terlalu buruk. Tapi, bersekolah selama lima hari, bukankah cukup menyita tenagaku. Menjadi remaja tanggung seperti ini, membuat akhir pekanku seharusnya menjadi surga bermalas-malasan. Namun, adanya Fanny seolah dia menjadi 'motherland', dan aku hanya menjadi pribumi.

Tidak seperti akhir pekan remaja laki-laki seusiaku yang bisa bangun siang hari. Fanny selalu membangunkanku tepat pukul 07.00, bukannya karena rasa perhatian saudari kepada saudaranya. Akan tetapi dia melakukan itu, untuk menyuruhku melakukan perkerjaan kewanita-wanitaan di rumah.
Sejujurnya apa yang dilakukan Fanny tidaklah salah, lantaran wajar karena kami hanya tinggal berdua saja. Orangtuanya hampir sama dengan diriku, karena penugasan negara menjadi tentara, ibu dan ayahnya kembali setiap enam bulan sekali. Aku berani bertaruh, jika sifatnya yang seperti itu, hasil tempaan kedua orangtuanya tersebut.

Tapi, Sabtu pagi itu ada yang berbeda dengan Fanny. Aku bisa terbangun siang hari, pada awalnnya memang aku merasa sangat senang karena bisa bangun tanpa paksaannya. Berniat untuk menyegarkan diri, aku tidak melihat adanya kegiatan yang dilakukan dia, lantaran keadaan rumah masih sama seperti sore hari kemarin. Cemas terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan masuk ke kamarnya. Walau kami telah tiga tahun tinggal bersama, tetap saja ada peraturan antara laki-laki dan perempuan yang diterapkan. Jika tidak seperti itu, mungkin nyawaku bisa terancam, karena saudariku itu merupaan atlet karate sabuk hitam di sekolah.

Karena rasa penasaran, aku memutuskan memeriksa ke kamarnya. Ya tentu aku mengetuk pintunya terlebih dahulu. Walau begitu, tetap saja aku gugup untuk masuk ke kamar seorang perempuan. Ya, tapi tidak salah juga saudara laki-laki mencemaskan saudarinya.

"Hei, Fan sudah bangun?," tanyaku sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Fan?,"..

Beberapakali aku mengetuk namun tidak ada jawaban, rasa penasaranku menjadi semakin tinggi. Ku putuskan untuk membuka pintunya yang ternyata tidak terkunci. Gelapnya ruangan kamarnya, pengelihatanku menjadi samar. Mataku terpana, ketika menyalahkan lampu dan melihat Fanny yang tertidur di kasurnya menghadap ke arah jendela, hanya menggunakan pakaian dalam. Dadaku terasa berdebar, sedetik aku terpaku melihatnya. Sedetik kemudian aku langsung mematikan kembali lampu kamarnya, dan segera keluar kamarnya sebelum dia terbangun dan sadar aku melihatnya dengan seperti itu.

Beberapa jam setelah kejadian itu, aku mendengar suara pintu kamar fanny terbuka. Saat itu aku sedang menonton tv, dan tepat berada di depan kamarnya. Mataku langsung teralihkan ke arah pintu tersebut, dan melihatnya sudah lebih tertutup dibandingkan tadi pagi. Jarang sekali aku melihatnya tidak karuan seperti itu, rambut yang berantakan, wajahnya seperti lelah, dan matanya seperti tidak bersemangat.

"Hoaam, jam berapa sih?," tanyanya.

"Dih baru bangun, jam 11," sahutku..

"Lu dah makan?,"..

"Gw td beli ketoprak di depan, itu di meja yang punya lu,"

"Weh weh weh, udah dikirim duit lu yak, sama bokap nyokap lu?,"

"Halah, sisa receh ini juga, lu udah dikirimin?,"

"Belum juga, padahal hari ini ada yang mau gue beli,"

"Beli apaan? Mau pake yang gue dulu?,"

"Nanti deh, sore sekalian anter ya. Minjem duitnya, orangnya juga haha,"

"Siapa?,"

"Gue lah,"

"Yang nanyaaaa,"

"B*bi !!,"

Rasanya dia baik-baik saja, mungkin karena kelelahan tugas disekolah. Ya wajar dia seorang ketua Osis, pastinga punya beban tanggung jawab yang banyak. Setelah obrolan tadi, dia langsung mengambil makanan untuk sarapan, dan duduk di sofa bersamaku. Namun, entah kenapa aku sedikit terasa canggung, mungkin karena kejadian tadi pagi aku masih malu. Aku bertanya bagaimana jika dia sampai tahu, kalau aku melihatnya setengah bugil di kamarnya.

"Kenapa lu melamun?," tanya Fanny.

"Eh,..apan?," jawabku.

"Mikir jorok lu yak !!,"..

"Naon siiihh..,"

"Hahaha, santai lah. Eh, gue denger Pak Ramly berhenti ya,"

"Eh masa sih? Gue baru tau, kenapa emang?,"

"Gue juga belum tau alasannya, tapi ya lebih bagus gitu lah. Kasihan dia guru baik, tapi sampai tua gitu belum diangkat jadi pegawai negeri,"

"Baik dari mananya, lu belum pernahkan ngerasain cincinnya mendarat di kepala lu,"

"Ya itu sih salah lu, dah tau guru begitu. Pake acara bolos,"

"Ya..ya..ya,"

"Eh, lu beneran ada uang? Gue pake dulu yak, tapi anterin gue beli sesuatu nanti sore. Lu gak kemana mana kan?,"

"Iya gak kemana mana,"

"Iyalah, jombol mah bebas yak haha,"

"Bodoamat,"

Walau hanya tinggal berdua, rasanya kami saling terkait satu sama lain. Terlepas dari nasib keluarga, ataupun ikatan saudara, ya tetap saja wanita itu menyebalkan.

#kira kira Fanny mau beli apa ya, apa bisa dibilang malam mingguan? Tetap tunggu yaa lanjutannya. ^.^ (Mika)

Selasa, 07 Agustus 2018

Cerpen "Cinta Itu Gila, bukan Logika" 01-02

Hari itu untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membuatku merasa ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan. Namun, jika keinginan hanya berupa angan, apa daya aku tak punya keberanian untuk memulainya, terlebih dia merupakan seorang.....

CP#1 : AKU YA, AKU !!

Namaku Rendi Permata, saat ini aku merupakan seorang murid kelas XII SMA di salah satu sekolah swasta di kota ku. Tak segemilang nama “permata”, kehidupan sosial, hingga pergaulankupun tidak seberkilau itu. Aku tinggal bersama saudari perempuanku, karena kedua orangtuaku telah bercerai dan saat ini mereka telah memiliki kehidupan baru masing-masing.

Hidup berdua dengan saudariku tidaklah cukup jelek, karena saudariku tersebut bisa dibilang termasuk wanita yang cantik. Memiliki rambut sebahu, putih, dan tanpa makeup. Kebetulan dia merupakan salah satu siswi berprestasi dan “bersinar” di sekolahnya. Namun, sayangnya sekolah yang dimaksud sekolah ku juga. Jabatannya sebagai ketua OSIS, sungguh membuatku gila karena ia begitu tegas, tanpa pandang bulu termasuk kepada diriku. Ya walau begitu, aku tetap memanggilnya Fanny..

Seperti yang aku bilang, aku murid dengan kemampuan otak biasa-biasa saja, dan bergaul normal-normal saja. Pada dasarnya sebenarnya aku bisa menguasai semua mata pelajar, walau terkadang harus meminjam buku catatan teman sekelasku, karena aku sering bolos saat jam belajar terutama pelajaran matematika.

Membayangkan deretan angka yang membingungkan, serta simbol-simbol aneh hingga tata cara penghitungannya sungguh membuatku muak. Semenjak kelas I sampai dengan sekarang, aku tidak pernah berhasil meraih nilai standar, dimana aku harus selalu mengikuti sesi perbaikan nilai. Akan tetapi, hasilnya tetap sama saja. Hal itulah yang membuatku  sering membolos ketika mata pelajaran matematika.

Setiap Senin, selepas upacara bendera aku tidak lantas kembali ke kelas seperti murid pada umumnya. Namun, aku menuju ke tempat yang ku sebut ‘nirwana’. Yups, itu merupakan balkon gedung sekolahku yang berada di lantai tiga. Menghirup udara pagi sembari mengunyah permen karet, merupakan surga bagiku dibandingkan masuk ke kelas disiksa dengan angka-angka, hingga guru yang tak berpri-kemuridan itu seperti di neraka.

Berbicara soal bantuan, aku memiliki dua sahabat  mereka itu Biru dan Indra. Walau terkadang mereka menyebalkan, namun mereka merupakan team suport dan penyerang saat aku mendapatkan masalah. Bahkan bisa menjadi malaikat penolong ketika waktu ulangan matematika, namun mereka seolah menjadi malaikat pencabut nyawa ketika jam istirahat datang.
                                                                               
-001-



CP#2 : MALAIKAT ATAU IBLIS

Ketidak sukaanku akan mata pelajar matematika, sering membawaku kepada masalah-masalah dengan guru. Bukannya tidak pernah bebruat onar, aku pernah ketahuan merokok di kamar mandi wanita, tidur di kelas, menjahili mobil guru, hingga kabur dari sekolah saat jam belajar berlangsung. Namun, dari itu semua tidak ada hukuman yang separah diberikan guru matematika ku yakni, Pak Ramly.

Dirinya sudah menjadi guru matematikaku selama tiga tahun, mungkin ini yang dinamakan hukum karma murid brandal.Penampilan seperti kakek setengah abad, memakai cincin-cincin besar di setiap jari lengannya, belum lagi nafasnya yang bau rokok, membuatku tambah tidak ingin menyentuh pelajaran matematika. Jika dipikirkan apa fungsinya mempelajari ilmu, yang tidak akan kau pakai di masa depan. Ya, karena memang dari hasil observasiku ke beberapa tetanggaku yang sudah kerja, tidak ada bos mereka yang menanyakan rumus segitiga sama kaki, hingga pembagian aljabar.

Hari itu, aku mendapat panggilan dari pengeras suara di kelas, untuk segera menghadap ke ruangan Pak Ramly tersebut. Aku sudah bisa membayangkan bagimana ekspersi marahnya, serta batu cincinnya yang siap membombardir kepala ku, karena dia tahu bahwa semenjak dua minggu kemarin aku hanya masuk dua kali di kelasnya tanpa mengumpulkan tugas.

Sebelum keadaannya emosinya bertambah parah, aku berpikir untuk segera menemuinya. Lorong ruang guru yang sempit, seperti menjadi jembatan sirotulmustaqim, dan ruangannya merupakan tempat penyiksaan yang disiapkan khusus bagi para murid pendosa sepertiku.

“Selamat siang, permisi Pak Ramly,” ucapku sambil membuka pintu ruangannya.

“Harus bagaimana saya mendidik kamu, Rendi?,” sahutnya.

“Anu pak..,”

“Kenapa anu mu?,”

“eh bukan, maksudnya ada apa bapak memanggil saya?,”

“Jangan pasang wajah tanpa dosa seperti itu. Kamu pikir saya sudah pikun ya, bisa lupa berapa kali kamu absen di kelas saya,?”

“Hehehe...,”

Saat itu aku sudah berpikir, “ya tuhan secepat inikah perjalanan hidupku, bahkan aku belum mencicipi rasanya kelulusan SMA,”. Namun, tiba-tiba Pak Ramly berdiri dan berjalan kerah lemari berkasnya, sembari mencari berkas-berkas.

“Itu, kamu buka berkasnya,”

“ini apa pak?,”

“Ya buka bahlul,”

Bukan main, ternyata isi dari berkas itu semua merupakan hasil ulangan pelajaran matematika ku semenjak kelas I hingga kelas III. Dalam pikiranku apa ini cara Pak Ramly mempermalukanku, agar aku berubah lebih giat. Akan tetapi, rasa benciku kepada pelajaran tersebut sekiranya sudah tidak bisa dikalahkan dengan tumpukan selembaran nilai tersebut.

“Rendi, bagaimana bapak harus mengajarkamu?,” tanya Pak Ramly.
Aku terdiam, bukan karena aku takut melainkan kaget. Ku kira kepalaku akan bocor kali ini, karena dibombardir oleh batu cincinya, namun beliau hanya bertanya demikian.

“Ya sewajarnya seperti guru saja pak,” jawab ku.

“Apa bapak sudah seperti guru bagimu?,”

“Ya kan Pak Ramly memang seorang guru, lantas kenapa bapak tanyakan hal itu lagi kepada saya,?”

“Rendi, tugas sebagai guru bukanlah hanya mengajar, namun juga mendidik. Bagimana bisa bapak dengan umur yang sudah uzur ini, membiarkan anak bodoh yang bapak ajar selama tiga tahun tidak pernah lulus satu kalipun dalam ulangan matematika. Untuk seorang guru itu adalah dosa besar, jika membiarkan ada murid bernasib sama nantinya sepertimu,”

“jadi maksud bapak saya anak bodoh?,”

“Kamu tidak bodoh, hanya saja pengecut,”

Kesal akan perkataan Pak Ramly tersebut, emosiku terpancing aku menggebrak meja sembari berkata.

“Saya tidak bodoh, hanya saja saya tidak ingin membuang waktu untuk pelajaran yang tidak terpakai ilmunya,”

Sedetik kemudian aku sadar, bahwa aku telah kehilangan kendali hingga berani berucap seperti itu. Aku melihat tangan pak Ramly mengambil map berwana merah, ku kira dia ingin menampar wajahku menggunakan itu. Betapa terkejutnya aku bahwa ia menyodorkan semua hasil rapor nilai mata pelajaranku yang lain.

“Lihat kamu bisa menguasai mata pelajaran lainnya, bahkan beberapa diantaranya mencapai nilai hampir sempurna,” cetus Pak Ramly.

Mendengar ucapannya diriku hanya bisa terdiam, dan menundukan wajahku seperti siswa pada umumnya yang dimarahi para gurunya ketika melakukan kesalahan.

“Rendi, bapak tau kamu tidak bodoh. Kamu anak yang cerdas ya walau tidak pintar-pintar banget. Tapi, masalahmu dengan matematika ini adalah, rasa malas,” ungkap Pak Ramly.

“Entahlah pak,”

“Maka dari itu, bapak sudah berkomunikasi dengan wakil kepala sekolah bidang akademik. Untuk mendatangkan guru baru guna menggantikan bapak mengajar matematika di kelasmu nanti,”

“Maksud bapak?.”

“Ya saya pensiun bodoh, puluhan tahun mengabdi sebagai guru lepas. Rupanya sudah saatnya saya menikmati hidup, tanpa dikejar-kejar rasa penasaran kapan diangkat menjadi pegawai negeri. Terlebih dengan usia ku sekarang ini tenagaku berkurang jauh, apalagi jika harus bertemu dengan murid sepertimu,”

“hmmm.. ”

“Bapak berharap semoga guru baru ini, mampu memberikan motivasi kepada mu agar lebih baik dalam belajar matematika,”

“Baik pak, terimakasih. Tapi, sebelumnya saya ingin mengucapkan sesuatu,”

“Apa?,”

“Maafkan saya tadi memukul meja bapak, kerana saya tidak terima dibilang sebagai orang bodoh,”

“Pada dasarnya kau memang sudah bodoh, jika tidak bodoh kau tidak ku panggil kesini. Cepat kembali ke kelasmu,” tukas Pak Ramly.

Lelah mendengarkan obrolan serius seperti tadi, aku memutuskan untuk tidak kembali ke kelas.Namun, bersantai di ‘nirwana’ sembari menunggu jam pulang datang. Akan tetapi, pikiranku terganjal dengan cuapan Pak Ramly tadi, bahwa akan ada guru baru pengganti dirinya.
Aku kira kedepannya sama saja, siapapun yang mengajar. Aku akan tetap seperti ini.


                                                                          -002-

(belum udahan ya ^.^ (Mika))