Java

JavaScript

Kamis, 06 September 2018

#HUJAN !! AYO KITA LARI !! #06


#HUJAN !! AYO KITA LARI !! #06

Setelah melewati lima hari yang melelahkan, ditambah bertemu guru  matematika baru yang aneh kemarin. Rasanya butuh waktu untukku mencari udara segar, mungkin sedikit berjalan-jalan di tengah kota akan menyenangkan pikiranku.

Sabtu pagi itu, aku sudah memutuskan untuk menghabiskan waktuku, paling tidak melihat suasana baru ya walau hingga bangun tidur aku belum tahu akan kemana, dengan siapa, ataupun mau apa. Namun, teringat sesuatu ketika hendak ke kamar mandi, aku melihat tumpukan sepatu ku yang kondisinya sudah tidak karuan. Dari enam pasang sepatu  yang ku punya, mungkin hanya setengahnya yang bisa dikatakan layak pakai, sisanya mungkin lebih tepat dikatakan dipaksa dipakai. Terpikir seperti itu, aku memutuskan hari ini akan mencari sepatu, dan sepertinya orangtuaku juga sudah mengirimkan uang untuk bulan ini.

Selesai mandi dan melamunkan masa depanku di wc tadi. Aku teringat akan Fanny yang dari pagi belum keluar kamarnya, padahal ku mengira iya memiliki rencana akhir pekan ini. Terlebih, Minggu lalu dia membeli pakaian baru. Betapa terkejutnya ketika membuka pintu kamar mandi, aku melihat dirinya sedang berdiri tepat di depanku.

“Lama banget mandi kaya gadis,” ucap Fanny.

“Laki-laki butuh waktu lebih di WC,” sahutku.

“Hari Sabtu mandi pagi, pake baju bagus, padahal ujungnya main HP di kamar doang aja ya,” ledeknya.

“Kata siapa, hari ini gue mau mau pergi kayanya,” timbalku.

“Wih, sudah normal kah saudaraku ini,” katanya.

“Mending mandi sana deh. Mau nitip sarapan gak, gue mau beli makan di depan?,” tanyaku,

“Hmmm.. jalan, terus nawarin beliin sarapan, pasti baru dikirimin uang lu yaa. Haha,” tuturnya.

“Jadi mau apaan,?” sahutku.

“Samain aja sama lu, kan biasanya kalo lagi banyak duit lu makannya enak. Jadi gue otomatis makan enak juga hahah,” ungkapnya.

“Seni bertahan hidup ya?. Yaudah iya, pintu gue gak kunci, jadi habis mandi kalau gue belum balik, pintu kunci aja,” kataku.

“Ngapain dikunci, emang mau apa yang dicuri di rumah,” timbalnya.

“Gue heran anak kaya lu bisa jadi Ketua OSIS,” kataku.

“Karna ku berkarakter, yaudah sana nanti gue kunci pintunya. Eh, uang lu yang beliin gue baju, nanti ya digantinya, belum ada kiriman uang,” katanya.

“Santai lah, tapi bunganya 10 persen setiap hari haha,” candaku.

“Najis, pantes aja lu jomblo, rentenir dasar karma lu karma. Udah ah mau mandi gue,” tandasnya.

Entah kenapa, aku meliihat Fanny begitu ceria pagi ini. Mungkin benar dia memiliki rencana dengan seseorang, tapi setahuku dia tidak punya pacar di sekolah, tapi tidak mungkin juga kalau dia tidak punya teman dekat, ah sudahlah itu bukan urusanku.

Akhirnya aku membelikan sarapan bubur untuk sarapan kami berdua. Langkahku terhenti di depan pintu rumah, karena sudah hampir lima menit mengetuk pintu, Fanny tak kunjung membukanya. Padahal akupun buru-buru, sebelum pusat perbelanjaan di kota ramai.

“Fan, buka !,” teriaku.

“Oi, Fan !,”, teriaku lagi.

Ketika aku ingin berteriak untuk ketiga kalinya, pintu terbuka dan aku melihat fanny sudah berpakaian rapih, lengkap dengan baju yang baru dibelinya waktu itu. Dan saat itu aku sempat terpaku, karena dia terlihat berbeda.

“Sorry, tadi di kamar lagi rapih-rapih gak kedengeran,” ucap Fanny.

“Wiih, mau kemana bu cantik amat. Punya pacar lu?,”sahutku.

“Belum sih, hahah. Mana makanannya? Lu beli apaan jadinya,” tandasnya.

“Ni bubur, sama kaya yang gue beli haha,” kataku.

“Yaelaaah, udah cantik begini, awal bulan, dikasih makan bubur ayam. Sayang ini lipblam gue kena kuah bubur hahah,” candanya.

“Najis haha,” timbalku.

Setelah itu kami beranjak ke ruang tengah, untuk menyantap sarapan. Tapi, sekilas aku penasaran dengan siapa Fanny akan pergi.  Soalnya baru kali ini aku melihatnya berpenampilan seperti itu.

“Lu mau kemana Fan? Rapih banget,” tanyaku.

“Eh, hmmm.. mau main aja, kenapa? Tapi gak bisa ngajak lu hari ini gue, maaf yaa,” ungkapnya.

“PD tingkat thanos amat lu, lagian siapa yang mau ikut. Gue nanya doang,” sahutku.

“Hmm, temen gue ada yang ulang tahun, gue mau buat kejutan hehe,” ungkapnya.

“Weh, dimana?,” tanyaku.

“Dia kerja di toko kue mahal ala-ala gitu, gue mau kasih kejutan ke dia di tempat kerjanya hehe,” jawabnya.

“Cowok?,” sahutku.

“Hehe..iya, tapi tolong jangan bilang ke siapa-siapa gue malu,” katanya.

“Suka yang tua lu yak, hahah,” candaku.

“Ih bukan gitu juga, ya adalah alasan lain. Pokoknya jangan bilang siapapun. Kalo sampai ada yang tau, gue pastiin di sekolah lu bakal ikut kelas pembinaan pas liburan akhir semester nanti,” ancamnya.

“Ampun bos, janji..iya,iya santai aja atuh,” tandasku.

Akhirnya setelah sarapan, kami berduapun pergi ke tempat tujuan masing-masing. Walau aku tahu bahwa dia akan pergi dengan laki-laki, namun rasa penasaranku tetap ada. Akau bertanya dimana, bagaimana, dan siapa laki-laki itu. Tapi, aku percaya Fanny tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, apalagi dia mengancamku seperti itu.

Waktu berlalu cepat ketika kita merasa senang, walau berpergian sendiri aku tetap merasa senang. Setelah sedikit lama mencari di beberapa outlate sepatu di kota, akhirnya aku menemukan sepatu yang ku suka. Walau harganya lumayan mahal, namun sepadan dengan rasa puas karna memilikinya. Lelah beputar-putar, aku memutuskan untuk mencari makan siang, dan kebetulan ku dengan di sekitar sini ada restoran seafood baru yang tengah naik daun, walau sebenarnya aku memiliki alergi makan hewan laut. Tapi ku pikir tak apalah sesekali memaksakan, demi kepuasan sendiri.

Ku lihat jam menunjukan pukul empat sore, rupanya langit mulai mendung dan tiupan angin memang kencang, aku berani taruhan sedikit lagi akan turun hujan. Tak lama setelah ku selesai makan, benar saja hujan deraspun datang, dan membuatku terjebak di restoran seafood ini. Sembari bermain ponselku, terlintas terpikir soal keadaan Fanny yang entah sedang apa, dan dimana saat ini. Karena hujan deras, aku khawatir tidak bisa pulang sebelum malam. Maka dari itu aku putuskan untuk mengabari Fanny, untuk memastikan kapan ia akan pulang.

Aku mengirim message chat kepadanya, menanyakan dimana dia sekarang. Namun, lama tak ada balasan apapun darinya. Setelah ku menunggu cukup lama, ku putuskan untuk meneleponnya secara langsung, dan ternyata dia mengangkatnya.

“Halo Fann,” kataku.

“Ya Ren,” sahutnya di ujung telepon.

“Lu dimana, tadi gue chat lama banget balesnya. Gue lagi di tempat makan, hujan deras banget, kayanya gue balik agak malam deh,” paparku.

“Oh, iya gapapa ko, di sini juga hujan,” balasnya.

“Emang lu di mana ini? Gimana kejutannya lancar gak? Asik deh punya pacar haha,” candaku.

“Ya lancar kok, makasih ya udah repotin lu gara-gara ini,” ungkapnya.

Sekilas aku merasa ada yang aneh dengan Fanny, dari jawabannya dan nada biacaranya dia seperti tidak bersemangat dan bergetar.

“Slow, tapi ini lu di mana? Mau pulang jam berapa?,” kataku.

“Ini gue udah di jalan pulang, tapi lagi neduh di depan toko deket rumah,” jawabnya.

“Eh kok udah balik, gue kira lu masih sama acara lu,” kataku.

“Udah beres kok dari tadi, yaudah nanti kalo gue dah di rumah dikabari ya,” tutupnya yang sekaligus mengakhiri pembicaraan kami di telepon.

Aku yakin sesuatu yang salah sedang dirasakan Fanny, berani bertaruh ada sebabnya dari acaranya hari ini. Karena khawatir terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan untuk pulang kerumah dengan menggunakan taxi online.

Sepanjang jalan aku memperhatikan sekeliling jalan, mencari Fanny dan benar saja tepat tak jauh dari gerbang perumahan kami. Aku melihatnya tengah berdiri sendiri di depan toko dengan raut muka yang tak karuan. Seketika aku langsung menyuruh supir taxi untuk berhenti, dan lari menghampiri Fanny di sebarang jalan.

“Loh, Ren kok udah pulang katanya balik malem?,” tanya Fanny.

“Iya hujannya kayanya lama, makannya pake taxi online tadi. Lu dari tadi di sini?,” jawabku.

“Iya, hehe,” sahutnya.

“Lu kenapa, ada yang salah ? kok aneh gitu,” tanyaku.

Seketika Fanny menundukan kepalanya, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pada saat itu aku tahu, telah terjadi sesuatu padanya hingga dia seperti ini.

“Lu kenapa Fan, lu diapain sama siapa?,” tanyaku tapi Fanny hanya terus diam, dan menutupi wajahnya.

“Fan, yaudah yuk pulang gue pesenin taxi online lagi ya kita pulang, lagian celana lu basah nanti demam,” ajaku.

Ajakanku rupanya tidak menggerakan Fanny, ia terus menutupi wajahnya. Walau aku tahu pasti ada sangkut pautnya dengan laki-laki yang diceritakannya, aku coba untuk tidak membahasnya. Namun tiba tiba ia membuka lengannya, dan menunjukan raut wajahnya yang sedang menangis.

“Maaf ngerepotin lu lagi,” ucapnya.

“Enggak ko, ayo pulang gue udah pesen taxinya,” jawabku.

“Masih hujan, lu duluan aja gue di sini dulu,” katanya.

“Hei, Fan gue gak tau apa masalah lu. Tapi, lu yang sekarang bukan kaya Fanny yang gue tau,” ucapku.

“Maaf mengerepotin, tapi beneran gue gapapa Cuma mau sendiri dulu,” balasnya.

Karena tak tega dengan keadaannya saat ini, aku menarik tangannya dan keluar dari area toko ke guyuran hujan.

“Rendi, ngapain sih hujan !,” sentaknya.

“Ayo pulang, hujan cuma air gak lebih,” jawabku, namun Fanny menarik lenganku untuk menghdariku dari kucuran hujan.

“Heh, Fan kapan terakhir kali lu ujan-ujanan?,” tanyaku.

“Mau ngapain lu?,” jawabnya.

“Kita lomba lari sampai rumah, yang kalah buatin makanan malam ini,” tantangku.

Fanny hanya terdiam, dan aku melihat dia memakai sepatu yang memiliki hak. Tentu aku tahu dia tidak biasa memakai model seperti itu, karena biasa memakan sepatu kets.  Untuk menghiburnya, aku mengeluarkan sepatu yang aku baru beli tadi, dan menyuruhnya untuk memakainya.

“Ni pake buru, gue tau cewek bar-bar kaya lu gak bisa pake sepatu cewek normal kaya gitu,” ucapku.

“(Menggelengkan kepala),” gerak Fanni.

Kesal lantaran ia tidak berubah sikap, aku menarik kakinya dan melepaskan sepatu hitam berhak itu secara paksa, sambil memasangkan sepatu baruku ke kakinya.

“Rendi, apa-apan sih gue gak mau !,” bentaknya.

“Diem aja lu, kita mau lomba lari ke rumah,” sahutku.

Setelah berhasil memasangkan sepatu di kakinya, aku menariknya ke guyuran hujan dan berkata.

“Apapun yang terjadi ke lu, lu harus jadi Fanny yang biasanya di depan gue,” tegasku.

Akhirnya aku menariknya sambil berlari, dan sekitar 20 meter berlari Fanny narik tanganku dan melihatku dengan wajah yang tak nampak karuan, sangat berbeda dengan tadi pagi yang seoal ceria dan bersemangat. Namun, betapa terkejutnya ketika dia tiba-tiba berteriak.

“Fucking Liar !!,” teriaknya dan langsung berlari meningkalkanku.

Tak sampai beberapa langkah di depanku dia menoleh kepadaku, sambil berteriak.

“Gue mau makan nasigoreng seafood malam ini, lu kalah balapan lari. Lu bikini gue gak mau tau !,” teriaknya sambil terus berlari.

Aku terasa aneh, namun senang karena aku tahu Fanny mulai merasa baik, karena yang barusan itu memang dirinya. Sesampainya di rumah, Fanny langsung masuk kamar dan tidak keluar, aku tidak berani masuk atau mengganggunya, jadi aku biarkan dia sendiri di kamarnya, dan menunggu dia keluar sambil membuatkan nasi goreng karena kalah balap lari tadi. Namun, aku terkejut ketika ponselku berbunyi karena seseorang menelponku dengan nomer yang tak di kenal.

“Halo mas, saya sudah di lokasi dari 5 menit yang lalu. Mas di mana ya?,”

Astaga, aku lupa membatalkan pesanan taxi online yang ku pesan ketika di toko berteduh tadi. Rasa malu tak terhindarkan lagi, karena hal itu namun aku segera meminta maaf kepada pengemudi tersebut, dan memberinya tip dari saldo akunku. Namun, itu tidak sepadan dengan apa yang telah aku dan Fanny lewati tadi. Akan tetapi, aku harus menerima bahwa sepatu baruku tidak bisa dipakai besok, karena basah dan kotor sehabis dipakai Fanny berlarian tadi.




(Huaaaahh, maafkan baru ada update kembali, karena sibuk dengan pekerjaan serta skripshit. Tapi, boleh juga yaa ide Rendi. Kira-kira kalau kalian diajak lari hujan hujan mau gak yaaaa? Tapi jangan lupa bintang lima ya kaka,hihi (mika) ^.^)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar