#HUJAN !! AYO KITA LARI !! #06
Setelah melewati lima hari
yang melelahkan, ditambah bertemu guru matematika baru yang aneh kemarin. Rasanya butuh
waktu untukku mencari udara segar, mungkin sedikit berjalan-jalan di tengah
kota akan menyenangkan pikiranku.
Sabtu pagi itu, aku sudah
memutuskan untuk menghabiskan waktuku, paling tidak melihat suasana baru ya
walau hingga bangun tidur aku belum tahu akan kemana, dengan siapa, ataupun mau
apa. Namun, teringat sesuatu ketika hendak ke kamar mandi, aku melihat tumpukan
sepatu ku yang kondisinya sudah tidak karuan. Dari enam pasang sepatu yang ku punya, mungkin hanya setengahnya yang
bisa dikatakan layak pakai, sisanya mungkin lebih tepat dikatakan dipaksa
dipakai. Terpikir seperti itu, aku memutuskan hari ini akan mencari sepatu, dan
sepertinya orangtuaku juga sudah mengirimkan uang untuk bulan ini.
Selesai mandi dan
melamunkan masa depanku di wc tadi. Aku teringat akan Fanny yang dari pagi
belum keluar kamarnya, padahal ku mengira iya memiliki rencana akhir pekan ini.
Terlebih, Minggu lalu dia membeli pakaian baru. Betapa terkejutnya ketika
membuka pintu kamar mandi, aku melihat dirinya sedang berdiri tepat di depanku.
“Lama banget mandi kaya
gadis,” ucap Fanny.
“Laki-laki butuh waktu
lebih di WC,” sahutku.
“Hari Sabtu mandi pagi,
pake baju bagus, padahal ujungnya main HP di kamar doang aja ya,” ledeknya.
“Kata siapa, hari ini gue
mau mau pergi kayanya,” timbalku.
“Wih, sudah normal kah
saudaraku ini,” katanya.
“Mending mandi sana deh.
Mau nitip sarapan gak, gue mau beli makan di depan?,” tanyaku,
“Hmmm.. jalan, terus
nawarin beliin sarapan, pasti baru dikirimin uang lu yaa. Haha,” tuturnya.
“Jadi mau apaan,?”
sahutku.
“Samain aja sama lu, kan
biasanya kalo lagi banyak duit lu makannya enak. Jadi gue otomatis makan enak
juga hahah,” ungkapnya.
“Seni bertahan hidup ya?.
Yaudah iya, pintu gue gak kunci, jadi habis mandi kalau gue belum balik, pintu
kunci aja,” kataku.
“Ngapain dikunci, emang
mau apa yang dicuri di rumah,” timbalnya.
“Gue heran anak kaya lu
bisa jadi Ketua OSIS,” kataku.
“Karna ku berkarakter,
yaudah sana nanti gue kunci pintunya. Eh, uang lu yang beliin gue baju, nanti
ya digantinya, belum ada kiriman uang,” katanya.
“Santai lah, tapi bunganya
10 persen setiap hari haha,” candaku.
“Najis, pantes aja lu
jomblo, rentenir dasar karma lu karma. Udah ah mau mandi gue,” tandasnya.
Entah kenapa, aku meliihat
Fanny begitu ceria pagi ini. Mungkin benar dia memiliki rencana dengan
seseorang, tapi setahuku dia tidak punya pacar di sekolah, tapi tidak mungkin
juga kalau dia tidak punya teman dekat, ah sudahlah itu bukan urusanku.
Akhirnya aku membelikan
sarapan bubur untuk sarapan kami berdua. Langkahku terhenti di depan pintu
rumah, karena sudah hampir lima menit mengetuk pintu, Fanny tak kunjung
membukanya. Padahal akupun buru-buru, sebelum pusat perbelanjaan di kota ramai.
“Fan, buka !,” teriaku.
“Oi, Fan !,”, teriaku
lagi.
Ketika aku ingin berteriak
untuk ketiga kalinya, pintu terbuka dan aku melihat fanny sudah berpakaian
rapih, lengkap dengan baju yang baru dibelinya waktu itu. Dan saat itu aku
sempat terpaku, karena dia terlihat berbeda.
“Sorry, tadi di kamar lagi
rapih-rapih gak kedengeran,” ucap Fanny.
“Wiih, mau kemana bu
cantik amat. Punya pacar lu?,”sahutku.
“Belum sih, hahah. Mana
makanannya? Lu beli apaan jadinya,” tandasnya.
“Ni bubur, sama kaya yang
gue beli haha,” kataku.
“Yaelaaah, udah cantik
begini, awal bulan, dikasih makan bubur ayam. Sayang ini lipblam gue kena kuah
bubur hahah,” candanya.
“Najis haha,” timbalku.
Setelah itu kami beranjak
ke ruang tengah, untuk menyantap sarapan. Tapi, sekilas aku penasaran dengan
siapa Fanny akan pergi. Soalnya baru
kali ini aku melihatnya berpenampilan seperti itu.
“Lu mau kemana Fan? Rapih
banget,” tanyaku.
“Eh, hmmm.. mau main aja,
kenapa? Tapi gak bisa ngajak lu hari ini gue, maaf yaa,” ungkapnya.
“PD tingkat thanos amat
lu, lagian siapa yang mau ikut. Gue nanya doang,” sahutku.
“Hmm, temen gue ada yang
ulang tahun, gue mau buat kejutan hehe,” ungkapnya.
“Weh, dimana?,” tanyaku.
“Dia kerja di toko kue
mahal ala-ala gitu, gue mau kasih kejutan ke dia di tempat kerjanya hehe,”
jawabnya.
“Cowok?,” sahutku.
“Hehe..iya, tapi tolong
jangan bilang ke siapa-siapa gue malu,” katanya.
“Suka yang tua lu yak,
hahah,” candaku.
“Ih bukan gitu juga, ya
adalah alasan lain. Pokoknya jangan bilang siapapun. Kalo sampai ada yang tau,
gue pastiin di sekolah lu bakal ikut kelas pembinaan pas liburan akhir semester
nanti,” ancamnya.
“Ampun bos, janji..iya,iya
santai aja atuh,” tandasku.
Akhirnya setelah sarapan,
kami berduapun pergi ke tempat tujuan masing-masing. Walau aku tahu bahwa dia
akan pergi dengan laki-laki, namun rasa penasaranku tetap ada. Akau bertanya
dimana, bagaimana, dan siapa laki-laki itu. Tapi, aku percaya Fanny tahu mana
yang terbaik untuk dirinya sendiri, apalagi dia mengancamku seperti itu.
Waktu berlalu cepat ketika
kita merasa senang, walau berpergian sendiri aku tetap merasa senang. Setelah
sedikit lama mencari di beberapa outlate sepatu di kota, akhirnya aku menemukan
sepatu yang ku suka. Walau harganya lumayan mahal, namun sepadan dengan rasa
puas karna memilikinya. Lelah beputar-putar, aku memutuskan untuk mencari makan
siang, dan kebetulan ku dengan di sekitar sini ada restoran seafood baru yang
tengah naik daun, walau sebenarnya aku memiliki alergi makan hewan laut. Tapi
ku pikir tak apalah sesekali memaksakan, demi kepuasan sendiri.
Ku lihat jam menunjukan
pukul empat sore, rupanya langit mulai mendung dan tiupan angin memang kencang,
aku berani taruhan sedikit lagi akan turun hujan. Tak lama setelah ku selesai
makan, benar saja hujan deraspun datang, dan membuatku terjebak di restoran
seafood ini. Sembari bermain ponselku, terlintas terpikir soal keadaan Fanny
yang entah sedang apa, dan dimana saat ini. Karena hujan deras, aku khawatir
tidak bisa pulang sebelum malam. Maka dari itu aku putuskan untuk mengabari
Fanny, untuk memastikan kapan ia akan pulang.
Aku mengirim message chat
kepadanya, menanyakan dimana dia sekarang. Namun, lama tak ada balasan apapun
darinya. Setelah ku menunggu cukup lama, ku putuskan untuk meneleponnya secara
langsung, dan ternyata dia mengangkatnya.
“Halo Fann,” kataku.
“Ya Ren,” sahutnya di
ujung telepon.
“Lu dimana, tadi gue chat
lama banget balesnya. Gue lagi di tempat makan, hujan deras banget, kayanya gue
balik agak malam deh,” paparku.
“Oh, iya gapapa ko, di
sini juga hujan,” balasnya.
“Emang lu di mana ini?
Gimana kejutannya lancar gak? Asik deh punya pacar haha,” candaku.
“Ya lancar kok, makasih ya
udah repotin lu gara-gara ini,” ungkapnya.
Sekilas aku merasa ada
yang aneh dengan Fanny, dari jawabannya dan nada biacaranya dia seperti tidak
bersemangat dan bergetar.
“Slow, tapi ini lu di
mana? Mau pulang jam berapa?,” kataku.
“Ini gue udah di jalan
pulang, tapi lagi neduh di depan toko deket rumah,” jawabnya.
“Eh kok udah balik, gue
kira lu masih sama acara lu,” kataku.
“Udah beres kok dari tadi,
yaudah nanti kalo gue dah di rumah dikabari ya,” tutupnya yang sekaligus
mengakhiri pembicaraan kami di telepon.
Aku yakin sesuatu yang
salah sedang dirasakan Fanny, berani bertaruh ada sebabnya dari acaranya hari
ini. Karena khawatir terjadi sesuatu kepadanya, aku memutuskan untuk pulang
kerumah dengan menggunakan taxi online.
Sepanjang jalan aku
memperhatikan sekeliling jalan, mencari Fanny dan benar saja tepat tak jauh
dari gerbang perumahan kami. Aku melihatnya tengah berdiri sendiri di depan
toko dengan raut muka yang tak karuan. Seketika aku langsung menyuruh supir
taxi untuk berhenti, dan lari menghampiri Fanny di sebarang jalan.
“Loh, Ren kok udah pulang
katanya balik malem?,” tanya Fanny.
“Iya hujannya kayanya
lama, makannya pake taxi online tadi. Lu dari tadi di sini?,” jawabku.
“Iya, hehe,” sahutnya.
“Lu kenapa, ada yang salah
? kok aneh gitu,” tanyaku.
Seketika Fanny menundukan
kepalanya, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pada saat itu aku tahu,
telah terjadi sesuatu padanya hingga dia seperti ini.
“Lu kenapa Fan, lu diapain
sama siapa?,” tanyaku tapi Fanny hanya terus diam, dan menutupi wajahnya.
“Fan, yaudah yuk pulang
gue pesenin taxi online lagi ya kita pulang, lagian celana lu basah nanti
demam,” ajaku.
Ajakanku rupanya tidak
menggerakan Fanny, ia terus menutupi wajahnya. Walau aku tahu pasti ada sangkut
pautnya dengan laki-laki yang diceritakannya, aku coba untuk tidak membahasnya.
Namun tiba tiba ia membuka lengannya, dan menunjukan raut wajahnya yang sedang
menangis.
“Maaf ngerepotin lu lagi,”
ucapnya.
“Enggak ko, ayo pulang gue
udah pesen taxinya,” jawabku.
“Masih hujan, lu duluan
aja gue di sini dulu,” katanya.
“Hei, Fan gue gak tau apa
masalah lu. Tapi, lu yang sekarang bukan kaya Fanny yang gue tau,” ucapku.
“Maaf mengerepotin, tapi
beneran gue gapapa Cuma mau sendiri dulu,” balasnya.
Karena tak tega dengan
keadaannya saat ini, aku menarik tangannya dan keluar dari area toko ke guyuran
hujan.
“Rendi, ngapain sih hujan
!,” sentaknya.
“Ayo pulang, hujan cuma
air gak lebih,” jawabku, namun Fanny menarik lenganku untuk menghdariku dari
kucuran hujan.
“Heh, Fan kapan terakhir
kali lu ujan-ujanan?,” tanyaku.
“Mau ngapain lu?,”
jawabnya.
“Kita lomba lari sampai
rumah, yang kalah buatin makanan malam ini,” tantangku.
Fanny hanya terdiam, dan
aku melihat dia memakai sepatu yang memiliki hak. Tentu aku tahu dia tidak
biasa memakai model seperti itu, karena biasa memakan sepatu kets. Untuk menghiburnya, aku mengeluarkan sepatu
yang aku baru beli tadi, dan menyuruhnya untuk memakainya.
“Ni pake buru, gue tau
cewek bar-bar kaya lu gak bisa pake sepatu cewek normal kaya gitu,” ucapku.
“(Menggelengkan kepala),” gerak
Fanni.
Kesal lantaran ia tidak
berubah sikap, aku menarik kakinya dan melepaskan sepatu hitam berhak itu
secara paksa, sambil memasangkan sepatu baruku ke kakinya.
“Rendi, apa-apan sih gue
gak mau !,” bentaknya.
“Diem aja lu, kita mau
lomba lari ke rumah,” sahutku.
Setelah berhasil
memasangkan sepatu di kakinya, aku menariknya ke guyuran hujan dan berkata.
“Apapun yang terjadi ke
lu, lu harus jadi Fanny yang biasanya di depan gue,” tegasku.
Akhirnya aku menariknya
sambil berlari, dan sekitar 20 meter berlari Fanny narik tanganku dan melihatku
dengan wajah yang tak nampak karuan, sangat berbeda dengan tadi pagi yang seoal
ceria dan bersemangat. Namun, betapa terkejutnya ketika dia tiba-tiba
berteriak.
“Fucking Liar !!,”
teriaknya dan langsung berlari meningkalkanku.
Tak sampai beberapa
langkah di depanku dia menoleh kepadaku, sambil berteriak.
“Gue mau makan nasigoreng
seafood malam ini, lu kalah balapan lari. Lu bikini gue gak mau tau !,”
teriaknya sambil terus berlari.
Aku terasa aneh, namun
senang karena aku tahu Fanny mulai merasa baik, karena yang barusan itu memang
dirinya. Sesampainya di rumah, Fanny langsung masuk kamar dan tidak keluar, aku
tidak berani masuk atau mengganggunya, jadi aku biarkan dia sendiri di
kamarnya, dan menunggu dia keluar sambil membuatkan nasi goreng karena kalah
balap lari tadi. Namun, aku terkejut ketika ponselku berbunyi karena seseorang
menelponku dengan nomer yang tak di kenal.
“Halo mas, saya sudah di
lokasi dari 5 menit yang lalu. Mas di mana ya?,”
Astaga, aku lupa
membatalkan pesanan taxi online yang ku pesan ketika di toko berteduh tadi.
Rasa malu tak terhindarkan lagi, karena hal itu namun aku segera meminta maaf
kepada pengemudi tersebut, dan memberinya tip dari saldo akunku. Namun, itu
tidak sepadan dengan apa yang telah aku dan Fanny lewati tadi. Akan tetapi, aku
harus menerima bahwa sepatu baruku tidak bisa dipakai besok, karena basah dan
kotor sehabis dipakai Fanny berlarian tadi.
(Huaaaahh, maafkan baru
ada update kembali, karena sibuk dengan pekerjaan serta skripshit. Tapi, boleh
juga yaa ide Rendi. Kira-kira kalau kalian diajak lari hujan hujan mau gak
yaaaa? Tapi jangan lupa bintang lima ya kaka,hihi (mika) ^.^)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar