Java

JavaScript

Kamis, 13 September 2018

#PELAJARAN TAMBAHAN ITU TEROR #07


#PELAJARAN TAMBAHAN ITU TEROR 

Waktu seakan cepat berlalu walau setiap harinya terasa sama. Dua bulan kedepan aku harus menghadapi ujian tengah semester. Ya memang tidak ada yang ku khwatirkan, tapi melihat buku nilai raport di kolom matematika ku, rasanya seperti melihat seseorang memakan nasi goreng pakai nasi putih. Dari enam semester tidak satupun dari  nilai matematikaku melebihi rerata standar nilai sekolah. Jika dalam ujian kali ini aku gagal, aku terpaksa tidak bisa mengiuti ujian kelulusan nantinya. Tidak ada ujian kelulusan, maka tidak ada universitas, tidak ada universitas tidak ada masa depan, tidak ada masa depan. Rupanya hidup itu tidak seperti di sinetron ABG, namun harus berkerja bagai kuda, tidur bagai batang kayu.

Pikiran itu terus menggangguku, bahkan sampai aku tidak nafsu makan. Bagimana aku bisa mendapatkan nilai di pelajaran yang sangat ku benci, terlebih tidak ada yang mengajariku. Jika belajar di kelas, aku duduk di baris paling belakang. Ketika guru matematika mengajar mungkin ilmunya tak sampai ke kepalaku, habis mungkin diserap empat baris anak di bangku depan. Ketika guru bilang rumus ini begitu, aku mendengar rumusnya begini dan begitulah sebaliknya.

Namun, hari itu di sekolah aku terpikir untuk meminta bantuan dua sahabatku Biru dan Indra. Ya walau mereka tidak terlalu meyakinkan, tapi apa salahnya mencoba. Toh, tuhan tidak memberikan ujian yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, kiranya aku tidak dianggap hambanya sehingga diberikan ujian matematika diluar kemampuan ku.

“Heh biji, lu berdua balik sekolah ada acara ga?,” tanya ku.

“Kalo gue sih engga, gak tau si Biru,” jawab Indra.

“Lu ada acara gak Biru?,” sahutku.

“Hmmm.. cewek gue ngajak main sih, tapi gue gak punya duit, kalo lu pinjemin gue duit baru gue ada acara deh, hahaha,” ucap Biru.

“Makannya macarin cewe yang sekelas, lu macarin cewe yang mau nangisnya di BMW. Padahal lu sekolah aja nebeng ma gue,” timbal Indra.

“Ah yang penting cinta, uuhhh love youuu Manda,” balas Biru.

“Najis, eh emang ada apan Rend, tumben banget lu nanya agenda kita?,” tanya Indra.

“Gue mau minta tolong ajarin matematika yang semester ini. Kalo gue dapat nilai amblas lagi pas ujian besok, kelar nafas gue,” jawabku.

“Lu makan apaan tadi pagi?,” jawab Indra.

“Emang kenapa?,” jawabku.

“Kita udah temenan dari kelas I sampai sekarang, gue tau track record lu soal matematika. Tapi baru kali ini gue denger lu minta ajarin begituan, gue kira lu lagi sakit,” kata Indra.

“Gigi lu gendut !, gue beneran ini. Gue minta kalian berdu ajarin gue materi yang semester ini aja bisa gak?,” kataku..

“Ya gue sih mau aja, tapi gak masksimal kan lu tau sendiri gue juga ngepas otaknya soal matematika mah. Coba aja si Biru tuh, dia sekolah main mobile legend aja masuk rangking 10 besar, berarti pinter,” sahut Indra.

“Main moba itu penghilang stres bro, jadi pas masuk kelas otak kosong,” tandas Biru.

“Iya jadi kaya orang kena hipnotis ya, hahah,” sahut Indra.

“Ranking raport hasil nyata kali, savage sama gue mah,” ucap Biru.

“Yaudah intinya mau bantuin gue gak? Kalo mau mulai pulang sekolah sekarng. Ajarin gue yak,” ucapku.

“Biasanya sih kalo pulang sekolah, kita berdua makan bakso Rend,” ucap Biru.

“Gue ngerti, iya gue beliin,” kataku.

“Pengertian banget siiiihh..uunch dabest,” tandas Biru.

Beberapa jam berlalu di ruang kelas, hilir mudik murid-murid lain mulai riuh menunggu bel pulang berbunyi. Tak sampai lima menit akhirnya bel pulangpun berbunyi, satu persatu murid lain meninggalkan kelas. Tapi tidak dengan kami bertiga yang langsung menuju perpustakaan, untuk memulai belajar tambahan yang kami bahas tadi.

Sesampainya di perpustakaan yang berada di lantai tiga sekolah, memang nampak gelap karena kurang penerangan. Ya memang jarang sekali ada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan, karena mereka lebih sibuk membaca melewati ponselnya. Jam menunjukan pukul 16.00 sore, ku lihat dari jendelapun awan gelap tanda akan turun hujan mulai berkumpul, deru angin mulai kencang, ku pikir sore ini akan hujan. Namun, tekad ku sudah bulat demi terhindar dari celaka ujian nanti.

Ternyata belajar seperti ini, tidaklah terlalu buruk. Dibandingkan mendengarkan pembelajaran satu arah di dalam kelas. Dijelaskan oleh teman rupanya sangat membantuku kala mengerti materi-materi pelajar. Ya, walau harus dibayar mahal dengan dua mangkuk bakso dan beberapa botol minuman serta cemilan untuk dua guru dadakan ku ini.

Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 18.00 petang, mungkin karena terlalu fokus belajar tadi. Kami tak sadar bahwa di luar sudah turun hujan lebat. Kami bertiga hanya bisa menunggu di ruang perpustakaan sambil mendengarkan ocehan Biru soal pacarnya. Namun, tiba-tiba perhatian kami teralihkan ketika mendengar suara derap langkah dari arah lorong. Langkah tersebut semakin mendekat, kamipun saling menatap satu sama lain, aku tahu mereka berdua juga merasakan hal yang sama denganku yaitu takut.

Namun, didalam keheningan sesat itu derap langkat tersebut menghilang, seolah hanya berjalan melewati dinding lorong ruang perpustakaan. Bukannya memecahkan suasana agar lebih tenang, Indra malah bercerita hal yang tidak ingin aku dan Biru tahu mengenai mitos hantu siswi di kamar mandi lantai tiga ini.

“Dari kaka kelas dulu, gue pernah denger katanya di sini ada siswi yang mati karna bunuh diri. Mayatnya ditemukan tepat di kamar mandi di ujung lorong ruang perpustakan ini,” ungkap Indra.

“Lu gak ada topik lain buat dibahas, mending bahas cewek si Biru lagi aja,” ucapku.

“Apa bedanya bahas setan sama bahas cewek si Biru,” sahut Indra.

“Bener juga sih,” tandasku.

Tiba-tiba kami mendengar seseorang membuka pintu salah satu kamar mandi yang berada di ujung lorong perpustakaan. Karena rasa penasaran dan takut yang bercampur aduk, kami memutuskan untuk mengemasi barang-barang, dan segera meninggalkan perpustakan. Namun, alangkah terkejutnya kami ketika tiba-tiba mendengar suara tertawa seorang wanita dari dalam toilet tersebut.

Tanpa pikir panjang kami berlarian dari ruang perpustakaan, tanpa mengiraukan satu sama lain. Berlairan melewati anak tangga, berlari melewati ruang kelas-kelas yang kosong, akhirnya kami sampai di lantai dua. Ketika berlari melewati ruang kelas ku, tanpa sengaja aku melihat teman sekelas ku Rene. Dia merupakan ketua kelas kami, ya rupanya memang cantik, berambut panjang terurai, mirip model sampho berkilau. Parasnya juga bisa dibilang diatas rerata, karena setahuku ibunya merupakan keturunan Turki.  Dari 15 siswi di kelas dia bisa dibilang rate to the top, karena kepintarannya juga tidak dipertanyakan lagi.

“Rene !,”panggilku sembari mengambil nafas.

“Eh, kalian bertiga kok masih di sini? Loh kenapa terengah-engah begitu kalian?,” tanya Rene.

“Rene ayok keluar !, di atas ada hantu !,” teriak Indra.

“Ah ngarang aja kalian, aku dari tadi sendiri di sini gak ada apa-apa tuh,” jawab Rene.

“Lu lagian ngapain samapi jam segini di sekolah?,” sahut Indra.

“Karena hari ini petugas piketnya kabur semua, jadi aku yang piket sendirian. Huah, dari pada pagi nanti, kita dimarahi guru kelas karena ruangan kotor,” ungkap Rene.

Rasa takut kami akhirnya sedikit menghilang karena bertemu Rene di kelas, akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di kelas. Sebenarnya kasihan juga melihat Rene harus menanggung tanggung jawab sendiri, akhirnya karena masih banyak tugas kebersihan yang dilakukan, kami bertiga memutuskan untuk membantu rene.

Ketika sedang membersihakan kelas, tiba-tiba terdengar suara dering ponselku. Suranya samar sehingga aku tak tahu pasti menaruhnya, aku sadar bahwa ponselku tertinggal di ruang perpustakaan. 
Aku berfikir itu Fanny yang menelepon karena aku lupa mengabarinya, bahwa hari ini aku terlambat pulang.

“Jangan bilang itu handpone lu Rend ada di atas?,” tanya Indra.

“Sayangnya itu handphone gue Dra,” jawabku.

“Mending beli lagi aja deh Ren, gue gak mau balik ke atas,” sahut Biru.

“Ngaco aja lu, itu banyak berkas pentingnya,” ungkapku.

“Eh..eh udah kita ambil aja bareng ke sana, kalian bertiga penakut ih,” tandas Rene.

“Bukan begitu bu ketua, tapi di atas tadi beneran deh ada yang begituan,” ucap Indra.

“Begituan gimana?,” kata Rene.

“Eh, maksudnya hantu cewek bu ketua,” jawab Indra.

“Halah, makannya  nyari pacar Indra jangan jomblo, jadi imajinasi lu udah terlalu itu,” ungkap Rene.

Akhirnya kami berempat memutuskan untuk kembali ke ke lantai tiga, walau rasa takut itu datang lagi. Namun, aku lebih takut ketika pulang ke rumah melihat muka Fanny yang kesal, karena tidak mengabarinya. 

Setelah tidak lama berselang, akhirnya kami tiba di lantai tiga. Menyambut mata kami lorong dengan lampu redup serta toilet di ujungnya, membuat bulukuduk kami berdiri tak terkecuali Rene yang terus berjalan ke arah ruang perpus.

“Rene, tunggulah bareng-bareng,” ucap Indra.

“Ih kalian tuh kenapa sih,” sahut Rene.

“Yaudah bu ketua di depan sana, kalau hantunya muncul jadi ke bu ketua dulu kita bisa lari,” ucap Biru.

“Tuh, mana ada hantu itu cuma rasa takut kalian aja. Lagian anak macam kalian tumben sekali, ada di perpus, pasti habis download film porno ya pake wifi lantai III,” tutur Rene.

“Enak aja, kita lagi bantu si Rendi belajar matematika,” sahut Indra.

“Huahahah. Beneran itu Ren, pasti buat ujian semeter besok yak. Lain kali aku ikut bantu deh, tapi lain kali jangan lupa ya, tanggung jawab tugas piketnya. Biar aku gak kerjain sendiri terus bisa bantu kamu belajarnya,” ungkapnya.

Sedetik kemudian kami bertiga ingat, bahwa hari ini merupakan jadwal tugas piket kami. Serasa akupun tak enak hati ke Rene, karena ulah kami dia harus membersihkan kelas sendiri hingga sore. Akhirnya kami berada di depan pintu ruang perpustakaan. Rene membuka pintu itu tanpa khwatir ada apa di dalamnya dan berjalan masuk sembari melihat keliling.

“Tuhkan gak ada apa-apa, itu imajinasi kalian aja. Wah ada buku novel bagus, aku belum pernah membaca yang ini,” ucap Rene.

“Memang kamu sering ke sini?,” tanyaku.

“Dulu sih sering hampir setiap hari, hehe,” jawab Rene.

“Mana handphone lu Ren, ayolah cepet,” kata Indra.
Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata memang benar yang barusan menelephone itu Fanny. Betapa terkejutnya ketika aku mengangkat telepone darinya yang  ternyata sudah lebih dari sepuluh kali menghubungiku.

“Halo Fan,” ucapku.

“Heh, lu di mana?,” jawab Fanny.

“Gue masih di sekolah ini, abis belajar bareng,” ucapku.

“Iya gue tau lu di sekolah, ini gue di parkiran depan,” balas Fanny.

“Loh kok lu tau gue masih di sekolah?,” tanyaku.

“Gue liat update postingan si Amanda ceweknya temen sekelas lu, di situ ada lu sama temen lu yang satunya di perpus. Tapi kok lama banget ditambah hujan, makannya gue jemput, pasti lu gak gawa payung,” papar Fanni.

“Yaudah benat gue turun ini ambil handphone  ketinggalan di perpus,” ucapku.

“Slow aja gue berdua kok,” jawab Fanny.

“Sama siapa?,” sahutku.

“Sama si Rene ketua kelas lu,” ucapnya Fanni yang segaligus membuatku lemas.

“Yaudah Fan, gue turun tunggu ya. Cepet ko, cepet banget malah,” jawabku.

Sebenarnya ku tak berani melirik kearah Rene yang sedang membaca buku di dekat rak tersebut. Bodohnya Indra dan Biru terus menerus mencoba menggangu entah siapa itu. Aku mencoba bersikap biasa seolah tidak tahu apa yang terjadi, dan memanggil ketiganya.

“Biru, Indra, Rene ayok turun udah ketemu ni handphone gue,” ucapku.

“Oh udah, yuk turun,” ucap Rene.

Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya, namun aku melihat Biru sedang membuka aplikasi chat. Aku berfikir memberi tahunya soal “Rene” melalui pesan.  Sambil berjalan ke arah pintu, aku mengirimkan pesan kepada Biru.

“Sini cepetan, itu bukan Rene. Rene di lobby sama Fanni, kasih tau Indra jangan nggodain dia terus, gue duluan !!,” tulisku.

Merasa berdosa sekali aku melihat ekspresi Biru yang terkejut bercampur takut, ketika membaca pesan yang ku kirim. Tak lama berselang kakiku keluar pintu ruang perpustakaan, Biru menyusul ku dengan langkah jalan cepat. Indra yang ditinggal rupanya tidak menyadari apa yang terjadi, dan terus mengajak ngobrol Rene.

“Lu udah kasih tau si Indra?,” tanyaku.

“Chat ke dia pending,” jawab Biru.

“Ah si tolol itu anak,  terus gimana dia masih di dalam. Telepon sama lu Ren,” ucap Biru.

Akhirnya setelah berjalan sedikit menjauh dari ruang perpustakaan. Aku mencoba menelephone Indra yang rupanya masih asyik bercengkrama dengan entah siapa itu sebenarnya. Terdengar handponenya berdering ketika ku menghubunginya, dan dia mengangkatnya.

“Indra ! yang di depan lu bukan Rene, si Rene ada di bawah sama si Fanni. Itu setannya !!,” teriakku di ponsel.

Tak lama berselang, terdengar jeritan Indra diirini derap larinya kearah kami. Kita lari begitu cepat sehingga tak sadar sudah berada di lobby sekolah. Benar ku melihat Fanni, Rene dan penjaga sekolah sedang berada di luar pintu.

“Kenapa lu bertiga?,” tanya Fanni.

“Itu..itu.. ada Rene,” jawab Biru.

“Eh, iya ini ada aku. Kok kalian aneh begitu ada apa?,” tanya Rene.

“Bukan..bukan Rene yang ini,” balas Biru.

“Kalian aneh, memang sih tadi aku dengar ada teriak-teriak di lantai tiga pas aku selesai membersihkan ruangan kelas. Tapi, aku keburu keluar karena melihat Fanni di luar,” tutur Rene.

“Sudah..sudah jangan dibahas, anggap saja kalian kena hukuman,” kata penjaga sekolah.

‘Sumpah gue liat Rene, tadi kita jalan bareng ke perpustakaan,” ungkapku.

“Enggak mungkin, Rene di sini dari tadi sama Fanni bahas program OSIS-nya,” ucap Rene.

Akhirnya dengan hati yang masih terguncang, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan aku menceritakan semua kepada Fanni. Hanya saja dia menanggapinya seperti lawakan yang lucu tanpa ada raut serius sedikitpun.

“Ya lagian lu, kenapa harus susah payah gitu. Bilang aja ke gue kalo mau belajar matematika, nanti di rumah gue ajarin,” ucap Fanni.

“Gue kira lu sibuk,” kataku.

“Lu gak pernah nanya, dari mana lu tau gue sibuk?,” balas Fanni.

“Yaudah mulai besok ya Fan, makasih loh ini sebelumnya tapi gue masih shock aja,” ungkapku.

“Slow.. tapi serem juga ya kalo kejadian kaya tadi. Tapi, kira-kira kalo gue jadi lu, hantunya bakal muncul nyerupai siapa ya, hahah,” goda Fanni.

“Berisk,” tandasku.


Keesokan harinya setelah kejadian itu, Indra tidak masuk sekolah karena izin kurang enak badan. Kupikir sepulang sekolah aku dan Biru akan menjenguknya. Semoga saja dia tidak apa-apa, tapi walau dalam bentu hantu, Rene tetap cantik ya.


(Waaah, kali ini lumayan panjang juga ya ceritanya Rendi dan kawan-kawannya. Dia lagi usaha buat kejar nilai sampai-sampai hantu juga dilawan. Tuh, buat kalian yang nilainya masih jelek, ayo semangat kembangin lagi potensinya. Tapi, hari ini kita kenalan sama Rene si ketua kelas yang baik, haloooo Rene. ya maaf ya pengenalannya jadi sesi seram gitu, janji nanti lebih baik hhi, (Mika) ^.^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar