#PELAJARAN TAMBAHAN ITU TEROR
Waktu seakan cepat berlalu walau setiap harinya terasa sama.
Dua bulan kedepan aku harus menghadapi ujian tengah semester. Ya memang tidak
ada yang ku khwatirkan, tapi melihat buku nilai raport di kolom matematika ku,
rasanya seperti melihat seseorang memakan nasi goreng pakai nasi putih. Dari
enam semester tidak satupun dari nilai
matematikaku melebihi rerata standar nilai sekolah. Jika dalam ujian kali ini
aku gagal, aku terpaksa tidak bisa mengiuti ujian kelulusan nantinya. Tidak ada
ujian kelulusan, maka tidak ada universitas, tidak ada universitas tidak ada
masa depan, tidak ada masa depan. Rupanya hidup itu tidak seperti di sinetron
ABG, namun harus berkerja bagai kuda, tidur bagai batang kayu.
Pikiran itu terus menggangguku, bahkan sampai aku tidak
nafsu makan. Bagimana aku bisa mendapatkan nilai di pelajaran yang sangat ku
benci, terlebih tidak ada yang mengajariku. Jika belajar di kelas, aku duduk di
baris paling belakang. Ketika guru matematika mengajar mungkin ilmunya tak
sampai ke kepalaku, habis mungkin diserap empat baris anak di bangku depan.
Ketika guru bilang rumus ini begitu, aku mendengar rumusnya begini dan begitulah
sebaliknya.
Namun, hari itu di sekolah aku terpikir untuk meminta
bantuan dua sahabatku Biru dan Indra. Ya walau mereka tidak terlalu meyakinkan,
tapi apa salahnya mencoba. Toh, tuhan tidak memberikan ujian yang melampaui
kemampuan hambanya. Namun, kiranya aku tidak dianggap hambanya sehingga
diberikan ujian matematika diluar kemampuan ku.
“Heh biji, lu berdua balik sekolah ada acara ga?,” tanya ku.
“Kalo gue sih engga, gak tau si Biru,” jawab Indra.
“Lu ada acara gak Biru?,” sahutku.
“Hmmm.. cewek gue ngajak main sih, tapi gue gak punya duit,
kalo lu pinjemin gue duit baru gue ada acara deh, hahaha,” ucap Biru.
“Makannya macarin cewe yang sekelas, lu macarin cewe yang
mau nangisnya di BMW. Padahal lu sekolah aja nebeng ma gue,” timbal Indra.
“Ah yang penting cinta, uuhhh love youuu Manda,” balas Biru.
“Najis, eh emang ada apan Rend, tumben banget lu nanya
agenda kita?,” tanya Indra.
“Gue mau minta tolong ajarin matematika yang semester ini.
Kalo gue dapat nilai amblas lagi pas ujian besok, kelar nafas gue,” jawabku.
“Lu makan apaan tadi pagi?,” jawab Indra.
“Emang kenapa?,” jawabku.
“Kita udah temenan dari kelas I sampai sekarang, gue tau
track record lu soal matematika. Tapi baru kali ini gue denger lu minta ajarin
begituan, gue kira lu lagi sakit,” kata Indra.
“Gigi lu gendut !, gue beneran ini. Gue minta kalian berdu
ajarin gue materi yang semester ini aja bisa gak?,” kataku..
“Ya gue sih mau aja, tapi gak masksimal kan lu tau sendiri
gue juga ngepas otaknya soal matematika mah. Coba aja si Biru tuh, dia sekolah
main mobile legend aja masuk rangking 10 besar, berarti pinter,” sahut Indra.
“Main moba itu penghilang stres bro, jadi pas masuk kelas
otak kosong,” tandas Biru.
“Iya jadi kaya orang kena hipnotis ya, hahah,” sahut Indra.
“Ranking raport hasil nyata kali, savage sama gue mah,” ucap
Biru.
“Yaudah intinya mau bantuin gue gak? Kalo mau mulai pulang
sekolah sekarng. Ajarin gue yak,” ucapku.
“Biasanya sih kalo pulang sekolah, kita berdua makan bakso
Rend,” ucap Biru.
“Gue ngerti, iya gue beliin,” kataku.
“Pengertian banget siiiihh..uunch dabest,” tandas Biru.
Beberapa jam berlalu di ruang kelas, hilir mudik murid-murid
lain mulai riuh menunggu bel pulang berbunyi. Tak sampai lima menit akhirnya
bel pulangpun berbunyi, satu persatu murid lain meninggalkan kelas. Tapi tidak
dengan kami bertiga yang langsung menuju perpustakaan, untuk memulai belajar
tambahan yang kami bahas tadi.
Sesampainya di perpustakaan yang berada di lantai tiga
sekolah, memang nampak gelap karena kurang penerangan. Ya memang jarang sekali
ada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan, karena mereka lebih sibuk membaca
melewati ponselnya. Jam menunjukan pukul 16.00 sore, ku lihat dari jendelapun
awan gelap tanda akan turun hujan mulai berkumpul, deru angin mulai kencang, ku
pikir sore ini akan hujan. Namun, tekad ku sudah bulat demi terhindar dari
celaka ujian nanti.
Ternyata belajar seperti ini, tidaklah terlalu buruk.
Dibandingkan mendengarkan pembelajaran satu arah di dalam kelas. Dijelaskan
oleh teman rupanya sangat membantuku kala mengerti materi-materi pelajar. Ya,
walau harus dibayar mahal dengan dua mangkuk bakso dan beberapa botol minuman
serta cemilan untuk dua guru dadakan ku ini.
Tak terasa waktu sudah menujukan pukul 18.00 petang, mungkin
karena terlalu fokus belajar tadi. Kami tak sadar bahwa di luar sudah turun
hujan lebat. Kami bertiga hanya bisa menunggu di ruang perpustakaan sambil
mendengarkan ocehan Biru soal pacarnya. Namun, tiba-tiba perhatian kami
teralihkan ketika mendengar suara derap langkah dari arah lorong. Langkah
tersebut semakin mendekat, kamipun saling menatap satu sama lain, aku tahu
mereka berdua juga merasakan hal yang sama denganku yaitu takut.
Namun, didalam keheningan sesat itu derap langkat tersebut
menghilang, seolah hanya berjalan melewati dinding lorong ruang perpustakaan.
Bukannya memecahkan suasana agar lebih tenang, Indra malah bercerita hal yang
tidak ingin aku dan Biru tahu mengenai mitos hantu siswi di kamar mandi lantai
tiga ini.
“Dari kaka kelas dulu, gue pernah denger katanya di sini ada
siswi yang mati karna bunuh diri. Mayatnya ditemukan tepat di kamar mandi di
ujung lorong ruang perpustakan ini,” ungkap Indra.
“Lu gak ada topik lain buat dibahas, mending bahas cewek si
Biru lagi aja,” ucapku.
“Apa bedanya bahas setan sama bahas cewek si Biru,” sahut
Indra.
“Bener juga sih,” tandasku.
Tiba-tiba kami mendengar seseorang membuka pintu salah satu
kamar mandi yang berada di ujung lorong perpustakaan. Karena rasa penasaran dan
takut yang bercampur aduk, kami memutuskan untuk mengemasi barang-barang, dan
segera meninggalkan perpustakan. Namun, alangkah terkejutnya kami ketika
tiba-tiba mendengar suara tertawa seorang wanita dari dalam toilet tersebut.
Tanpa pikir panjang kami berlarian dari ruang perpustakaan,
tanpa mengiraukan satu sama lain. Berlairan melewati anak tangga, berlari
melewati ruang kelas-kelas yang kosong, akhirnya kami sampai di lantai dua.
Ketika berlari melewati ruang kelas ku, tanpa sengaja aku melihat teman sekelas
ku Rene. Dia merupakan ketua kelas kami, ya rupanya memang cantik, berambut
panjang terurai, mirip model sampho berkilau. Parasnya juga bisa dibilang
diatas rerata, karena setahuku ibunya merupakan keturunan Turki. Dari 15 siswi di kelas dia bisa dibilang rate
to the top, karena kepintarannya juga tidak dipertanyakan lagi.
“Rene !,”panggilku sembari mengambil nafas.
“Eh, kalian bertiga kok masih di sini? Loh kenapa
terengah-engah begitu kalian?,” tanya Rene.
“Rene ayok keluar !, di atas ada hantu !,” teriak Indra.
“Ah ngarang aja kalian, aku dari tadi sendiri di sini gak
ada apa-apa tuh,” jawab Rene.
“Lu lagian ngapain samapi jam segini di sekolah?,” sahut
Indra.
“Karena hari ini petugas piketnya kabur semua, jadi aku yang
piket sendirian. Huah, dari pada pagi nanti, kita dimarahi guru kelas karena
ruangan kotor,” ungkap Rene.
Rasa takut kami akhirnya sedikit menghilang karena bertemu
Rene di kelas, akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di kelas. Sebenarnya
kasihan juga melihat Rene harus menanggung tanggung jawab sendiri, akhirnya
karena masih banyak tugas kebersihan yang dilakukan, kami bertiga memutuskan
untuk membantu rene.
Ketika sedang membersihakan kelas, tiba-tiba terdengar suara
dering ponselku. Suranya samar sehingga aku tak tahu pasti menaruhnya, aku
sadar bahwa ponselku tertinggal di ruang perpustakaan.
Aku berfikir itu Fanny
yang menelepon karena aku lupa mengabarinya, bahwa hari ini aku terlambat
pulang.
“Jangan bilang itu handpone lu Rend ada di atas?,” tanya
Indra.
“Sayangnya itu handphone gue Dra,” jawabku.
“Mending beli lagi aja deh Ren, gue gak mau balik ke atas,”
sahut Biru.
“Ngaco aja lu, itu banyak berkas pentingnya,” ungkapku.
“Eh..eh udah kita ambil aja bareng ke sana, kalian bertiga
penakut ih,” tandas Rene.
“Bukan begitu bu ketua, tapi di atas tadi beneran deh ada
yang begituan,” ucap Indra.
“Begituan gimana?,” kata Rene.
“Eh, maksudnya hantu cewek bu ketua,” jawab Indra.
“Halah, makannya nyari
pacar Indra jangan jomblo, jadi imajinasi lu udah terlalu itu,” ungkap Rene.
Akhirnya kami berempat memutuskan untuk kembali ke ke lantai
tiga, walau rasa takut itu datang lagi. Namun, aku lebih takut ketika pulang ke
rumah melihat muka Fanny yang kesal, karena tidak mengabarinya.
Setelah tidak lama berselang, akhirnya kami tiba di lantai
tiga. Menyambut mata kami lorong dengan lampu redup serta toilet di ujungnya,
membuat bulukuduk kami berdiri tak terkecuali Rene yang terus berjalan ke arah
ruang perpus.
“Rene, tunggulah bareng-bareng,” ucap Indra.
“Ih kalian tuh kenapa sih,” sahut Rene.
“Yaudah bu ketua di depan sana, kalau hantunya muncul jadi
ke bu ketua dulu kita bisa lari,” ucap Biru.
“Tuh, mana ada hantu itu cuma rasa takut kalian aja. Lagian anak
macam kalian tumben sekali, ada di perpus, pasti habis download film porno ya
pake wifi lantai III,” tutur Rene.
“Enak aja, kita lagi bantu si Rendi belajar matematika,”
sahut Indra.
“Huahahah. Beneran itu Ren, pasti buat ujian semeter besok
yak. Lain kali aku ikut bantu deh, tapi lain kali jangan lupa ya, tanggung
jawab tugas piketnya. Biar aku gak kerjain sendiri terus bisa bantu kamu
belajarnya,” ungkapnya.
Sedetik kemudian kami bertiga ingat, bahwa hari ini
merupakan jadwal tugas piket kami. Serasa akupun tak enak hati ke Rene, karena
ulah kami dia harus membersihkan kelas sendiri hingga sore. Akhirnya kami
berada di depan pintu ruang perpustakaan. Rene membuka pintu itu tanpa khwatir
ada apa di dalamnya dan berjalan masuk sembari melihat keliling.
“Tuhkan gak ada apa-apa, itu imajinasi kalian aja. Wah ada
buku novel bagus, aku belum pernah membaca yang ini,” ucap Rene.
“Memang kamu sering ke sini?,” tanyaku.
“Dulu sih sering hampir setiap hari, hehe,” jawab Rene.
“Mana handphone lu Ren, ayolah cepet,” kata Indra.
Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata memang benar yang
barusan menelephone itu Fanny. Betapa terkejutnya ketika aku mengangkat
telepone darinya yang ternyata sudah
lebih dari sepuluh kali menghubungiku.
“Halo Fan,” ucapku.
“Heh, lu di mana?,” jawab Fanny.
“Gue masih di sekolah ini, abis belajar bareng,” ucapku.
“Iya gue tau lu di sekolah, ini gue di parkiran depan,” balas
Fanny.
“Loh kok lu tau gue masih di sekolah?,” tanyaku.
“Gue liat update postingan si Amanda ceweknya temen sekelas
lu, di situ ada lu sama temen lu yang satunya di perpus. Tapi kok lama banget
ditambah hujan, makannya gue jemput, pasti lu gak gawa payung,” papar Fanni.
“Yaudah benat gue turun ini ambil handphone ketinggalan di perpus,” ucapku.
“Slow aja gue berdua kok,” jawab Fanny.
“Sama siapa?,” sahutku.
“Sama si Rene ketua kelas lu,” ucapnya Fanni yang segaligus
membuatku lemas.
“Yaudah Fan, gue turun tunggu ya. Cepet ko, cepet banget
malah,” jawabku.
Sebenarnya ku tak berani melirik kearah Rene yang sedang
membaca buku di dekat rak tersebut. Bodohnya Indra dan Biru terus menerus
mencoba menggangu entah siapa itu. Aku mencoba bersikap biasa seolah tidak tahu
apa yang terjadi, dan memanggil ketiganya.
“Biru, Indra, Rene ayok turun udah ketemu ni handphone gue,”
ucapku.
“Oh udah, yuk turun,” ucap Rene.
Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya, namun aku melihat Biru
sedang membuka aplikasi chat. Aku berfikir memberi tahunya soal “Rene” melalui
pesan. Sambil berjalan ke arah pintu,
aku mengirimkan pesan kepada Biru.
“Sini cepetan, itu bukan Rene. Rene di lobby sama Fanni,
kasih tau Indra jangan nggodain dia terus, gue duluan !!,” tulisku.
Merasa berdosa sekali aku melihat ekspresi Biru yang
terkejut bercampur takut, ketika membaca pesan yang ku kirim. Tak lama
berselang kakiku keluar pintu ruang perpustakaan, Biru menyusul ku dengan
langkah jalan cepat. Indra yang ditinggal rupanya tidak menyadari apa yang terjadi,
dan terus mengajak ngobrol Rene.
“Lu udah kasih tau si Indra?,” tanyaku.
“Chat ke dia pending,” jawab Biru.
“Ah si tolol itu anak,
terus gimana dia masih di dalam. Telepon sama lu Ren,” ucap Biru.
Akhirnya setelah berjalan sedikit menjauh dari ruang
perpustakaan. Aku mencoba menelephone Indra yang rupanya masih asyik
bercengkrama dengan entah siapa itu sebenarnya. Terdengar handponenya berdering
ketika ku menghubunginya, dan dia mengangkatnya.
“Indra ! yang di depan lu bukan Rene, si Rene ada di bawah
sama si Fanni. Itu setannya !!,” teriakku di ponsel.
Tak lama berselang, terdengar jeritan Indra diirini derap
larinya kearah kami. Kita lari begitu cepat sehingga tak sadar sudah berada di
lobby sekolah. Benar ku melihat Fanni, Rene dan penjaga sekolah sedang berada
di luar pintu.
“Kenapa lu bertiga?,” tanya Fanni.
“Itu..itu.. ada Rene,” jawab Biru.
“Eh, iya ini ada aku. Kok kalian aneh begitu ada apa?,”
tanya Rene.
“Bukan..bukan Rene yang ini,” balas Biru.
“Kalian aneh, memang sih tadi aku dengar ada teriak-teriak
di lantai tiga pas aku selesai membersihkan ruangan kelas. Tapi, aku keburu
keluar karena melihat Fanni di luar,” tutur Rene.
“Sudah..sudah jangan dibahas, anggap saja kalian kena
hukuman,” kata penjaga sekolah.
‘Sumpah gue liat Rene, tadi kita jalan bareng ke
perpustakaan,” ungkapku.
“Enggak mungkin, Rene di sini dari tadi sama Fanni bahas
program OSIS-nya,” ucap Rene.
Akhirnya dengan hati yang masih terguncang, kami semua
pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan aku menceritakan semua
kepada Fanni. Hanya saja dia menanggapinya seperti lawakan yang lucu tanpa ada
raut serius sedikitpun.
“Ya lagian lu, kenapa harus susah payah gitu. Bilang aja ke gue
kalo mau belajar matematika, nanti di rumah gue ajarin,” ucap Fanni.
“Gue kira lu sibuk,” kataku.
“Lu gak pernah nanya, dari mana lu tau gue sibuk?,” balas
Fanni.
“Yaudah mulai besok ya Fan, makasih loh ini sebelumnya tapi
gue masih shock aja,” ungkapku.
“Slow.. tapi serem juga ya kalo kejadian kaya tadi. Tapi,
kira-kira kalo gue jadi lu, hantunya bakal muncul nyerupai siapa ya, hahah,”
goda Fanni.
“Berisk,” tandasku.
Keesokan harinya setelah kejadian itu, Indra tidak masuk
sekolah karena izin kurang enak badan. Kupikir sepulang sekolah aku dan Biru
akan menjenguknya. Semoga saja dia tidak apa-apa, tapi walau dalam bentu hantu,
Rene tetap cantik ya.
(Waaah, kali ini lumayan panjang juga ya ceritanya Rendi dan kawan-kawannya. Dia lagi usaha buat kejar nilai sampai-sampai hantu juga dilawan. Tuh, buat kalian yang nilainya masih jelek, ayo semangat kembangin lagi potensinya. Tapi, hari ini kita kenalan sama Rene si ketua kelas yang baik, haloooo Rene. ya maaf ya pengenalannya jadi sesi seram gitu, janji nanti lebih baik hhi, (Mika) ^.^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar