#GURU BARU, KONTRAK BARU #CP5
Akhir pekan telah berlalu, saatnya kembali ke lima hari menjenuhkan. Berhadapan dengan orang-orang yang sama, masalah yang sama, kegiatan yang sama dan matematika. Seperti biasa, di hari Senin setelah upacara, aku selalu menuju atap sekolah itu adalah tempat bersantai sejenak, menghidari gilanya angka-angka tersebut selama dua jam kedepan. Akan tetapi, sempat terpikir olehku, karena Pak Ramly telah penisun mengajar, siapa yang akan menggantikannya. Ah, sudahlah siapapun yang mengajar, itu tidak akan merubah persepsiku.
Tigapuluh menit berlalu semenjak bel masuk kelas berbunyi, rupanya rasa jenuh mulai datang. Berniat mengusir rasa sepi, aku merogoh kantung celana. Namun, ah sial aku lupa ponselku berada di tas di kelas. Melihat jam belajar yang sudah berjalan 30 menit, kecil kemungkinan guru tersebut belum masuk kelas. Tapi, kebosanan ini juga membuatku kesal, mungkin aku harus mencoba mengambilnya, ku putuskan untuk masuk ke kelas dan langsung keluar lagi dengan alasan buang air kecil.
Tanpa membuang waktu lagi, aku mulai menyusiri lorong. Kelasku berada di ujung lorong, namun sebelum itu aku harus melewati kelas fanny, ya tentu saja dia pasti curiga bilaku berkeliaran di luar kelas ketika jam mengajar berlangsung, terlebih dia ketua Osis pasti akan melapor ke guru di kelasku. Akan tetapi, jika tidak mengambil resiko tersebut, aku akan lebih bosan di sini.
Aku mulai menyusuri lorong, dari jendela kelas aku melihat Fanny sedang membaca buku. Tapi, sepertinya gelagatnya aneh, karena dia menunduk ke arah loker meja padahal guru sedang menerangkan pelajaran. Ketika ku perhatikan lebih jelas, ternyata dia sedang mengetik pesan di ponselnya, entah ditujukan kepada siapa aku tak perduli. Setidaknya dengan itu, perhatiannya akan teralihkan. Tanpa membuang kesempatan, aku langsung berjalan cepat menuju kelas ku. Namun, tiba-tiba suara seseorang yang belum pernah ku dengan memanggil namaku.
"Rendi," panggilnya.
"(Menoleh mencari sumber suara),".
"Ya, pasti kamu rendi, dari kelas III B. Kok tidak ada di kelas?," ucapnya.
"Kakak, pasti petugas guru piket baru ya. Tadi saya izin ke toilet, ini baru Mau masuk lagi," jawabku.
"Izin ke siapa kamu?," tandasnya.
"Ya ke guru di kelas saya kak," sahutku.
"Oh begitu, saya harap tadi kamu betul ke toilet ya," katanya.
"Loh memang kenapa bu, izin ke toilet gak harus bilang ke guru piket," tuturku.
"Ya karena saya tidak mau menghukum murid, membersihkan seluruh toilet di hari pertama saya mengajar di sini. Karena dia bolos dan membuat alasan jelek seperi itu," tegasnya.
"Oh, maaf saya kira ibu guru piket, ternyata guru kelas. Memang mengajar di kelas mana bu?," tanyaku.
"Kelas kamu !," sentaknya.
Aku hanya bisa terdiam, karena tidak percaya bahwa kakak-kakak yang sepertinya baru lulus kuliah tersebut, merupakan guru matematikaku yang baru. Setelah kejadian itu akhu harus kembali melapor ke ruangannya, untuk membuat pernyataan. Sebelumnya, aku sudah pernah membuat pernyataan seperti ini dengan Pak Ramly, dari peringatan satu, dua. Tapi, anehnya selalu balik lagi menjadi surat pernyataan ke I. ya mungkin itu faktor umur Pak Ramly sepertinya dia lupa.
"Oi, ren udah kenalan lu sama guru baru ? Haha," ejek Indra kepadaku.
"Savage yak teman kita yang satu ini, di first blood. Haha," timbal Biru.
"Sumpah gue gak tau itu guru matematila yang baru. Tau-tau dari ruang koridor dia manggil nama gue," sahutku.
"Tanda-tanda tertindas lagi lu kayanya ren," ucap Biru.
"Eh, tapi dibanding Pak Ramly, seengganya yang ini jauh mendingan. Lebih enak diomelin cewek cantik, dari pada sama aki-aki. Ibaratnnya tuh, enakan nangis di BMW dari pada nangis di bajaj hahaha," cetus Indra.
"Dabest dah lu berdua. Emang siapa itu guru namanya?," balik tanyaku.
"Namanya Bu Susan, doi baru lulus SI. Pantes masih seger gitu," jawab Indra.
"Uuuhh, Ren lu nyesel gak masuk matematika sekarang. Hawa tanah seolah jadi wangi semerbak parfum impor. Hahah," tandas Biru.
"Rambut panjang diurai, matanya yg cokelat masih keliatan biar kata kehalangan kacamatanya, badannya yang kaya gitar Gibson Jhon Lennon. Damn !, gue rela matematika jadi 10 jam kalo gini, hahaha," ungkap Biru.
"Lu semua abis nonton b*kep Theacer in law?," sahutku sekenanya.
Akhirnya aku tahu bahwa guru tadi bernama Susan, mungkin ia guru yang dimaksud Pak Ramly beberapa waktu lalu. Lelah pagi-pagi sudah mendapatkan masalah, aku lebih baik memenuhi panggilan guru baru tersebut.
Karena aku tidak tahu ruangannya yang mana, aku memutuskan untuk mengecek satu-satu bilik kerja di ruang guru. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bokong Bu Susan sedang menungging, sepertinya dia sedang mencari sesuatu di kolong meja kerjanya.
"Anu, permisi Bu Susan," sapaku.
"(Dug !!). Aw, rendi ya. Duh maaf flasdisk ibu jatuh. Sepertinya ke kolong meja," jawabnya sambil perlahan-lahan bangun.
"Oh iya bu..hmm kira kira ada apa ya saya dipanggil?," tanyaku.
"Soal itu, bukannya sudah jelas kalau kamu bolos masuk kelas matematika,"..
"Anu, kan tadi saya sudah jelaskan, kalau saya izin dari toilet,"
"Orang macam apa kamu yang mengbiskan waktnya hingga 30 menit di toilet,"
"Itu..yaa karna itu bu,"
"Iya karna itu kamu saya panggil. Saya sudah periksa berkas nilai kamu, ternyata sepertinya kamu punya phobia matematika ya. Haha,"
"Anu itu karna,"
"Kamu anu anu mulu, kenapa anu kamu,"
"Bukan !!, ya karna saya memang gak suka aja pelajaran itu,"
"Hmmm, saya paham soalnya dulu juga ibu gak suka matematika. Tapi, sebagai guru ibu punya cara bagaimana supaya kamu bisa suka matematika,"
"Ya?,"
"Ini, kamu baca coba," menyodorkan selembar kertas.
Akhirnya, ucapan susumbar dan ketakutanku menjadi kenyataan. Akhirnya surat peringatan ke III karena ulah ku membolos dalam jam belajar muncul. Dimana isinya, sebuah pernyataan bahwa aku akan dikenakan sanksi skorsing selama waktu yang ditentukan, jika kedapatan membolos pelajaran matematika lagi.
"Yuppss, silahkan ditanda tangan, ini bolpaintnya. Tanda tangan dan cantumkan namamu ya," ucap Bu Susan.
"Bu ini harus?," tanyaku.
"Kamu mau diskors sekarang?," jawabnya sambil memberikan senyum.
"Baik bu, ini sudah," dengan terpaksa aku menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Nah, jika begini kamu dan saya sudah punya kontrak. Dengan ini juga saya bisa mengenal murid-murid saya, kan gak kenal tak sayang. Biar sayang, makannya kenalan. Karena kamu bolos di jam pertama dan melewatkan sesi perkenalan tadi, saya pikir ini cocok untuk kamu, hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Ya bu, terimakasih. Nama saya Rendi Permata dari kelas III B, mohon bantuannya," sahutku.
"Loh, .. Haha. Baik saya Susan, kamu bisa panggil saya Bu susan, atau Miss Susan. Ya, walau saya bukan guri bahasa inggris. Tapi panggilan bu sepertinya terlalu tua," ungkapnya.
"Ya bu,"
"Baiklah, silahkan kembali ke kelas kamu. Terimakasih atas pengenalannya, lusa jangan ke wc lagi ya," tandasnya.
Bel pulang sekolahpun berbunyi, akhirnya jam-jam menyiksa telah berakhir. Tapi, apa yang lebih menyebalkan selain hari ini. Ya, karena besok kejadian ini akan terulang lagi selamanya hingga aku lulus nanti. Namun, aku bersyukur setidaknya guru matematika yang baru, tidak memakai cincin ditangannya. Tapi, sepertinya dia lebih berbahaya, mungkin aku harus waspada.
#uuhhh, guru baru yang katanya cantik telah muncul. Bagimana ya nasib Rendi, mungkin gak ya dia rajin masuk pelajaran matematika, atau malah di skors. Tunggu lanjutannya yaaaa. Stay on TolatetooBlog ^.^ (Mika).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar